Saran Bagi Orang Tua Agar Anaknya Tidak Ikut Geng Motor yang Agresif

Baru-baru ini beredar video geng motor remaja yang menyerang pemotor di bilangan Jagakarasa, Jakarta Selatan. Berita ini mendapat perhatian publik, walaupun video tersebut terjadi sekitar bulan Februari lalu.

Jakarta, Baru-baru ini beredar video geng motor remaja yang menyerang pemotor di bilangan Jagakarasa, Jakarta Selatan. Berita ini mendapat perhatian publik, walaupun video tersebut terjadi sekitar bulan Februari lalu.

Agar tak makin banyak remaja yang terlibat dalam kegiatan agresif yang meresahkan, ada pesan bagi orang tua. Yuk simak pesannya dari pakar kesehatan jiwa.

Psikiater anak Dr dr Tjhin Wiguna, SpKJ(K) menyarankan untuk mengalihkan energi remaja ke hal-hal yang bersifat positif. Untuk itu, orang tua punya peran yang sangat besar dan penting. Caranya adalah dengan mendampingi anaknya yang beranjak remaja.

Untuk diketahui, remaja seringkali mengikuti egonya sendiri. Apalagi di era teknologi yang semakin canggih dan fasilitas yang menunjang, mereka dapat dengan mudah mengakses internet dan tidak digunakan sebagaimana mestinya. Tanpa pendampingan dari orang tua, hal-hal ini akan berubah jadi hal yang negatif.

“Pemakaian internet tentunya tidak mengganggu jika kontennya juga bersifat edukatif dan positif. Sepertinya peran orang tua dan sekolah sangat penting untuk mendampingi dan memberikan masukan dalam menjelajah dunia maya,” ujar dokter yang berpratik di RS Cipto Mangunkusumo ini.

dr Tjhin menambahkan kegiatan positif untuk remaja yang bisa dilakukan antara lain olahraga dengan memanfaatkan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), kegiatan untuk meningkatkan kepedulian sesama, atau kegiatan berlandaskan keagamaan untuk saling berbagi dan mendukung satu dengan yang lainnya.

Jika anak dan remaja terlibat dalam kegiatan negatif, ada baiknya orang tua melakukan introspeksi. Bisa jadi selama ini kurang ada pendampingan dan pengarahan untuk kegiatan yang positif, sehingga mereka mudah terpengaruh dan ikut-ikutan melakukan kegiatan negatif.

“Jadi, intinya adalah edukasi,” pungkas dr Tjhin (detik.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*