Efek Mengkhawatirkan dari Terlalu Banyak Bekerja dan Kurang Tidur

Awalnya cuma mengecek atau mengirim email pada tengah malam, tapi godaan media sosial sering kali membuat kita 'lupa waktu' untuk tidur. (Sumber: BBC Indonesia/EPA)

Oleh: 

Tekanan untuk bekerja lebih banyak, yang berimbas pada berkurangnya waktu untuk tidur, sudah seperti epidemi global dengan dampak yang mengkhawatirkan.

Baranews.co – “Pada era 1940-an orang rata-rata tidur sekitar delapan jam per malam. Sekarang di era modern, waktu tidur kita per malam rata-rata 6,7 atau 6,8 jam,” kata Matt Walker, guru besar psikologi dan neurosains di Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat.

“Jadi ada penurunan waktu tidur yang sangat besar dalam kurun 70 tahun. Dewasa ini kita kehilangan sekitar 20% dari waktu tidur orang-orang pada era 1940-an,” imbuh Walker.

Perubahan gaya hidup dan mobilitas di era modern tak diragukan lagi membuat kita, dalam banyak situasi lebih tepat dikatakan memaksa kita, untuk mengurangi waktu tidur.

Gaya hidup yang dimaksud di antaranya kebiasaan minum kopi yang membuat kita lebih lama terjaga.

Kita sudah mencoba meningkatkan kualitas waktu istirahat melalui berbagai hal, misalnya menggunakan kasus yang lebih baik dan membuat rumah kita bebas asap. Tapi mengontrol faktor-faktor lingkungan bukan berarti tidak menimbulkan persoalan, kata Walker.

Misalnya yang terkait dengan pemanas ruangan -bagi mereka yang mengalami musim dingin- dan air conditioning atau AC bagi yang berada di kawasan-kawasan bercuaca panas.

“Jadi, ketika matahari terbenam, temperatur turun cukup tajam dan ketika matahari terbit, suhu udara perlahan naik ke level normal. Tubuh kita secara alamiah menyesuaikan diri dengan ‘pola panas’ dari alam,” papar Walker.

Email dan godaan Facebook

Dengan mengggunakan alat seperti pemanas atau AC yang kita lakukan sebenarnya adalah ‘mengganggu mekanisme alami di tubuh kita, yang menjadi dasar kapan kita tidur’.

Kopi EPA
Gaya hidup, misalnya kebiasaan minum kopi, membuat kita lebih sering terjaga.

“Apa yang terjadi di alam, sebenarnya justru membantu kita untuk tidur,” katanya.

Persoalan kedua adalah cahaya biru kuat yang dikeluarkan oleh lampu artifisial dan peranti yang menggunakan layar LED.

“Sayangnya, cahaya biru tersebut mengerem keluarnya hormon yang disebut melatonin pada malam hari. Melatonin inilah yang memberi sinyal kepada Anda untuk tidur,” kata Walker.

Yang ketiga adalah teknologi dan media sosial. Banyak di antara kita yang masih mengirim email meski jam sudah menunjukkan tengah malam. Email adalah pintu ‘menuju gangguan-gangguan lain’.

FB AFP
Media sosial bisa membuat kita melewatkan waktu satu jam tak terasa telah terlewati.

Setelah selesai menulis email, apa yang biasanya kita lakukan? “Mengecek status di Facebook, kan?” Ini adalah jalur alamiah dan tanpa terasa setengah atau mungkin satu jam terlewati.

Akhirnya kita terlambat tidur sementara esok paginya kita harus ke kantor.

Di luar ini, kita diberi anggapan bahwa tak masalah kurang tidur karena tokoh-tokoh dunia seperti Donlad Trump, Barack Obama, dan Margaret Thatcher (mantan perdana menteri Inggris) tetap bisa sukses meski mengaku tidur kurang dari lima jam setiap malam.

Persoalan kurang tidur ini memang tak bisa diremehkan dan kita mestinya hati-hati kalau tidur di bawah tujuh jam per malam menjadi rutinitas.

“Penyakit-penyakit serius yang membunuh kita di negara-negara maju: Alzheimer, kanker, obesitas, diabetes, perasaan cemas yang berlebihan, depresi, kecenderungan bunuh diri, semuanya memiliki kaitan langsung atau kausalitas dengan kekuarangan tidur,” kata Walker. BBC Indonesia/swh

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*