ISTANA KEPRESIDENAN: Transisi Kekuasaan di Balik Tembok Istana

Bagian belakang bangunan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (18/7). (Sumber: KOMPAS/WISNU WIDIANTORO)

Oleh: ANDY RIZA HIDAYAT/SUHARTONO

Ingatan karyawan Istana Kepresidenan di Jakarta pada peristiwa pada 20 Oktober 2014 masih segar. Prosesi serah terima jabatan Presiden ke-6 kepada presiden ke-7 di Istana Merdeka berjalan lancar. Peristiwa hari Senin sore itu sampai hari ini menjadi kenangan termanis dalam sejarah pergantian kekuasaan di Istana Merdeka.

Sehari sebelumnya, pada 19 Oktober, bahkan Presiden terpilih Joko Widodo mendatangi Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta. Kedatangan Jokowi ke Istana Merdeka untuk mengikuti gladi bersih acara serah terima esok harinya.

Saat itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendampingi Jokowi melihat sejumlah ruangan di Istana Merdeka. Yudhoyono juga menunjukkan tempat rapat kabinet yang berada di Kantor Presiden. Sementara Presiden Jokowi menyimak penjelasan Yudhoyono.

Hingga keduanya bertemu kembali esok harinya. Hari itu, Jokowi datang ke istana sebagai Presiden ke-7 RI. Kedatangannya disambut dengan upacara serah terima jabatan presiden. Menjelang upacara, sebelum menuju podium Yudhoyono menggandeng tangan Jokowi meniti tangga Istana Merdeka.

Usai upacara dan dilanjutkan dengan melakukan ramah tamah dan dilanjutkan berbicara pada media. Jokowi berterima kasih atas pengabdian Yudhoyono dan berharap bisa bertemu dengannya. Sementara Yudhoyono memberikan ucapan selamat kepada Jokowi dan berharap mantan Gubernur DKI itu sukses bertugas selama lima tahun ke depan (Kompas 21/10/201).

Wajah halaman 8 dan 9 Harian Kompas, 21 Oktober 2014. Semua foto memperlihatkan proses transisi yang berjalan damai.

Situasi ini jauh berbeda saat pergantian kekuasaan dari presiden-presiden sebelumnya. Pegawai Istana Kepresidenan di Jakarta, Adek Wahyuni Saptantina masih merekam peristiwa seputar 20 Oktober 2014 itu. Menurut Adek, sepanjang karir pekerjannya di istana selama 33 tahun, dia belum pernah melihat prosesi pergantian presiden seperti tahun 2014 lalu. Acara itu sudah dipersiapkan jauh-jauh hari dengan baik.

“Pak SBY (Yudhoyono) dan Ibu Ani pun masih sempat pamitan dengan seluruh karyawan istana. Dan saat akan berangkat mengikuti pelantikan Presiden (Joko Widodo), kami berdiri melepasnya di sepanjang jalan keluar istana sambil mengucakan selamat jalan. Setelah pelantikan, Pak SBY mengantarkan Pak Jokowi mengenal karyawan Istana,” kata Adek mengenang prosesi pisah sambut itu. Tidak ada luka dan lara setelah peristiwa itu.

Pohon-pohon trembesi berukuran besar tumbuh subur di Halaman tengah Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (18/7). Pepohon ini menjadi saksi hidup tapi bisu pergantian kekuasaan di Istana. Kompas/Wisnu Widiantoro

Tak dapat dimengerti

Peristiwa 20 Oktober 2014 lalu, menurut Adek, sejauh ini belum ada bandingannya. Dia mengingat peristiwa 21 Mei 1998 pagi hari sekitar pukul 07.00-08.00. Pagi itu, Adek menjalankan tugasnya mengecek segala hal di Istana Merdeka agar siap jika dipakai untuk acara resmi. Pengecekan meliputi benda-benda seni, meja, kursi, dan sebagai perabotan istana. Namun ada hal yang menyita perhatiannya, yakni orang-orang yang bermuka tegang.

Salah satu yang dilihat Adek pagi itu adalah Yusril Ihza Mahendra yang juga Staf Khusus Sekretaris Kabinet. Menurut Adek, Yusril beberapa kali terlihat mengepalkan tangan, membentuk tinju, dan memukulkan pada tangannya sendiri bagian yang lain. Yusril seperti kecewa dengan peristiwa yang sedang dan akan berlangsung.

Wajah pemberitaan Harian Kompas, 22 Mei 1998, sehari setelah pergantian kekuasaan dari Presiden Soeharto ke Presiden BJ Habibie.

Beberapa hari sekitar tanggal 21 Mei memang hari yang menegangkan dan tidak pasti. Pimpinan menginstruksikan Adek dan karyawan istana selalu siap jika ada acara mendadak di istana.

Pada saat yang sama, di luar istana terjadi demonstrasi di banyak tempat, dan memusat di Gedung DPR/MPR di Senayan, Jakarta. Sebelum Soeharto menyatakan berhenti dari jabatan Presiden, terjadi penjarahan pusat-pusat perbelanjaan, kekerasan pada perempuan, penculikan, dan penembakan mahasiswa.

Adek baru tahu bahwa Pak Harto berhenti dari jabatannya setelah presiden pidato pada pukul 09.06 pagi itu. Tidak ada acara pisah sambut yang hangat antara Soeharto dan Habibie. Dalam buku Detik-detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (THC Mandiri, 2006), Habibie menggambarkan perisitwa itu berlangsung cepat dan lancar. “Pak Harto memberi salam kepada semua yang hadir termasuk saya. Tanpa senyum maupun sepatah kata, ia meninggalkan ruangan upacara,” kata Habibie dalam bukunya.

Momen itu merupakan momen terakhir Habibie menatap wajah Pak Harto secara langsung, hingga kemudian Pak Harto meninggal dunia pada 27 Januari 2008. Mengenai hal ini, Maftuh Basuni, mantan Kepala Rumah Tangga Kepresidenan (1996-1998) menyatakan Pak Harto memang sengaja tidak ingin bertemu Habibie. Pertimbangannya, situasi politik ketika itu dianggap tidak berdampak positif jika pertemuan dengan Habibie terjadi, seperti yang tertulis di buku Pak Harto The Untold Stories (Gramedia Pustaka Utama, 2002).

Adek tidak mengerti mengapa pemimpin harus marah-marahan seperti itu. Hal serupa terjadi pada pergantian presiden dari Megawati Sukarnoputri ke Susilo Bambang Yudhoyono. Pada pergantian kekuasaan itu, tidak ada pisah sambut yang dihadiri presiden sebelumnya dan presiden yang baru dilantik. Seperti yang diberitakan Kompas, 20 Oktober 2004, Megawati meninggalkan Istana Negara, sehari sebelumnya pukul 12.20 WIB.

Sebelum pergi, ia memimpin upacara penandatanganan Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional di ruang tengah Istana Negara, di mana acara itu hanya sekitar lima menit, dari pukul 11.14 sampai pukul 11.19. Megawati sempat bersalaman dengan pegawai istana sebelum meninggalkan istana yang diiringi lambaian pejabat istana dan wartawan. Selanjutnya diberitakan di banyak media, bahwa komunikasi antara Megawati dan Yudhoyono kurang cair.

Wisma Negara di Komplek Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (18/7). Di wisma ini Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid tiba di Kompleks Istana Kepresidenan saat menggantikan Presiden BJ Habibie 20 Oktober 1999.
Kompas/Wisnu Widiantoro.

Suasana serupa terjadi pada pergantian kekuasaan dari Presiden ke-3 Habibie ke Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid. Saat Gus Dur tiba di Istana Kepresidenan di Jakarta, Habibie tidak menyambutnya. Pada 20 Oktober 1999 siang, Gus Dur dan keluarganya tiba di halaman Wisma Negara yang terletak antara Istana Merdeka dan Istana Negara. Gus Dur mengenal kompleks istana ditemani karyawan yang sudah menunggu kedatangannya.

Walau begitu, Presiden tidak melihat itu sebagai sebuah persoalan. “Sedang Presiden tetap asyik dengan siulan tanpa suaranya sambil berjalan menuju kamar Presidential Suite. Anehnya gaya jalannya menunjukkan seolah ia sudah bertahun-tahun mengenal tempat itu,” tulis Priyo Sambadha, pegawai istana dalam bukunya Presiden Gus Dur, The Untold Stories : Kiai di Istana Rakyat (Kepustakaan Populer Gramedia, 2014).

Lain halnya saat pergantian kekuasaan dari Gus Dur ke Megawati Soekarnoputri. Kedua tokoh ini tidak ada persoalan secara pribadi, tetapi situasi politik saat itu memaksa keduanya harus “berhadap-hadapan.” Gus Dur memilih bertahan di Istana Merdeka meski pada Senin 23 Juli 2004 dilengserkan dari kursi presiden lewat Sidang Istimewa (SI) MPR. Keputusan itu merupakan langkah politik, sebab jika segera meninggalkan istana, berarti setuju dengan keputusan MPR.

Ibu Negara Shinta Nuriah diam-diam mencermati semua perkembangan di luar istana. Ibu Shinta meminta tolong karyawan istana untuk membantu mengepak barang-barang keluarga Gus Dur. Namun perintah itu tidak boleh bocor kepada Gus Dur yang secara politik menolak pindah dari istana. “Tolong dibantu packing, tetapi jangan berisik ya,” kata Shinta kepada Adek.

Berita di Harian Kompas 24 Juli 2001 tentang Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid melambaikan tangan di Istana Merdeka menghadap ke halaman luar.

Di hari yang sama, pada malam hari pukul 20.48, Presiden ke-4 RI itu keluar dari Istana Merdeka dan berdiri di ujung teras. Di sana Gus Dur melambaikan tangan kepada massa pendukungnya yang berunjuk rasa di Jalan Merdeka Utara, Jakarta. Adegan ini kemudian menjadi perbincangan banyak analis politik, sebab Gus Dur saat itu hanya mengenakan celana pendek.

Sementara sebelum peristiwa itu, sore harinya, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menggelar jumpa pers di Istana Wakil Presiden Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Kepada jurnalis, Megawati menyampaikan Kabinet Persatuan Nasional yang bertugas saat itu dalam status demisioner terhitung hari Selasa 24 Juli pukul 00.00. Para menteri tidak dibenarkan mengambil kebijakan dan keputusan yang bersifat prinsipiil sampai susunan kabinet baru terbentuk. Peristiwa politik itu memicu kerusuhan di sejumlah tempat di daerah.

Menyisakan luka

Pembawa acara yang biasa bertugas di Istana Kepresidenan Tia Maryadi menilai prosesi acara pisah sambut presiden-presiden sebelum tahun 2014 tidak hangat. Tia memandang prosesi pisah sambut presiden cenderung “garing”, tegang, dan bahkan sebagian menyisakan luka. Peristiwa-peristiwa ini mudah ditangkap oleh siapa pun, termasuk orang-orang biasa di lingkungan istana.

Salah satu luka yang tersisa adalah efek transisi kekuasaan saat pergantian Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto. Pergantian kekuasaan dua pemimpin ini diwarnai adanya korban di tubuh perwira militer pada 30 September 1965, dilanjutkan dengan rentetan kekerasan yang terjadi pada rakyat sipil, serta trauma konflik begitu dalam. Sampai sekarang, sebagian orang masih merasakan luka karena peristiwa ini.

Pergantian kekuasaan presiden pertama ke presiden kedua itu diawali pada malam 30 September 1965. Setelah mengetahui sejumlah jenderal meninggal dunia, Presiden Soekarno bingung. Kebingungan itu diceritakan Haryatie, istri Bung Karno yang merekam raut muka suaminya pada 1 Oktober di Slipi, Jakarta. “Ketika kusambut, wajah bapak tampak bingung, tidak tahu apa yang sedang terjadi,” kata Hariyatie dalam bukunya Hariyatie Soekarno, the Hidden Story : Hari-hari Bersama Bung Karno 1963-1967 (Grasindo, 2001).

Gejolak politik ini yang kemudian memicu terjadinya pergantian kekuasaan pada 20 Februari 1967. Pergantian kekuasaan ini disahkan lewat TAP XXXIII/MPRS/1967 tanggal 12 Maret 1967 yang dilanjutkan dengan pelucutan kekuasaan Bung Karno. Saat itu Bung Karno berstatus sebagai presiden non aktif, sementara Soeharto sebagai pejabat Presiden.

Berita tentang penyerahan kekuasaan dari Presiden ke-1 Soekarno ke Presiden ke-2 Soeharto di Harian Kompas yang diterbitkan pada Jumat, 24 Feb 1967.

Bung Karno, Sidarto Danusubroto merasa saat itu ada dua Presiden di Indonesia. Presiden non aktif terpaksa meninggalkan Istana Merdeka tanpa prosesi upacara yang hangat. “Tidak pernah dibayangkan sebelumnya, Bung Karno diperlakukan sebagai tahanan,” tulis Sidarto Danusubroto dalam bukunya Jalan Terjal Perubahan : Dari Ajudan Soekarno Sampai Wantimpres Joko Widodo (Kompas, 2016).

Meski ada luka pada proses transisi, namun secara umum transisi demokrasi di Istana Kepresidenan mulai mengarah pada kualitas yang lebih baik. Pandangan ini disampaikan pensiunan pegawai istana yang telah bekerja 35 tahun Djarot Sri Sulistyo. Pengalamannya bertugas menyiapkan transisi dari Presiden ke-6 ke Presiden ke-7, menyisakan optimisme. Semakin hari, semakin ada upaya untuk membuka komunikasi antara presiden terdahulu dengan presiden penggantinya.

Kini menjadi pekerjaan rumah semua pihak untuk menjaga kualitas demokrasi Indonesia. Sehingga transisi demokrasi tetap berjalan mulus, damai, dan dapat diterima rakyat. Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*