Jalan Tol Belum Nyaman, Debu Jadi Masalah Utama

Ilustrasi (Sumber: Inapex)

 

BREBES, Baranews.co – Jalan tol fungsional Brebes-Gringsing yang akan digunakan pada 10 hari sebelum Lebaran dalam kondisi kurang memadai. Banyaknya debu, jalan bergelombang, penyempitan jalan di jembatan, dan kurangnya fasilitas tempat istirahat membuat perjalanan kurang nyaman.

Pada Senin (12/6), Kompas melakukan penelusuran sepanjang 36,5 kilometer dari Desa Pasekaran, Kabupaten Batang, yang merupakan lanjutan dari Jalan Tol Pemalang-Batang. Badan jalan terbuat dari lantai kerja cor beton atau lean concrete (LC) berketebalan 10 sentimeter dengan lebar 7 meter.

Setelah melewati jembatan Kandeman, kondisi jalan naik-turun. Sejumlah ruas jalan bersebelahan dengan tepi jurang. Di wilayah itu terdapat pembatas jalan di kedua sisi.

Tanah merah kering ditemukan di hampir sepanjang jalan. Jalur tanah itu juga menjadi akses bagi truk-truk pengangkut tanah. Setiap kali truk melintas, debu beterbangan di udara.

Di sejumlah ruas jalan tol fungsional, pasir masih berserakan. Apabila kendaraan roda empat melintas, debu akan menghalangi pandangan pengendara di belakangnya. Pembersihan jalur sudah dilakukan, tetapi baru di beberapa lokasi.

Patok pengarah (guideposts) terpasang setiap lima meter, di kedua sisi jalan. Reflektor atau bagian terang pada patok pengarah menyala jika tersorot cahaya lampu kendaraan. Reflektor berfungsi untuk mengatasi ketiadaan penerangan saat malam hari.

Adapun rambu-rambu yang telah terpasang adalah batas maksimal kecepatan 30 kilometer (km) per jam, peringatan jalan licin, tanjakan dan turunan curam, titik rawan longsor, serta hati-hati. Di persimpangan sebidang dengan jalan warga terdapat portal serta peringatan untuk menurunkan kecepatan menjadi 20 km per jam.

Sejumlah jembatan masih bersifat sementara, berjenis h-beam atau bailey. Jembatan bailey, antara lain, terdapat di atas Kali Roban dan Kali Urang.

Empat tempat istirahat (rest area) juga disiapkan di ruas tol fungsional Batang-Gringsing, yakni di daerah Juragan, Gondang, Ketanggan, dan Gringsing. Setiap tempat istirahat itu berukuran 27 meter x 225 meter, berkapasitas parkir 100 mobil.

Berdasarkan pantauan, tempat istirahat tersebut masih dibangun. Nantinya akan tersedia toilet, mushala, tenda kesehatan, dan ambulans.

Pemimpin Proyek Jalan Tol Batang-Semarang R Beni Dwi Septiadi mengatakan, dari 36,5 km (Batang-Gringsing) ada 82 meter yang belum dibeton LC. Dengan sisa waktu tersisa, dirinya yakin pengerjaan jalan tol fungsional akan rampung sehingga dapat dilalui para pemudik. Saat ini, pihaknya juga terus melakukan pembersihan jalur.

“Pembersihan baru akan optimal apabila truk-truk tidak melintas lagi di sisi jalur. Kemungkinan pada H-11 akan kami sterilkan sehingga pembersihan jalur dapat terlaksana dengan baik,” kata Beni.

Pada penelusuran di ruas Jalan Tol Pejagan-Batang, badan jalan dibuat dengan lebar tujuh meter dan dibagi dalam dua lajur, satu arah, dari Jakarta ke Semarang. Badan jalan bergelombang sehingga pengendara merasa tidak nyaman pada kecepatan 60 kilometer per jam.

Debu yang beterbangan membuat tanjakan dan turunan juga tidak telihat karena jarak pandang terbatas.

Di beberapa lokasi, jalur menyempit menjadi satu lajur karena harus melewati jembatan yang terbuat dari kayu. Penyempitan jalur ini dikhawatirkan memicu kemacetan.

Pada malam hari, kondisi menjadi lebih parah karena tidak ada penerangan yang memadai. Lampu jalan baru tersedia di tempat istirahat sementara dan di pintu masuk ruas Pejagan.

Debu membuat jarak pandang semakin pendek dan sangat rawan memicu kecelakaan. Reflektor pada patok pengarah berukuran sekitar 50 sentimeter tersebut juga tidak cukup membantu karena baru akan terlihat saat pengendara menyalakan lampu jarak jauh.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, jalan tol belum sempurna karena pengerjaannya belum selesai.

Namun, demi mencegah terulangnya kemacetan di pintu keluar Jalan Tol Brebes Timur, pemerintah membuka jalur tol ini secara fungsional. Oleh karena itu, pembenahan terus dilakukan agar jalur ini dapat dilewati dengan aman.

“Untuk arus mudik tahun ini, direncanakan jalan tol fungsional ini akan dibuka selama 24 jam. Namun, polisi yang berhak menutup jalan tol jika dinilai terlalu berbahaya pada malam hari. Jalur tol ini baru akan beroperasi secara penuh pada 2018 mendatang,” kata Basuki.

Basuki memerintahkan para pengelola jalan tol menyiram jalan secara rutin, satu hari sekali dan menambah reflektor jalan sebagai penanda bagi pengendara. Selain itu, pihaknya juga akan menyediakan tempat istirahat sementara bagi pemudik.

Tempat istirahat darurat

Direktur Operasi II Jasa Marga Subakti Syukur mengatakan, di setiap 10 kilometer pada jalur-jalur fungsional akan ada tempat istirahat darurat. Fasilitas yang tersedia adalah WC, kesehatan, dan tempat beristirahat.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Herry Trisaputra Zuna menerangkan, ada tiga pintu jalan tol utama dan delapan pintu jalan tol kondisional yang dapat dimanfaatkan para pemudik untuk keluar ke jalan arteri. Ketiga pintu jalan tol utama itu berada di Sewaka (Pemalang), Kandeman (Batang), dan Gringsing (Kendal). Pintu jalan tol kondisional berada di Ujung Rusi (Tegal), Karangjati (Tegal), Warureja (Pemalang), Beji (Pemalang), Bojong (Pekalongan), Segog (Batang), Banyuputih (Batang), Mentosari (Kendal). “Intinya, jangan sampai semua pengendara keluar di gerbang jalan tol yang sama,” kata Herry.

Subakti mengatakan, gardu jalan tol di Cikarang utama akan ditambah dari 13 gardu menjadi 20 gardu untuk mengatasi antrean yang menyebabkan macet.

Jasa Marga juga akan memasang remote traffic microwave sensor (RTMS) untuk memantau panjang kemacetan di Cikunir, Cikarang Utama, Dawuan, arah Purbaleunyi, dan Palimanan. Data dari RTMS tersambung ke markas Korps Lalu Lintas Polri dan menjadi dasar penentuan rekayasa lalu lintas oleh polisi.

Kementerian PUPR juga akan menyediakan kantong parkir, satu kilometer sebelum tempat istirahat. Kantong parkir itu dioperasikan untuk mengurangi kemacetan sebelum memasuki tempat istirahat. Terdapat delapan kantong parkir, dari Cikampek sampai Pemalang. (RAM/DIT/ESA/EKI/ECA)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*