Tentara Filipina Tak Beri Ruang Bergerak

Helikopter tentara Filipina terbang di dekat pusat kota Marawi, Provinsi Lanao del Sur, Filipina selatan, Sabtu (8/7). Tentara Filipina membombardir basis pertahanan kelompok Maute di kota Marawi lewat serangan udara pada Sabtu pagi. Berdasarkan data Angkatan Darat Filipina, hingga kini sebanyak 366 orang dari kubu kelompok Maute tewas sejak darurat militer ditetapkan Pemerintah Filipina pada 23 Mei.(Sumber: KOMPAS/HARRY SUSILO)

*Pagi-Petang, Bom Hujani Maute

MARAWI, Baranews.co – Aparat militer Filipina sama sekali tak memberi ruang bergerak bagi kelompok militan Maute. Sepanjang Sabtu (8/7), dari pagi hingga petang, mereka menghujani kubu pertahanan Maute dengan bom. Meski demikian, belum terlihat pertempuran bakal berakhir dalam waktu dekat.

Wartawan KompasB Josie Susilo Hardianto dan Harry Susilo, melaporkan dari kota Marawi, Filipina selatan, pada pagi hari, dipandu pesawat pengintai P-3C Orion, sejumlah OV-10 Bronco-pesawat tempur yang memiliki kemampuan antigerilya-menukik tajam ke arah pertahanan Maute sambil menjatuhkan bom. Hantamannya melemparkan banyak material ke udara. Asap hitam kecoklatan segera membubung.

Setelah mengulang beberapa kali, posisi pesawat-pesawat itu digantikan oleh pesawat lain yang juga bertugas menjatuhkan bom ke basis Maute. Menjelang tengah hari, giliran helikopter tempur menghujani kubu pertahanan Maute dengan rentetan peluru senapan mesin dan roket. Selepas siang, giliran jet-jet tempur Angkatan Udara Filipina memuntahkan bom mereka.

Juru bicara militer Filipina, Letnan Kolonel Jo Er Herrera, mengatakan, posisi kelompok teroris lokal itu kini kian terdesak. “Mereka hanya mampu bertahan,” kata Herrera.

Tekanan-tekanan yang diberikan tentara Filipina, kata Herrera, dioptimalkan untuk mempertahankan keuntungan strategis yang telah diperoleh. “Fokus kami saat ini ada tiga. Pertama adalah menetralisasi kelompok teroris lokal itu. Kedua, menyelamatkan lebih kurang 300 sandera dan menyiapkan proses rehabilitasi,” tutur Herrera.

Ia menjelaskan, para penembak runduk di gedung-gedung tinggi merupakan kesulitan utama yang dihadapi tentara Filipina. Itu sebabnya, militer Filipina memilih serangan udara untuk melumpuhkan Maute.

“Jika kami tidak menggunakan serangan udara, bakal jatuh banyak korban di kalangan tentara kami,” ujar Herrera.

Pertempuran di Marawi telah berlangsung lebih dari sebulan. Militer Filipina mengerahkan jet dan helikopter tempur, yang dilengkapi bom-bom dan roket, untuk menghantam Maute. Namun, kelompok militan ini masih tetap bercokol di beberapa bagian di kota Marawi.

“Salah satu alasan kami menggunakan aset-aset (kekuatan) udara, ini keuntungan yang kami butuhkan untuk menetralisasi posisi para penembak runduk,” kata Herrera. “Mereka menempati gedung-gedung tinggi. Jadi, kami harus berposisi lebih tinggi. Karena itu, kami memilih menggunakan serangan udara.”

“Misi belum selesai. Namun, kami dapat memastikan operasi ini sangat fokus, terutama untuk membawa Marawi damai kembali,” ujarnya.

Sikap warga

Harapan serupa diungkapkan sejumlah warga Marawi yang ditemui Kompas di sekitar Kantor Gubernur Lanao del Sur, Marawi. Mereka menegaskan tak mendukung Maute dan tak pernah sepakat dengan cara-cara yang mereka gunakan. “Itu bukan Islam,” kata Abdulmalik, warga Marawi.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kelompok militan Maute bersama dengan anggota Abu Sayyaf, yang dipimpin Isnilon Hapilon, menyerang tentara dan polisi Filipina pada paruh akhir Mei lalu. Serangan itu terjadi saat aparat keamanan hendak menangkap Hapilon di Marawi.

Kelompok Maute dan kelompok bersenjata pimpinan Hapilon telah menyatakan diri berbaiat kepada kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Serangan atas pasukan Filipina di Marawi menandai berkembangnya ideologi radikal model NIIS di kawasan Asia Tenggara. Saat pertama kali merangsek ke Marawi, anggota Maute dan Isnilon mengibarkan bendera NIIS.

Ancaman itu kemudian dihadapi angkatan bersenjata dan polisi Filipina dengan operasi militer besar-besaran. Bahkan, dalam pertempuran itu, Angkatan Udara Filipina menggunakan pesawat tempur terbaru mereka, FA-50 Golden Eagle. Pesawat buatan Korea Selatan itu digunakan untuk menjatuhkan bom berdaya ledak besar.

Pada saat yang sama, Angkatan Laut Filipina juga mengerahkan kapal perang baru yang beberapa bulan lalu dikirim oleh pabrik pembuatnya, PT PAL di Surabaya, untuk mengirim dukungan logistik, pasukan, dan kendaraan tempur ke Marawi. Mereka juga mendapat dukungan unit-unit lokal dari beberapa pemerintah daerah di sekitar Marawi.

Mereka turut mengawasi pesisir Danau Ranao yang mengitari Marawi. Tidak mengherankan jika banyak ditemukan pos-pos pemeriksaan di jalan lingkar di sepanjang tepi Danau Ranao, mulai dari Marawi hingga kota-kota kecil, seperti Wato Balindong dan Ramain.

Pada Jumat lalu, Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengunjungi kamp militer Filipina, sekitar 25 kilometer dari Marawi. Foto dan video yang dirilis kantor kepresidenan Filipina menunjukkan, Duterte berjalan bersama para tentara dan pembantunya di kamp tersebut.

Soal darurat militer

Duterte mengatakan, semula ia ingin terbang ke Marawi untuk menyuntikkan dukungan kepada tentaranya. Namun, rencana itu dibatalkan karena cuaca buruk.

Dalam kesempatan tersebut, Duterte pun mengisyaratkan kemungkinan memperpanjang 60 hari darurat militer di Filipina selatan karena situasi di wilayah itu masih kritis. Darurat militer saat ini akan habis masa berlakunya dalam dua pekan.

Duterte menegaskan, ia hanya akan mencabut status darurat militer jika militer dan polisi memberi tahu dirinya bahwa ancaman kelompok militan telah sirna. “Jika mereka mengatakan tidak ada lagi ancaman dan semuanya telah oke, saat itulah kami akan mencabut status darurat militer,” ujarnya. (AP/AFP/SAM)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*