BIN Sudah Kantongi Kartel yang Ingin Singkirkan Menteri Susi

Para nelayan yang tergabung dalam Aliansi Nelayan Kalimantan Barat saat mendatangi kantor Gubernur Kalimantan barat,jalan Ahmad Yani, Pontianak, Rabu (12/7/2017) siang. Kedatangan ratusan nelayan ini untuk mendesak pemerintah agar mencabut peraturan menteri kelautan dan perikanan nomor 2/permen/KP/2015 tentang larangan penggunaan alat penangkap ikan berupa pukat hela (trawl) dan pukat tarik (seine net). Ratusan nelayan ini juga mendatangi kantor DPRD Provinsi Kalimantan barat dan berorasi di bundaran Digulist Pontianak dengan membawa pukat dan keranda mayat yang ditempel dengan gambar menteri kelautan dan perikanan RI Susi Pudjiastuti. (Sumber: tribunnews.com/TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA)

JAKARTA, Baranews.co – Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan, menyebut kartel asing yang terlibat dalam upaya untuk menjatuhkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dari Kabinet Kerja.

Deputi VI bagian Komunikasi dan Informasi BIN Sundawan Salya mengatakan, ucapan Kepala BIN pasti didasari data yang telah dipegang.

“Dengan Pak Kepala menyatakan tentu beliau punya (data kartel yang ingin menyingkirkan Susi Pudjiastuti),” kata Sundawan, Minggu (16/7/2017).

Namun Sundawan enggan membeberkan siapa kartel yang dimaksud.

Menurutnya, hal itu tidak bisa disampaikan karena proses penyidikan.

“Saya kira tidak bisa disampaikan karena bagian dari proses penyidikan,” katanya.

Sundawan menjelaskan, alasan kenapa usaha dari kartel tersebut baru dibuka oleh BIN saat ini.

“Karena itu ada sebuah proses penyidikan, mungkin proses itu ada pemicunya, by trigger, mungkin triggernya kemarin. Oleh karena itu bapak kepala sampaikan hati-hati,” kata Sundawan.

Dalam acara Halaqah Nasional di Hotel Borobudur kemarin, tak seperti biasanya, Budi Gunawan menyampaikan pendapatnya mengenai sejumlah isu. Salah satunya soal ancaman kartel yang berupaya menggoyang Susi dari kabinet Jokowi-JK.

“Disamping itu ekonomi rakyat Indonesia dikuasai kartel pangan maupun kartel energi. Ini sulit diberantas karena jaringan mereka sangat kuat. Contoh Ibu Susi, sekarang sedang merasakan serangan balik sangat kuat, demo nelayan, viral di mana-mana, kekuatan ini sedang bermain untuk Ibu Susi ini diganti,” kata Budi Gunawan di acara Halaqah Ulama di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (13/7/2017). (Laporan Wartawan Tribunnews.com, Wahyu Aji/tribunnews.com/bh),

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*