Pria Sebenarnya Lebih Emosional dari Wanita

Stereotip gender menyebutkan wanita sering mengandalkan emosinya dan pria lebih logis. Namun, biologi mengungkap sebaliknya.

Baranews.co – Stereotip gender menyebutkan wanita sering mengandalkan emosinya dan pria lebih logis. Namun, biologi mengungkap sebaliknya.

Para ilmuwan menemukan bahwa pria memiliki bagian otak yang khusus merespon emosi lebih besar, sementara bagian yang terkait dengan pemikiran logis lebih kecil dibandingkan wanita.

Hal itu masuk akal jika kita mempertimbangkan energi yang dibutuhkan untuk berjaga-jaga melindungi diri. Sejak dulu pria memang memiliki peran untuk berburu, berkompetisi dan mendominasi.

Kekuatan emosi mereka bisa menimbulkan ledakan marah, dan jika dilihat dari sudut pandang perburuan, sangat membantu untuk mengalahkan lawan.

Ada bagian khusus di otak yang disebut amygdala yang memproses emosi rasa takut, memicu amarah, dan mendorong kita untuk bertindak. Bagian ini akan memberi peringatan jika ada bahaya dan mengaktifkan respon “melawan atau tinggalkan”.

Dalam dunia pria sebagai pemburu dan pengumpul, dibutuhkan bagian amygdala yang besar sehingga akan cepat merespon ketika ada bahaya. Testosteron juga termasuk bagian dari sistem pertahanan ini.

Sebaliknya dengan wanita, walau mereka juga harus berkompetisi, terkadang untuk mendapat pasangan atau makanan, tujuan utama mereka adalah dukungan sosial, merawat anak, dan melindungi rumah.

Hormon wanita yang mendominasi adalah estrogen dan berdasarkan evolusi di bagian otaknya, hormon ini mendorong untuk selalu berada dalam kelompok agar aman. Stres wanita akan berkurang dan lebih aman jika mereka terhubung dengan orang lain.

Perbedaan ini, digabungkan dengan fakta bahya wanita punya testosteron lebih sedikit dan didominasi estrogen, membuat wanita lebih mampu mencari solusi sebuah konflik. Wanita cenderung akan mencari cara berkompromi dan memenuhi kebutuhan orang lain, bahkan jika mereka harus berkorban. Intinya wanita lebih suka situasi yang damai dalam kelompok.

Kadar testosteron yang lebih tinggi di otak pria memberi pengaruh berbeda, yakni menarik diri dari kumpulan dan lebih nyaman sendirian.

Itu sebabnya pria kurang tertarik terlibat obrolan dalam kelompok, kecuali untuk kompetisi atau menarik lawan jenis. Hormon pria menyebabkan mereka untuk selalu mendominasi dan mengontrol agar mencapai rasa aman.

Pria juga lebih mudah merasa stres jika ada tantangan dalam hal kemerdekaan dan otoritasnya. Dengan tingginya testosteron di otak mereka, mereka pun lebih gampang tersulut emosi dan mudah berkonflik. Mereka tidak mencari hubungan sosial seperti halnya wanita. (kompas.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*