Polisi Jangan Takut

Ilustrasi (Sumber: Nasional Kompas)

*Serangan Teroris terhadap Aparat Diperkirakan Terus Berlanjut

JAKARTA, Baranews.co – Kian intensnya serangan terhadap aparat Kepolisian Negara Republik Indonesia diharapkan tidak membuat institusi ini mengendurkan upayanya memburu para teroris. Pasalnya, langkah surut Polri justru berpotensi melahirkan aksi teror yang lebih besar.

Dalam sepekan terakhir, dua serangan teror terjadi. Jumat (30/6), dua petugas Brigade Mobil (Brimob) diserang seusai melakukan ibadah di Masjid Falatehan, Kebayoran Baru, Jakarta. Sebelumnya, Minggu (25/6), serangan terhadap polisi terjadi di Markas Kepolisian Daerah Sumatera Utara.

Tiga aksi teror menyasar anggota kepolisian dalam beberapa bulan terakhir, di antaranya bom Kampung Melayu; penembakan dua polisi di Tuban, Jawa Timur; dan penyerangan terhadap tiga polisi di Kepolisian Resor Banyumas, Jawa Tengah.

Pengamat terorisme Al Chaidar, saat dihubungi, Sabtu, memperkirakan, serangan terhadap polisi akan terus berlanjut. Pasalnya, ini sudah menjadi bagian dari instruksi dan strategi yang dijalankan oleh kelompok teroris di Indonesia yang berafiliasi dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).

“Di tengah pengejaran dan penangkapan yang makin intens, tidak ada pilihan lain bagi mereka untuk terus menyerang kepolisian,” katanya.

Serangan itu selama ini dilakukan saat polisi bertugas. Namun, menurut Al Chaidar, perlu diantisipasi pula kemungkinan serangan di rumah polisi.

“Harus diwaspadai strategi yang biasa diterapkan kelompok Al Qaeda. Mereka membuat serangan-serangan kecil untuk mengelabui aparat. Ujungnya, ada serangan besar yang justru luput untuk diantisipasi,” ujarnya sembari berharap polisi tak gentar.

Kondisi ini disadari oleh kepolisian. Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengatakan, polisi dijadikan target karena dinilai menghambat ideologi mereka. Tak hanya senjata api atau bom, senjata tajam juga digunakan untuk melukai target sesuai imbauan Bahrun Naim, salah satu tokoh NIIS. Setyo sudah meminta jajaran kepolisian untuk mewaspadai hal ini.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menilai penyerangan terhadap polisi sudah pada tahap memprihatinkan. Untuk itu, teror tersebut harus dilawan tidak hanya oleh kepolisian, tetapi juga masyarakat. Ia pun meminta pemerintah daerah meningkatkan koordinasi dengan tokoh setempat.

Dua orang diperiksa

Terkait teror di Masjid Falatehan, Jakarta, polisi telah meminta keterangan dua orang yang terkait dengan pelaku penyerangan, Mulyadi (28), pedagang kosmetik di Pasar Roxy, Bekasi. Kedua orang itu adalah Hendrianto, kakak ipar Mulyadi, dan kakak Mulyadi.

Kemarin, tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menggeledah kamar Mulyadi di Kompleks Cikarang Baru, Kertamukti, Cikarang Utara, Bekasi, dan toko Mulyadi.

Menurut Setyo, polisi masih mendalami jaringan Mulyadi. Namun, jika dilihat motif serangannya, diperkirakan Mulyadi termasuk dalam jaringan Jamaah Ansharut Daulah. (APA/ILO/D18)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*