PSIKOLOGI: Rasa Hormat

Sumber: Harian KOMPAS

Oleh: AGUSTINE DWIPUTRI

Maraknya berbagai peristiwa negatif yang terjadi bertahun-tahun belakangan ini, seperti kekerasan fisik dan psikis, perundungan di sekolah ataupun tempat kerja, tawuran antarkelompok, dan tindakan main hakim sendiri, menurut hemat saya bermuara dari merosotnya respek atau rasa hormat kepada sesama sebagai satu nilai kehidupan manusia yang penting.

Apabila tidak ada rasa hormat, kebebasan pribadi atau privasi orang dengan mudah akan dilanggar. Hal-hal kecil sehari-hari yang menunjukkan pelanggaran privasi di antaranya adalah tanpa izin membaca surat pribadi atau buku harian orang lain, masuk kamar tidur orang lain tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, berbicara kasar satu sama lain, menyerobot antrean, dan memperlakukan orang lain seenaknya.

Jika kita mengabaikan siapa pun atau apa pun, pasti ada yang terluka dan dampaknya sangat besar. Apabila seseorang telah terluka, pemantulan kembalinya sering kali tidak jelas dan berbahaya serta sulit dikenali. Penyelesaiannya kepada orang yang terabaikan tidak bisa hanya dengan mengatakan, “Anda telah menyakiti saya.” Jika ada sesuatu yang disalahgunakan atau tidak dihargai, hal itu menimbulkan masalah karena sikap tidak hormat telah menghilangkan kebebasan dan menghalangi jalan/ langkah seseorang.

Para orangtua, pendidik, pelatih, ataupun pihak yang terlibat dalam mengajarkan nilai-nilai dasar kehidupan perlu terus menyadarkan, memberi teladan, dan mengembangkan rasa hormat dan menghargai orang lain dalam setiap aspek kehidupan.

Pengertian dan proses

Linda Kavelin Popov (1997) mengartikan respek sebagai sikap menghormati orang dan peduli terhadap hak-hak mereka. Menampilkan respek tecermin melalui rasa hormat dalam bertindak, berbicara, dan cara memperlakukan barang milik orang lain. Berbicara dan bertindak secara hormat memberikan martabat yang pantas orang lain dapatkan. Rasa hormat didasarkan pada kesadaran bahwa setiap orang berharga karena setiap orang itu unik dan berbeda. Hal ini juga bergantung pada kerendahan hati karena dengan kerendahan hati kita paham bahwa kekurangan yang tampil pada orang lain hanya merupakan satu bagian dari keseluruhan diri mereka. Ada jauh lebih banyak kelebihan orang lain yang perlu dihargai.

Di dalam buku Living Values, a Guide Book (1995) yang dipublikasikan oleh Brahma Kumaris World Spiritual University dijelaskan bahwa respek itu dimulai dari dalam diri individu. Keadaan hormat awalnya didasarkan pada kesadaran diri sebagai suatu kesatuan yang unik, kekuatan yang hidup di dalam diri, sesuatu yang spiritual. Kesadaran yang tinggi untuk mengetahui “siapa saya” muncul dari tempat otentik yang bernilai murni. Dengan pemahaman seperti itu, ada kepercayaan dalam diri dan keutuhan serta kelengkapan di dalamnya. Melalui realisasi diri, seseorang mengalami adanya penghargaan diri yang sejati.

Kekuatan dari ketajaman rasa akan membentuk lingkungan yang penuh hormat, yakni ketika perhatian diberikan pada kualitas niat, sikap, perilaku, pikiran, kata-kata, dan tindakan. Sejauh ada kekuatan kerendahan hati dalam menghargai diri-juga ketajaman dan kearifan yang memberi keadilan kepada orang lain-akan tercapai kesuksesan dalam bentuk menghargai individualitas, mengapresiasi keberagaman, dan menyelesaikan tugas dengan penuh pertimbangan.

Keseimbangan antara kerendahan hati dan penghargaan akan diri menghasilkan pelayanan tanpa pamrih, tindakan terhormat, tanpa sikap-sikap yang melemahkan, seperti kesombongan dan pemikiran sempit. Sementara keangkuhan akan merusak atau menghancurkan keunikan orang lain dan melanggar hak-hak dasar mereka. Misalnya, kecenderungan untuk memengaruhi, mendominasi, atau membatasi kebebasan orang lain yang dilakukan dengan tujuan untuk unjuk diri ternyata telah mengorbankan nilai, martabat, dan ketenangan batin. Rasa hormat yang orisinal menjadi tunduk terhadap rasa hormat yang palsu.

Mempraktikkan rasa hormat

Menurut Popov, satu cara yang baik untuk mempraktikkan rasa hormat adalah dengan memikirkan bagaimana Anda ingin diperlakukan dan kemudian memperlakukan orang lain seperti yang Anda inginkan. Bagaimana Anda ingin orang lain memperlakukan barang-barang Anda, hak privasi Anda, ataupun kebutuhan Anda terhadap martabat. Bersikap hormat mengekspresikan perasaan terkuat Anda dengan cara yang damai. Menunjukkan rasa hormat itu adalah berbicara dengan tenang dan sopan, terutama kepada para lansia.

Secara lebih detail, Anda telah mempraktikkan rasa hormat saat Anda:

. Memperlakukan barang milik orang lain dengan hati-hati. Tidak memakai apa pun yang Anda inginkan tanpa izin dari pemiliknya. Juga bertanggung jawab atas segala dampak yang terjadi dari pemakaian milik orang lain oleh Anda.

. Menghormati kebutuhan orang lain akan ruang dan waktu bagi diri mereka sendiri. Termasuk di sini mengetuk pintu apabila akan masuk ke ruangan orang lain, meminta izin atau kesediaan seseorang terlebih dahulu jika ingin membicarakan sesuatu di waktu istirahat kerja, ataupun tidak menyerobot antrean orang lain.

. Berbicara dengan sopan kepada semua orang. Beri kesempatan kepada orang yang sedang Anda hadapi untuk mengutarakan pendapatnya. Tidak menyela atau menginterupsi siapa pun yang tengah berbicara.

. Mengatakan “maaf”, kemudian menunggu orang lain untuk memberikan perhatiannya, dan ungkapkan pendapat Anda sebagai opini. Hargai kenyataan bahwa ada lebih dari satu cara untuk melihat sesuatu.

. Menerima dan belajar dari kearifan para senior. Cobalah mendengarkan dahulu hal-hal yang disampaikan oleh orang yang lebih tua dan berpengalaman, sebelum memaksakan pendapat Anda yang mungkin saja memang lebih bersifat kekinian.

. Menghormati peraturan keluarga dan bangsa Anda. Tidak membantah peraturan keluarga atau sekolah.

. Mengharapkan penghormatan terhadap tubuh dan hak Anda. Artinya, Anda perlu juga menghargai diri sendiri dan mempertahankan hak pribadi Anda agar mendapat perlakuan sesuai keinginan Anda.

Apabila semua pihak, apa pun profesinya, suku bangsanya, tua ataupun muda, anak kecil atau orang dewasa, murid dan guru, atasan dan bawahan, kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan, siapa pun dan di mana pun berada, membiasakan diri untuk menampilkan rasa hormat satu sama lain, kehidupan bermasyarakat dijamin akan terasa lebih tenteram dan damai.

Salam hormat. (Harian KOMPAS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*