IDEOLOGI NEGARA: Pancasila Perekat Bangsa Indonesia

Pelajar dan mahasiswa yang tergabung bersama Konsolidasi Mahasiswa-Pemuda Indoensia memberi hormat kepada bendera merah putih saat acara Proklamasi Kebangkitan Mahasiswa Pemuda Indonesia di Tugu Pahlawan, Surabaya, Jumat (7/4). Selain mengajak pemuda Indonesia untuk bersatu, mereka juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk kembali mengamalkan ajaran yang terkandung dalam Pancasila. (Sumber: KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA).

Oleh: RINI KUSTIASIH

JAKARTA, Baranews.co – Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2017 menjadi momentum untuk mengeratkan kembali kohesi sosial yang kian meluntur di antara anak bangsa. Sikap saling tidak percaya dan kecurigaan satu sama lain mesti dikikis dan diatasi dengan menentukan kembali orientasi bersama sebagai satu bangsa.

Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat, Rabu (31/5) menuturkan, kehidupan demokrasi dan penegakan hukum semestinya tidak mengarah kepada kekacauan kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, kondisi yang terjadi saat ini,  akibat pemikiran-pemikiran pragmatis yang berkembang dalam jalannya demokrasi dan penegakan hukum, tumbuh ketidakpercayaan di antara warga bangsa, dan fragmentasi menajam.

“Kondisi yang chaos (kacau) itu paradoks atau tidak sesuai dengan tujuan awal negara Indonesia didirikan. Cita-cita Indonesia sebagaimana termaktubkan di dalam alinea ke-empat Pembukaan UUD 1945 belum tercapai karena kehidupan demokrasi yang sebetulnya sarana atau proses untuk mempererat silaturahim antarwarga bangsa, tetapi ternyata malah memecah-belah akibat didasarkan pada pemikiran-pemikiran yang sangat pragmatis,” kata Arief.

Posisi Pancasila sebagai landasan negara dan ideologi nasional sangat sentral untuk memberikan panduan atau pun arahan ideologis bagi arah majunya bangsa. Kohesi sosial yang luntur adalah satu dari indikasi makin hilangnya orientasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut. Warga dan pemimpin mengalami disorientasi sehingga terjebak pada kepentingan praksis semata untuk pengisian jabatan Pilkada, legislatif, dan presiden.

Menurut Arief, para pendiri bangsa telah sangat jelas menempatkan orientasi kehidupan berbangsa itu di dalam Pembukan UUD 1945, dan mencakup di dalamnya nilai-nilai ideologi bangsa, Pancasila.

“Momentum peringatan Hari Lahir Pancsasila 1 Juni ini adalah momentum untuk mengembalikan orientasi bangsa, sekaligus mengatasi saling ketidakpercayaan atau distrust di antara anak bangsa,” katanya.

Lahirnya Pancasila, menurut Arief, juga sebaiknya menandai penghentian polemik berkepanjangan soal dasar negara. Pancasila sudah final dan sebaiknya tidak diutak-atik lagi.

“Dengan telah disampaikannya pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 tentang Pancasila, itu seharusnya telah menandai finalnya Pancasila, karena panitia sembilan ketika menyambut baik dan bertepuk tangan. Oleh karenanya, tidak perlu lagi sekarang Pancasila diutak-atik, sebab kalau diutak-atik lagi akan timbul kemunduran atau setback  dan memicu perpecahan,” kata Arief.

Oleh karenanya, tidak perlu lagi sekarang Pancasila diutak-atik, sebab kalau diutak-atik lagi akan timbul kemunduran atau setback  dan memicu perpecahan

Rasa saling percaya antarwarga bangsa juga dinilai perlu untuk ditumbuhkan kembali untuk mengatasi segala tantangan bangsa di depan. Warga bangsa perlu berkaca kepada para pendiri bangsa yang meskipun berbeda-beda pendapat, tetapi tidak kehilangan orientasi untuk membangun negara merdeka penuh cita-cita kemajuan dan berperadaban.

“Syaratnya ialah saling percaya, sebab dengan saling percaya maka perbedaan apapun bisa diatasi dengan memegang teguh prinsip demokrasi dan negara hukum,” ujarnya. Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*