Jokowi Ajak Semua Lembaga Negara dan Masyarakat Menjaga NKRI

Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama pimpinan DPR, MPR dan DPD sebelum Sidang Tahunan MPR 2017 (Sumber: VOA Indonesia/Andylala Waluyo)

Presiden Joko Widodo dalam sidang tahunan MPR 2017 mengingatkan masih ada tantangan kemiskinan dan gerakan radikalisme terorisme yang menjadi ancaman nyata Indonesia.

JAKARTA – Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI 2017 diselenggarakan Rabu (16/8) di Gedung MPR DPR DPD Jakarta. Sidang tahunan MPR juga diikuti bersama dengan dua agenda sidang lainnya, yakni sidang bersama DPR-DPD-MPR serta pidato Presiden dalam rangka penyampaian Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2018.Presiden Joko Widodo dengan mengenakan pakaian adat Sulawesi Selatan di hadapan pimpinan dan anggota MPR, DPR dan DPD menekankan pentingnya konsensus kebangsaan untuk menjaga Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Presiden dalam pidatonya juga mengungkapkan keberhasilan Pemerintah dalam penyenggaraan Pemilihan Kepala Daerah Serentak.

“Pemerintah telah menginisiasi pembentukan UKP-PIP untuk melakukan pembinaan ideologi Pancasila kepada seluruh lapisan rakyat, terutama generasi muda, penerus masa depan kita,” kata Presiden Joko Widodo dalam pidatonya. “Dalam bidang politik, kita harus menuntaskan agenda konsolidasi demokrasi sehingga semakin terlembaga. Kita bersyukur telah mampu menyelenggarakan proses demokrasi di level lokal, pilkada serentak di 101 daerah pada tahun 2017, dengan aman dan damai,” tambahnya.

Jokowi juga mengapresiasi MPR dalam bersinergi dengan Pemerintah dalam mensosialisasikan Pancasila.

“Saya menyambut baik, sikap MPR yang berketetapan untuk bersinergi dengan Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila yang saya tetapkan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2017 untuk sosialisasi dan aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Jokowi.

Jokowi menjelaskan kinerja Pemerintahannya dalam pembangunan ekonomi yang difokuskan pada pembangunan masyarakat di daerah perbatasan dan pulau terdepan.

“Kita menyadari bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia belum sepenuhnya kita bisa wujudkan. Untuk itu, di tahun ke-tiga masa bakti Kabinet Kerja ini, Pemerintah lebih fokus untuk melakukan pemerataan ekonomi yang berkeadilan,” kata Jokowi. “Kita ingin rakyat Indonesia yang berada di pinggiran, di kawasan perbatasan, di pulau-pulau terdepan, di kawasan terisolir merasakan hadirnya negara, merasakan buah pembangunan, dan merasa bangga menjadi Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Jelang akhir pidatonya Jokowi mengingatkan tantangan kemiskinan dan gerakan radikalisme terorisme yang masih menjadi ancaman nyata Indonesia.

“Kita masih dihadapkan dengan kemiskinan dan ketidakadilan; kita masih dihadapkan dengan ketidakpastian ekonomi global, dan kita juga masih dihadapkan dengan gerakan ekstremisme, radikalisme, dan terorisme,” ujar Jokowi. “Namun, dari sekian banyak tantangan itu, tantangan yang paling penting dan seharusnya menjadi prioritas bersama dari semua lembaga negara adalah mendapatkan kepercayaan yang tinggi dari rakyat.”

Sidang Tahunan MPR 2017

Sidang Tahunan MPR 2017

Menghormati Perbedaan

Sementara itu Ketua MPR Zulkifli Hasan dalam pidato menekankan pentingnya saling menghormati perbedaan pendapat sebagaimana yang dicontohkan para pendiri bangsa Indonesia.

“Saat ini kita sedang dihadapkan pada kondisi memprihatinkan. Akibat abai pada keteladanan Bapak Bangsa kita. Kita kurang empati pada sesama anak bangsa. Selalu menganggap diri paling benar,” kata Zulkifli dalam pidatonya. “Padahal para Bapak Bangsa kita sudah mencontohkan bahwa perbedaan pendapat dalam bernegara tak membuat hubungan pribadi merenggang bahkan menjauh. Saat dibalik panggung politik mereka adalah pribadi-pribadi yang agung, rendah hati dan bersahabat.”

Zulkifli menegaskan perlunya komitmen bersama semua pihak dalam mempertahankan Pancasila dan UUD 1945.

“Kita tidak boleh membiarkan Indonesia ini robek dan koyak. Kita tidak boleh membiarkan Pancasila dan UUD 1945 dicampakkan. Pancasila dan UUD 1945 adalah kesepakatan bersama,” kata Zulkifli. “Rujukan bersama dalam bernegara dan dalam ber-Indonesia. Itu tidak bisa ditawar-tawar dan sudah menjadi harga mati.”

Zulkifli dalam pidatonya juga mengapresiasi prestasi 3 tahun kepemimpinan Jokowi – Jusuf Kalla dalam kerja nyata membangun infrastruktur dari barat hingga timur Indonesia.

“Sekarang adalah masanya kerja kerja kerja, seperti yang disampaikan Presiden kita bapak Joko Widodo. Presiden telah menunjukkan dengan pembangunan infrastruktur di mana-mana. Dari Aceh hingga Papua, dari Miangas hingga pulau Rote,” kata Zulkifli. “Presiden Jokowi melakukan akselerasi pembangunan jalan, jembatan, bendungan, pelabuhan dan bandara. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan kita. Itu semua membuat interkoneksi antarkita menjadi makin mudah dan cepat. Untuk itu terimakasih kepada bapak Presiden,” lanjut Zulkifli. [aw/uh]/Andylala Waluyo/VOA Indonesia/swh

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*