TENIS: Akankah Djokovic Seperti Federer?

Sumber: Fox Sports

Novak Djokovic mengikuti langkah Roger Federer ketika mengakhiri musim 2016 dengan lebih cepat karena cedera punggung dan lutut. Cara itu membuat Federer bugar dan kembali pada penampilan terbaiknya. Di pertengahan 2017 ini, Djokovic mengistirahatkan tubuhnya hingga akhir musim.

Di Belgrade, Serbia, kota kelahirannya, Rabu (26/7), Djokovic mengumumkan untuk tak lagi bertanding hingga akhir 2017. Keputusan ini diambil sekitar dua pekan setelah dia mengundurkan diri di perempat final Wimbledon, saat melawan Tomas Berdych, karena cedera siku kanan.

Cedera, yang dikatakan dokter sebagai memar tulang karena bertanding terlampau berlebihan, itu menjadi alarm agar petenis berusia 30 tahun ini mengistirahatkan tubuhnya. Cedera itu telah dirasakan Djokovic sejak 18 bulan terakhir.

Keputusan itu membuat Djokovic untuk pertama kalinya akan absen dari turnamen grand slam sejak debut di Australia Terbuka 2005. Setelah tampil dalam 51 grand slam secara beruntun, yang menghasilkan 12 gelar juara, dia akan melewatkan Amerika Serikat Terbuka, 28 Agustus-10 September.

“Sakit di siku membuat saya kesulitan saat servis dan sekarang saat forehand. Semua dokter dan spesialis yang saya temui menyarankan saya agar beristirahat. Saya akan melakukannya untuk bisa pulih kembali,” kata Djokovic.

Pengumuman itu disampaikan Djokovic berselang setahun setelah Federer melakukan hal yang sama. Cedera lutut, yang membuatnya harus dioperasi, dan cedera punggung membuat Federer mengakhiri musim 2016 setelah tampil di semifinal Wimbledon. “Tubuh dan pikiran kita perlu istirahat. Itu memberi hasil baik kepada saya, tetapi mungkin akan memberi dampak berbeda kepada yang lain,” kata Federer, mengomentari mundurnya Djokovic di Wimbledon.

Dalam kondisi bugar, bahkan bisa dikatakan kembali pada permainan terbaiknya, Federer meraih lima gelar juara, termasuk Australia Terbuka dan Wimbledon, dari tujuh turnamen. Saat menjuarai Wimbledon, gelar grand slam ke-19, dia tak kehilangan satu set pun.

Krisis

Djokovic akan melakukan hal sama, beristirahat selama lima bulan, tetapi dengan sedikit kondisi berbeda. Selain cedera siku, dia juga mengalami krisis motivasi. Djokovic mengakui kehilangan motivasi setelah menjuarai semua grand slam ketika menjuarai Perancis Terbuka 2016. Mantan pelatihnya, Boris Becker, mengatakan, Djokovic tak berlatih penuh sejak saat itu.

Dampaknya, rentetan kegagalan dialami, seperti tersingkir pada babak ketiga Wimbledon dan babak pertama Olimpiade Rio de Janeiro 2016, kehilangan peringkat pertama dunia, dan tersingkir di babak kedua Australia Terbuka 2017.

Masa krisis dilalui Djokovic dengan mengganti semua anggota tim pelatih, termasuk menghentikan kerja sama dengan Marian Vajda, pada Mei 2017, yang melatihnya sejak 2006. Dia pun memilih Andre Agassi untuk mendampinginya.

Federer, saat melalui masa sulit pada 2016 hingga membuatnya terlempar ke peringkat 17 dunia pada Januari, tetap memberi kepercayaan kepada tim pelatih yang sangat tahu kondisinya. Pelatih fisik, Pierre Paganini, berada di sisi Federer selama 17 tahun. Adapun Severin Luthi, yang melatih bersama sahabat Federer, Ivan Ljubicic, telah 10 tahun di tim.

Hal yang sama dilakukan pelari Jamaika, Usain Bolt. Dia memilih Glen Mills, pelatih yang dinilainya mau mendengarkan pendapat atlet-atlet asuhannya.

Diceritakan dalam buku Usain Bolt Faster Than Lightning, My Story, Mills pula yang akhirnya bisa meyakinkan Bolt bahwa dia tak cukup hanya mengandalkan bakat. Sejak menjuarai berbagai lomba pada 1996 (usia 10 tahun) hingga 2006 (dua tahun sebelum meraih medali emas Olimpiade Beijing), Bolt masih yakin bahwa hanya bakatlah yang bisa membawanya menjadi juara, termasuk juara dunia yunior 2002. Mills mengubah pandangan itu dengan memberi program latihan yang tepat.

Kini, Djokovic akan mengandalkan pengalaman Agassi untuk mengembalikan performanya. Agassi, yang pernah menjadi petenis nomor satu dunia pada Februari 1996, “jatuh” ke urutan ke-141, November. Dua tahun kemudian, Agassi kembali ke puncak peringkat dunia.

“Dia akan membantu saya untuk kembali pada penampilan terbaik dan saya akan kembali dengan lebih kuat setelah menjalani masa pemulihan,” kata Djokovic.

Apakah Djokovic akan mendapat hasil yang sama seperti yang dialami Federer? Penggemar tenis akan menantinya saat Djokovic kembali di Melbourne 2018. (YULIA SAPTHIANI)/Harian KOMPAS

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*