RADIKALISME: Daya Tangkal Generasi Muda Lemah

Ilustrasi (Sumber: arabpress.eu)

JAKARTA, Baranews.co – Daya tangkal generasi muda terhadap paham radikal semakin memprihatinkan. Karena itu, selain melakukan penegakan hukum dan menjalankan program deradikalisasi terhadap narapidana teroris, Kepolisian Negara RI dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme juga mengampanyekan pemahaman moderat bagi generasi muda.

Berdasarkan operasi penangkapan tim Datasemen Khusus 88 Antiteror Polri di sejumlah wilayah Jawa Barat, terungkap sel jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) beranggotakan anak muda yang lahir pada dekade 1990-an. Dari enam terduga teroris yang ditangkap, lima orang di antaranya berusia 21-26 tahun. Mereka adalah Kodar bin Rudi yang menjadi pemimpin sel dan melakukan perekrutan, Agus Wiguna (21) yang membuat bom panci, Ade Arif Suryana (24), Andri Rosadi (24) yang diduga menerima aliran dana, dan Ramlan alias Harlan alias Sayip (23).

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul, Jumat (14/7), di Jakarta, mengatakan, anak muda dari generasi milenial menjadi kelompok masyarakat yang rentan terhadap paham radikal karena merupakan pengguna aktif internet dan media sosial.

Sarana itu, ujarnya, merupakan lahan yang menjadi sasaran utama jaringan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) di seluruh dunia, termasuk JAD. Apalagi, JAD di Jawa Barat merupakan sel NIIS yang paling aktif melakukan perekrutan, perencanaan aksi teror atau i’dad, dan serangan teror.

“Kami pastikan penangkapan akan terus dilakukan untuk mencegah aksi teror kelompok itu. Namun, pendekatan lunak yang persuasif melalui operasi siber juga menjadi prioritas kami untuk menangkal paham radikal pada generasi muda,” ujarnya.

Bagi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), lemahnya pendidikan di bangku sekolah menjadi penyebab utama paham radikal mudah diserap anak muda. Kepala BNPT Komisaris Jenderal Suhardi Alius menekankan, pihaknya telah menggandeng pihak-pihak terkait untuk menggalakkan kembali penanaman nilai Pancasila di semua level pendidikan.

Menurut pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, Noor Huda Ismail, riset penting dilakukan untuk memahami daya tarik kelompok teroris bagi anak muda sehingga ditemukan strategi jitu untuk menangkal radikalisasi, terutama di dunia maya. (SAN)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*