Serat Optik Bantu Jelaskan Pertumbuhan Tanaman setelah Kebakaran Hutan di Australia

Setiap tahun kebakaran hutan di seluruh dunia menghancurkan ribuan kilometer per segi hutan dan padang rumput, dan membuat banyak orang kehilangan tempat tinggal. Sejumlah tanaman lebih cepat tumbuh kembali dibanding lainnya, dan para ilmuwan ingin tahu mengapa.

Kebakaran hutan di Medowie, Australia, pada tahun 2016.

Baranews.co – Setiap tahun kebakaran hutan di seluruh dunia menghancurkan ribuan kilometer per segi hutan dan padang rumput, dan membuat banyak orang kehilangan tempat tinggal. Sejumlah tanaman lebih cepat tumbuh kembali dibanding lainnya, dan para ilmuwan ingin tahu mengapa. Di Australia, mereka melakukan eksperimen dengan perangkat pemantau sederhana yang mengandalkan serat optik.

Iklim Australia yang sebagian besar panas dan kering membuat kebakaran semak-semak sering terjadi, menghancurkan hutan pegunungan dan tanah yang tertutup rumput di dataran rendah. Tetapi beberapa tanaman tertentu seperti Banksia, telah berevolusi dan tumbuh kembali lebih cepat setelah kebakaran.

Para ilmuwan dari Universitas Curtin di Perth berupaya mempelajari apa y ang membuat tanaman Banksia ini cukup kuat untuk bertahan dari kebakaran.

Ryan Tangney, salah satu ilmuwan di Universitas Curtin tersebut mengatakan, “Terutama di hutan Banksia di mana mereka dikelilingi oleh orang, tempat dan infrastruktur; maka sangat penting untuk memahami secara lebih baik bagaimana pengaturan bisa mempengaruhi kebijakan mengatur manajemen bisa mempengaruhi kebijakan tentang kebakaran”

Salah satu faktornya adalah suhu tanah pada kedalaman yang berbeda.

Garis serat optik yang tipis dan diletakkan pada kedalaman yang berbeda di bawah lapisan daun dan ranting, bisa membaca suhu tanah dan mengirimkannya ke komputer laptop.

“Kami baru saja mengetahui adanya suhu sekitar 55 derajat Celsius di tanah, yang terletak pada kedalaman tiga sentimeter. Kami belum mengukur suhu di permukaan tanah,” jelasnya.

Data pertama yang didapat menunjukkan bahwa benih yang lebih kering memiliki ketahanan hidup yang lebih baik dibanding yang memiliki kelembaban lebih tinggi.

Peneliti genetika di Universitas Curtin juga menemukan bahwa Banksia tidak beradaptasi dengan kebakaran hutan sendiri, tetapi lebih pada intensitas dan sejarah frekuensi kebakaran tersebut. Dengan siklus kebakaran yang lebih pendek, tumbuhan mungkin memiliki cukup waktu untuk memproduksi benih yang layak.

Tim peneliti itu mengatakan temuan baru ini akan mendorong pemahaman yang lebih baik atas dampak kebakaran hutan di semak-semak Australia. (voaindonesia.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*