Ketika Seorang Korban ‘Upskirting’ -Foto dari Bawah Rok Tanpa Izin- Melawan

Sumber: BBC Indonesia/GINA MARTIN

Saat seorang pria mengambil foto dari bawah rok Gina Martin dalam sebuah festival musik ia langsung melapor ke polisi. Dan saat mereka menutup kasusnya, ia memprakarsai petisi untuk membukanya kembali, seperti yang ia ceritakan di sini.


Baranews.co – Pada tanggal 8 Juli 2017, saya sedang berdiri di keramaian di festival musik British Summer Time di Hyde Park di London, tertawa-tawa bersama kakak perempuan saya sambil menunggu The Killers naik ke atas panggung. Dua pria berdiri di sebelah kami, dan setelah menawarkan kentang goreng (dan saya mengambil sedikit) mereka jadi menyeramkan luar biasa.

Salah satu pria – dengan rambut berwarna gelap – berperilaku lebih buruk dibanding temannya yang berambut pirang dan lebih tinggi. Ia terus menerus menanyai saya, saya memergokinya memandangi saya dari atas sampai bawah dan ia tertawa dan bercanda dengan temannya mengenai saya. Kemudian ia meraba saya. Saya pikir saat itulah hal ini terjadi.

Pada suatu titik ia meletakkan telepon genggamnya di antara kaki saya, memposisikan kameranya di bawah rok saya dan mengambil foto-foto selangkangan saya di siang bolong.

Gina dan kakak perempuannya di British Summer Time, sekitar satu jam sebelum kejadian GINA MARTIN
Gina dan kakak perempuannya di British Summer Time, sekitar satu jam sebelum kejadian

Pada saat itu saya tidak tahu apa yang ia telah perbuat. Saya dan kakak perempuan saya sedang semangat menunggu grup band yang kami cintai sejak kami masih remaja. Tetapi sembari kami melihat ke panggung saya melihat sesuatu di sudut pandangan saya. Pria berambut pirang yang tinggi itu sedang melihat sesuatu di telepon genggamnya dan tertawa. Itu adalah selangkangan saya yang ditutupi pakaian dalam yang tipis. Walaupun fotonya kecil, saya langsung tahu bahwa itu adalah saya.

Saya merenggut telepon genggam tersebut dari tangannya dan berteriak bahwa ia telah mengambil foto dari bawah rok saya. Ia berteriak balik – berkacak pinggang di depan saya dan menunjuk muka saya – bahwa itu adalah foto-foto panggung yang dibuatnya. Kemudian, ia memegang bahu saya dan mendorong saya, menuntut saya mengembalikan telepon genggamnya. Saya tidak dapat melepaskan pegangannya maka saya membuat kontak mata dengan sebanyak mungkin orang di sekeliling saya, berteriak: “Tolong saya. Tolong saya!”

Saya memberikan telepon genggam tersebut ke tangan seorang perempuan di sebelah saya yang berbicara dengan saya beberapa menit sebelumnya. Pria tersebut berdiri tegak di depannya dengan agresif. “Berikan teleponnya,” bentaknya. Perempuan yang memegang teleponnya menolak.

Saya bertatapan dengan seorang pemuda yang berdiri di dekat saya: “Lari!” katanya. Maka sayapun berlari.

Saya mengambil telepon itu kembali dan berlari melalui keramaian, menangis, dan meminta orang-orang untuk membuka jalan agar saya bisa lewat. Saya berlari secepat yang saya bisa, tetapi saya dapat mendengarnya tepat di belakang saya. “Kembalikan telepon saya!” teriaknya.

Saya langsung menuju petugas keamanan dan segera saat mereka melihat keadaan saya – dan pria yang berlari mengejar saya – mereka membuat lingkaran perlindungan di sekeliling saya. Ia berlari menuju mereka, mengayun-ayunkan lengannya, mencoba mencapai saya dan berteriak bahwa ia tidak melakukan pemotretan itu.

Petugas keamanan meminta saya memasukkan telepon tersebut ke saku belakangnya. Saya melakukannya.


Apa itu Upskirt?

  • Foto upskirt adalah foto yang diambil dari bawah rok seseorang tanpa izin
  • Foto semacam itu mungkin berakhir di situs web khusus upskirt – yang merupakan bisnis besar
  • Beberapa pelakudiketahui menggunakan kamera yang disematkan di bagian atas sepatu mereka
  • Untuk mencegah foto terselubung, telepon yang dijual di Jepang memiliki suara jepretan yang tidak dapat dinonaktifkan
  • Pengambilan foto upskirt adalah sebuah pelanggaran di Skotlandia berdasarkan Undang-Undang Pelanggaran Seksual (Scotland) 2009 – di Inggris dan Wales ini lebih sulit untuk diadili.

Sumber: Prof Clare McGlynn


Saya menunggu kedatangan polisi selama satu atau dua menit. dan bertanya apakah kami dapat berdiri lebih dekat ke keramaian dan bernyanyi. Saya ingin berpura-pura ini tidak sedang terjadi. Pihak keamanan memperbolehkan kami untuk bergeser tiga meter dari mereka. Kami berdiri dekat pintu keamanan, memeluk satu sama lain dan memaksakan diri untuk menari mengikuti lagu pertama The Killers. Kenyataannya saya hanya menggumamkan setiap kata dan kakak perempuan saya berusaha untuk tidak menangis.

Saat polisi datang – seorang lelaki dan seorang perempuan – saya sebisa mungkin menjelaskan apa yang telah terjadi, walaupun saya sedang sangat berantakan. Mereka baik hati dan penuh simpati. Salah satu dari mereka memberitahu saya bahwa saya “seharusnya dapat datang ke suatu festival dalam cuaca sepanas 30 derajat dan memakai rok tanpa khawatir hal ini terjadi.”

Mereka memisahkan saya dan pria berambut pirang dan menanyainya selama satu atau dua menit. Waktu mereka kembali ke saya si polisi pria meminta maaf. Ia mengatakan pada saya, “Sayangnya, saya sudah melihat foto tersebut. Foto itu memperlihatkan gambar yang lebih dari yang Anda inginkan… tetapi tidak vulgar. Jadi tidak banyak yang dapat kami lakukan karena foto itu tak memperlihatkan sesuatu yang buruk. Saya akan jujur – kasus ini mungkin tak diproses lebih jauh.”

Ia bertanya apakah saya mau memberi pernyataan dan saya tidak merasa mampu pada saat itu. Saya sedang berdiri di tengah lapangan, menangis, dan tidak dapat berpikir. Saya hanya ingin menikmati apa yang tersisa dari malam (yang sangat mahal) itu dan mengkhawatirkan ini setelahnya.

Gina MartinGINA MARTIN

Polisi permisi dengan meyakinkan saya bahwa mereka telah “memaksanya untuk menghapus foto tersebut.” Pada titik ini, karena kekacauan yang sedang saya rasakan, tidak terpikirkan oleh saya bahwa (foto) ini adalah bukti yang saya miliki.

Foto tersebut tidak dianggap vulgar atau grafis karena saya memakai pakaian dalam – jika saya tidak memakai pakaian dalam mungkin hal ini akan ditindaklanjuti secara sepenuhnya berbeda – tetapi saya tidak mengerti mengapa apa yang saya kenakan memengaruhi tanggapan mereka.

Lima hari kemudian saya sedang duduk dalam sebuah bus menuju festival Latitude dengan sebuah tas berisi baju yang telah saya timbang-timbang begitu lama: Apakah sebaiknya saya membawa rok, atau apakah itu hal bodoh setelah apa yang baru terjadi?

Saya menerima panggilan telepon dari polisi, yang memberitahu saya bahwa kasus tersebut sudah ditutup, tetapi sekali lagi mereka meyakinkan saya bahwa mereka telah menghapus foto tersebut. Dengan pikiran yang jelas dan memiliki cukup waktu untuk berpikir, saya sungguh tidak percaya apa yang saya dengar. Langkah polisi ini tidak patut.

Gina Martin di festival LatitudeGINA MARTIN
Gina Martin di festival Latitude

Beberapa hari kemudian saya memasang update status di Facebook dengan sebuah foto pria-pria tersebut, setelah menyadari mereka berada di latar belakang foto saya dan kakak saya di acara tersebut. Saya ingin mempermalukan mereka. Saya ingin agar ada yang memberitahu saya siapa mereka.

Unggahan saya menjadi viral dalam beberapa hari, baik di Twitter maupun Facebook. Sejumlah perempuan lain membagikan pengalaman serupa dengan saya dan saat itulah saya sadar bahwa masalah ini jauh lebih besar dari sekedar kasus saya.

Saya mulai menerima pesan-pesan, beberapa berisi dukungan dan ada juga yang berisi kebencian.

Beberapa orang menyuruh saya memakai rok yang lebih panjang, berhenti berusaha mencari perhatian dan berhenti berbohong. Yang lain mengatakan bahwa saya melakukannya untuk publisitas dan menjadi sasaran karena kesalahan saya sendiri.

Saya memulai sebuah petisi online melalui Care2 untuk membuat kasus saya dibuka kembali (sekarang sudah didukung oleh lebih dari 50.000 tanda tangan).

Saya kesulitan untuk menyelesaikan pekerjaan saya minggu itu. Selama tujuh hari saya dikerjai dan mendapat pesan-pesan yang memojokkan.

Pada suatu titik saya menjadi sebuah meme – ada remaja yang men-tag diri mereka di postingan saya dengan ungkapan-ungkapan seperti “Hidup para pelaku upskirt!” dan emoji menangis-ketawa. Teman-teman mereka membalas dengan “Lol. Perek!.” Saya kesulitan tidur, karena stres, dan saya kehilangan napsu makan. Saya tidak yakin Anda benar-benar tahu bagaimana rasanya disalahkan sebagai korban kalau Anda tidak mengalaminya sendiri. Sangat buruk.

contoh komentar yang tidak bersimpatiFACEBOOK

Saya mulai mempelajari bagaimana caranya saya bisa menuntut, dan melalui perbincangan dengan pengacara, teman dan organisasi seperti “Pementasan Aman untuk Perempuan” dan “Girls Against,” saya mengetahui bahwa foto-foto upskirt tidak secara khusus terdaftar sebagai pelanggaran seksual di Inggris dan Wales. Pelaku juga tidak sering dituntut atas voyeurisme, undang-undang voyeurisme hanya melindungi korban jika berada di tempat tertutup seperti ruang ganti atau di rumah. Tapi saya berada di sebuah festival – tempat umum.

Saya menemukan bahwa satu-satunya undang-undang yang saya bisa gunakan untuk menutut adalah perbuatan bernama “Menganggu kesopanan di muka umum” sebuah perundangan tentang menyatakan atau melakukan sesuatu yang cabul atau tidak senonoh terjadi di depan umum dan setidaknya dua orang melihatnya. Ironisnya, biasanya pidana ini diterapkan pada orang yang suka menunjukkan bagian tubuhnay sendiri di depan umum. Jadi, pendek kata, satu-satunya hukum yang melindungi korban pelaku upskirt di Inggris dan Wales adalah kekhawatiran tentang apa yang dilihat publik, bukan apakah korban telah dilecehkan.

Ini harus diubah, dan karena itulah saya berkampanye untuk membuat fotografi upskirt menjadi pelanggaran seksual. Skotlandia baru saja mengesahkannya. Jadi Inggris juga bisa.

Kasus saya sejak itu telah dibuka kembali dan saya berharap agar orang-orang tersebut diadili. Tapi ini bukan hanya tentang kasus saya. Langkah selanjutnya adalah membuat undang-undang tersebut diubah sehingga foto upskirt terdaftar sebagai pelanggaran seksual dan ‘pidana tentang korban,’ bukan soal gangguan terhadap kesopanan umum.


Pernyataan dari Polisi London:

Kami memperlakukan tuduhan voyeurisme secara serius dan sedang dan akan menyelidiki kasus-kasus itu secara menyeluruh. Kami menggunakan berbagai taktik perpolisian dan menyebarkan petugas dalam operasi-operasi tertentu untuk menangani perilaku kriminal semacam ini berdasarkan intelijen. Kami memahami bahwa hal itu bisa sangat mengganggu dan membuat korban merasa tertekan.

Dalam kasus ini secara khusus, kami yakin tuduhan tersebut telah dari awal ditangani sesuai dengan keinginan korban. Kami kemudian menghubungi korban kembali dan penyelidikan sedang berlangsung. BBC Indonesia/swh

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*