TENIS WIMBLEDON 2017: Tangisan Muguruza Antar Gelar Pertama

Petenis Spanyol, Garbine Muguruza, mengangkat Venus Rosewater Dish, merayakan gelar juara tunggal putri turnamen Wimbledon 2017 setelah di final menaklukkan petenis Amerika Serikat, Venus Williams, 7-5, 6-0, di All England Club, London, Inggris, Sabtu (15/7). (Sumber: KOMPAS/AFP/GLYN KIRK)

LONDON, Baranews.co – Sekitar satu bulan lalu, Garbine Muguruza keluar lapangan Suzanne Lenglen dengan jari telunjuk mengarah ke atas dan mengibaskannya ke arah penonton sebagai tanda kesal. Juara bertahan Perancis Terbuka itu tergusur di babak keempat oleh petenis tuan rumah Kiki Mladenovic dengan tekanan intimidasi yang “kejam” dari penonton Roland Garros.

Beberapa saat kemudian, ia duduk di hadapan puluhan wartawan dan menangis. Muguruza lalu meninggalkan ruangan dan tak lama kembali sebagai sosok yang berbeda. Dia menjawab semua pertanyaan dengan tenang.

“Setelah laga melawan Mladenovic, saya yakin dia akan melakukan sesuatu yang lebih besar,” ujar Marta Mateo, jurnalis freelance Spanyol.

Apa yang dipikirkan Mateo terbukti pada Sabtu (15/7). Muguruza menjuarai Grand Slam Wimbledon 2017 setelah mengalahkan petenis legendaris Amerika Serikat, Venus Williams, 7-5, 6-0, lewat penampilan gemilang. Muguruza benar-benar melakukan sesuatu yang lebih besar, seperti dikatakan Mateo.

Ini adalah gelar Grand Slam kedua bagi Muguruza (23) setelah sebelumnya memenangi Perancis Terbuka 2016. Bagi Venus Williams (37 tahun dan 28 hari), kekalahan ini berarti kegagalan mematahkan rekor adiknya, Serena Williams, sebagai petenis putri tertua yang mampu menjadi juara Grand Slam. Serena masih memegang rekor setelah menjuarai Australia Terbuka 2017 pada usia 35 tahun.

Perjalanan sejarah Muguruza di final Grand Slam sejauh ini selalu terhubung dengan Williams bersaudara. Pada final Wimbledon 2015, Muguruza kalah dari Serena. Petenis berdarah campuran Spanyol-Venezuela itu melakukan balas dendam manis atas Serena di Roland Garros setahun kemudian, dan kini Venus.

Venus yang sebelumnya memenangi lima gelar tunggal putri di All England Club memuji penampilan brilian Muguruza.

“Selamat Garbine. Saya tahu betapa kamu telah bekerja keras,” ujar Venus yang tak seperti biasanya membuat banyak kesalahan. Venus mencatat 17 pukulan penghasil poin, tetapi membuat 25 kesalahan.

Bagi Muguruza, kemenangan ini sekaligus menunaikan tekadnya untuk memasukkan namanya di Honour Board, dinding para juara yang didominasi nama Williams dalam 18 tahun terakhir. Sambil memegang Venus Rosewater Dish, trofi juara tunggal putri, Muguruza menyempatkan diri berfoto di depan dinding hijau tersebut.

Meski kalah, pencapaian Venus tetap memesona. Setelah dilanda penyakit yang menguras staminanya, ia bangkit dan mencapai final di Melbourne Park dan All England Club.

“Saya tumbuh dengan melihat Venus bermain. Jadi sangat hebat bisa bertanding di final melawan dia,” ujar Muguruza. “Dua tahun lalu, saya kalah melawan Serena, dan Venus mengatakan, suatu hari saya akan menang,” lanjut Muguruza. Dan, kata-kata Venus menjadi kenyataan. (Reuters/AP/joy)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*