Kasus Kekerasan Seksual Anak Ranking Pertama di Kabupaten Malang

Sumber: detiknews/Muhammad Aminudin

KABUPATEN MALANG, JATIM, Baranews.co – Kasus kekerasan anak di Kabupaten Malang, mungkin harus mendapat perhatian lebih, agar tidak terjadi kekerasan yang dapat mengancam masa depan generasi penerus bangsa.

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Malang, mencatat kasus kekerasan pernah ditangani setiap tahun masih tinggi, yakni 190 hingga 200 kasus setiap tahun.

Kekerasan seksual berada di ranking pertama menimpa anak-anak atau remaja di wilayah kabupaten dengan jumlah 33 kecamatan itu.

“Kasus kekerasan setiap tahun, yang kita tangani sekitar di angka 190 hingga 200 kasus dalam satu tahun. Selain kami, pasti akan lebih banyak dari itu,” kata Ketua P2TP2A Kabupaten Malang Hikmah Bafaqih berbincang dengan detikcom, Senin (24/7/2017).

Dia menyebutkan, ada beberapa faktor penyebab terjadinya kasus kekerasan kepada anak. Perebutan hak asuh anak, kini marak terjadi juga dilatarbelakangi.

Pertama, menghilangnya rasa peduli kepada anak-anak oleh masyarakat di sekitarnya. Mengingat zaman dahulu, kata dia, tetangga atau warga sekitar turut peduli dalam menjaga keseharian maupun perilaku anak-anak.

“Ada proteksi, bukan dari keluarga saja, tapi orang-orang di sekitarnya. Semua turut peduli, menjaga dan mengawasi, seperti kita kecil dulu. Saat ini sudah beransur hilang, harus dibangkitkan lagi dengan jalan Pengasuhan Bersama Berbasis Masyarakat,” ujar Bafaqih.

Faktor lain, lanjut dia, mengacu kepada analisa terungkap disebabkan telah melonggarnya norma agama maupun sosial di tengah masyarakat.

Batasan-batasan dalam berperilaku sehari-hari sudah mulai tak ditaati atau dilanggar. “Jadi orang semakin longgar, bahwa ini tidak pantas, ini melanggar, ini tidak boleh. Sebenarnya mereka bisa jadi tahu, tetapi mengabaikan,” sambung Bafaqih.

Dikatakan dia, ada kasus yang pernah ditemukan. Orang tua justru tidak merasa kaget atau bereaksi ketika mengetahui anaknya telah hamil atau pernah melakukan hubungan seksual, sebelum waktunya.

“Tidak terkejut itu ada, sudah mulai ada. Ini fenomena, kalau dulu bisa dianggap sebuah bencana besar,” keluhnya. (fat/fat)/Muhammad Aminudin – detikNews/if

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*