Presiden: Pahami Kebinekaan

Ilustrasi (Sumber: Inspirasi.co)

*Remaja Dirangkul untuk Memaknai Keberagaman

JAKARTA, Baranews.co – Pakaian adat Nusantara sebagai busana dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun Ke-72 RI dipilih untuk menunjukkan keberagaman bangsa Indonesia. Sepatutnya kemajemukan diterima dan dipahami seluruh rakyat Indonesia sebagai kekuatan.

Harapan itu disampaikan Presiden Joko Widodo saat berpidato dalam acara silaturahim dengan para teladan nasional dan pendukung perayaan HUT Ke-72 RI, termasuk 105 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), di Istana Negara, Jakarta, Jumat (18/8) sore.

Hadir dalam acara itu Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

Presiden mengatakan, pesan tentang keragaman bangsa itu dianggap penting untuk mengingatkan dan menyadarkan seluruh rakyat bahwa Indonesia merupakan bangsa majemuk. Sejak awal berdiri, bangsa dan negara Indonesia memiliki 714 suku dengan 1.100 bahasa lokal serta beragam adat istiadat. Kemajemukan juga terlihat dari agama yang dianut masyarakat.

Presiden mengingatkan, dengan memahami kemajemukan bangsa, masyarakat tidak lagi mempertentangkan perbedaan. Sebab, sebenarnya perbedaan suku, agama, ras, dan golongan merupakan kekuatan bangsa Indonesia. Masyarakat dengan latar belakang beragam itu semestinya bisa bersatu padu untuk membangun bangsa.

Aspek kebinekaan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dalam pidato HUT RI di Jakarta, Kamis, juga menegaskan, kebinekaan sebagai modal menghadapi tantangan zaman. Semangat kebinekaan harus terus dirawat lewat pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi.

Adapun Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir di tempat berbeda mengatakan, untuk menjadi negara bangsa yang maju dan bersaing, persatuan adalah prasyarat kunci. Namun, saat ini muncul banyak oknum yang tidak bertanggung jawab yang menyalahgunakan media sosial untuk menebar kebencian, hujatan, hasutan, informasi hoaks, serta paham radikal. “Pengetahuan dan pendidikan yang baiklah yang dapat menangkalnya,” kata Nasir.

Remaja dan intoleransi

Direktur Program Kolaborasi Lintas Kultur (Rangkul) Jessica Peng menilai, remaja sangat rentan terhadap isu intoleransi. Karena itu, pemahaman makna perbedaan perlu diajarkan sejak dini.

Perbedaan tersebut dijumpai dalam berbagai hal, seperti agama, suku, usia, status sosial, dan segala perbedaan lain yang sering kali menjadi jarak pemisah antara satu orang dan yang lainnya. Pemahaman terhadap makna di balik perbedaan itu dibutuhkan untuk mengatasi konflik akibat perbedaan. Hal tersebut coba ditanamkan dalam program kegiatan Rangkul (Kolaborasi Lintas Kultur).

“Kami ingin membawa anak muda Indonesia yang berbeda latar belakang bersama-sama memahami persaudaraan serta berkolaborasi dengan perbedaannya,” kata Jessica Peng saat publikasi proyek media digital hasil Program Rangkul di Jakarta, Jumat (18/8).

Program Rangkul diikuti 29 pelajar dari SMA Kolese Kanisius dan SMA Al-Izhar Pondok Bambu. Selama dua minggu, mereka berkolaborasi mengerjakan proyek media digital.

Mereka membuat video iklan layanan masyarakat dan foto esai bertema keberagaman. Sebelumnya, mereka dibekali pengetahuan cara memaknai perbedaan dalam kehidupan sehari-hari. (NTA/ELN/DD08)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*