TENIS WIMBLEDON 2017: Kala Federer Menjalani Hidup Tanpa Beban

Petenis Swiss Roger Federer meluapkan kegembiraan setelah menjuarai nomor tunggal putra Grand Slam Wimbledon 2017. Ia menundukkan Marin Cilic (Kroasia), 6-3, 6-1, 6-4, pada final Minggu (16/7) malam WIB di Wimbledon, Inggris. Ini gelar juara yang kedelapan di Wimbledon bagi Federer. (Sumber: KOMPAS/AFP/ADRIAN DENNIS).

Roger Federer tak punya persiapan khusus jelang final Wimbledon, Minggu (16/7). Seusai semifinal, petenis Swiss itu justru memastikan harus bisa beristirahat dengan baik. Sikap santai dan tanpa beban itu membawanya pada gelar kedelapan, gelar terbanyak petenis tunggal putra di turnamen tenis tertua.

Gelar itu diraih setelah mengalahkan Marin Cilic (Kroasia), 6-3, 6-1, 6-4. Laga di Lapangan Utama All England Club, London. Laga ini berlangsung 1 jam 41 menit, hanya 24 menit lebih lama ketimbang final tunggal putri, saat Garbine Muguruza mengalahkan Venus Williams, Sabtu. Federer pun melebihi prestasi Pete Sampras (di era Terbuka sejak 1968) dan William Renshaw (era amatir), yang masing-masing, mengemas tujuh gelar juara.

“Menakjubkan bisa membuat rekor itu di lapangan yang telah melahirkan banyak legenda. Saya percaya, jika kita yakin, hasil baik bisa dicapai,” kata Federer di hadapan 15.000 penonton, termasuk Pangeran William dan istrinya, juga dua pasang anak kembar Federer yang duduk di tribune setelah sang ayah juara.

Saat melihat kedatangan Myla Rose dan Charlene Riva (8) serta Leo dan Lenny (4), Federer tak dapat menahan tangis. Padahal, saat memastikan kemenangan dari as (ace, servis gagal ditangkis lawan), dia merayakannya hanya dengan mengangkat kedua tangan sambil tersenyum.

“Fantastis. Saya bangga bisa kembali ke sini dan kembali meraih trofi ini,” ujar Federer yang meraih gelar ketujuh Wimbledon lima tahun lalu.

Kemenangan atas Cilic membuahkan gelar juara yang kelima dari tujuh turnamen yang diikuti pada 2017, dan yang kedua dari Grand Slam setelah Australia Terbuka, Januari. Total, Federer telah 19 kali menjuarai Grand Slam sejak meraih gelar yang pertama di Wimbledon 2003.

Walau hanya menjadi unggulan ketiga pada musim ini, Federer tiba di All England Club sebagai favorit juara. Status juara Australia Terbuka, ATP Masters Indian Wells dan Miami, serta turnamen pemanasan Wimbledon di Halle, Jerman, membuatnya difavoritkan juara dibandingkan petenis lain. Termasuk, dari ketiga rivalnya, Andy Murray, Novak Djokovic, dan Rafael Nadal.

Meski demikian, Federer tetap terkejut dengan rentetan gelarnya. Apalagi, itu terjadi setelah dia beristirahat selama enam bulan karena cedera lutut dan pinggang. Kekalahan dari Milos Raonic di semifinal Wimbledon menjadi penampilan terakhirnya di musim 2016.

Musim ini, dengan kondisi lebih baik, Federer tak terkendala dalam melakukan persiapan untuk setiap turnamen. Di Wimbledon, lawan di tujuh babak yang berusia lebih muda ditaklukkan dalam tiga set.

Tomas Berdych, yang dikalahkan di semifinal, adalah salah satu yang merasakan ketangguhan Federer. “Saya tidak melihat indikasi bahwa Roger bertambah tua. Saya pikir dia justru semakin memperlihatkan kehebatannya,” kata Berdych.

Mantan petenis Magnus Norman dalam The Telegraph berpendapat serupa. “Permainan Roger dan Rafa (Nadal) pada saat ini lebih baik dibandingkan sepuluh tahun lalu. Mereka bermain lebih dekat ke baseline, bergerak lebih baik dan lebih cepat. Itulah evolusi permainan tenis,” ujarnya.

Sebelum final, Federer berpendapat, hasil sejak awal 2017 hingga Wimbledon didapat karena dia tak pernah merasa panik saat menghadapi situasi kritis. Lebih dari itu, dia juga memilih bersikap lebih santai, tak membebani diri sendiri dengan target besar.

Saat wartawan bertanya apa yang akan dilakukannya sebelum final, Federer menjawab, tak ada persiapan spesial. “Hanya persiapan rutin seperti yang saya lakukan dalam dua pekan ini. Saya hanya akan memastikan bisa beristirahat dengan maksimal, tidur cukup, bersikap santai, hingga bisa datang ke lapangan dengan energi dan pikiran yang membuat saya bisa tampil kreatif. Itu yang akan saya lakukan,” tuturnya.

“Persiapan” itu menghasilkan permainan solid hingga Cilic, yang tampil dengan cedera kaki, tak kuasa menahannya. Statistik memperlihatkan, Federer hanya membuat delapan unforced error dengan 23 winner, termasuk dari variasi backhand yang sulit dikembalikan Cilic.

Sikap santai itu juga diperlihatkan ketika Federer melewatkan musim kompetisi tanah liat, April-Juni. Alih-alih harus bersaing di lapangan yang menuntut daya tahan tinggi karena berkarakter lambat, Federer memilih menikmati perannya sebagai suami dan ayah. Tak jarang, dia memandikan sendiri anak-anaknya. “Saya hanya ingin menjadi ayah dan suami yang baik, tentunya dengan tetap menjadi atlet,” katanya.

Dalam masa istirahat itu pula, Federer juga menghadiri berbagai acara amal dan mode yang menjadi minatnya, salah satunya acara mode Met Gala di New York, Amerika Serikat, 1 Mei. Akun media sosialnya pun diwarnai foto berbagai aktivitas di luar lapangan tenis, termasuk foto-foto ketika dia berwajah konyol hasil swafoto.

“Saya senang memutuskan untuk berhenti sejenak dari kompetisi dan menjalani hidup di luar tenis karena tubuh kita harus beristirahat untuk alasan yang baik,” ujarnya. (AFP/REUTERS/IYA)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*