LIGA INGGRIS: Berkah “Palu” Tetangga untuk Chelsea

Ilustrasi (Sumber: leaguelane.com)

LONDON, Baranews.co – Musim ini, derbi-derbi London menjadi pusat konstelasi persaingan trofi juara Liga Inggris. Sempat percaya diri meraih trofi seusai berjaya di derbi London utara, mimpi Tottenham Hotspur itu mulai menguap setelah dipukul “palu” tim tetangga, West Ham United, 0-1, Sabtu (6/5) dini hari WIB.

Kekalahan dari West Ham, tim berjuluk “Palu Godam”, membuat langkah gemilang Spurs terhenti. Sebelum derbi itu, Spurs selalu menang di sembilan laga Liga Inggris secara beruntun.

Mereka bahkan menyandang gelar tak tertulis, “raja London”, setelah mengalahkan tiga wakil London lainnya, yaitu Chelsea, Crystal Palace, dan Arsenal, sepanjang musim ini.

Namun, kegagalan membekap tim London lainnya, West Ham, berdampak signifikan pada upaya Spurs mengejar Chelsea di puncak Liga Inggris. “The Blues” kini hanya butuh dua kemenangan di empat laga tersisa untuk meraih trofi Liga Inggris keduanya dalam tiga musim terakhir.

Trofi itu dapat digenggam pasukan Manajer Antonio Conte pekan depan jika mampu mengalahkan Middlesbrough, Selasa (9/5) dini hari WIB, dan West Bromwich Albion, Sabtu (13/5).

“Kami telah begitu dekat dengan Chelsea, memangkas (selisih poin) menjadi hanya empat. Namun, saat ini, (trofi Liga Inggris) nyaris mustahil. Kekalahan ini sungguh disesalkan,” ujar Eric Dier, bek Spurs, yang mulai melupakan mimpi mengakhiri paceklik trofi Liga Inggris klubnya dalam 56 tahun terakhir.

Duel West Ham kontra Spurs ternyata tidak hanya diikuti fans kedua tim. Suporter tim tetangga di wilayah selatan Sungai Thames, yaitu Chelsea, juga menyaksikan laga itu dengan penuh harap. Begitu laga ini berakhir, jagat Twitter pun riuh oleh sorakan kebahagiaan fans Chelsea.

“Kata-kata tidak cukup untuk mengungkapkan terima kasih kami kepada West Ham United. Dua lagi kemenangan dan Chelsea menjadi kampiun Liga Inggris,” kicau Muna Michael, fans fanatik The Blues, melalui akun Twitter-nya.

Euforia reaksi fans Chelsea seperti Michael mungkin terlalu berlebihan mengingat The Blues belum mengangkat trofi. Namun, jasa dari West Ham itu bisa mempercepat ambisi meraih trofi Liga Inggris keenam mereka.

Itu sekaligus bisa menghindari pengalaman patah hatinya Manchester United pada musim 2011-2012. Pada musim tersengit Liga Inggris sepanjang sejarah itu, MU kehilangan gelarnya dari rival tetangga, Manchester City, di detik-detik akhir laga terakhir.

Dalam skala yang berbeda, The Blues dan penggemarnya mengalami roller coaster emosi nyaris serupa rivalitas MU dan City pada musim itu. Chelsea, yang sempat terbenam, bahkan nyaris terdegradasi musim lalu, “terbang” di bawah komando Conte, manajer asal Italia yang menggantikan Jose Mourinho musim panas lalu.

Sempat tidak tersentuh pada pertengahan musim, Chelsea kembali membumi seusai dipecundangi Spurs di derbi London, 5 Januari lalu. Kekalahan itu memutus rekor 13 kemenangan beruntun Chelsea di Liga Inggris.

Sempat kembali berlari, derbi London lagi-lagi menghantui The Blues. Mereka kembali takluk dari tim sekota, Crystal Palace, pada 1 April lalu. Tidak tanggung-tanggung, kekalahan memalukan itu terjadi di Stadion Stamford Bridge, “rumah” mereka.

Spurs pun berada tepat berada di belakang mereka, yaitu terpaut empat poin, seusai Chelsea kalah dari Manchester United, 16 April silam. Tak disangka, selisih poin itu kini berpeluang kembali melebar berkat derbi London lainnya, West Ham kontra Spurs.

Peluang emas untuk mempercepat kepastian gelar itu enggan disia-siakan Conte dan timnya. Ia enggan terbawa euforia kekalahan Spurs dan memilih fokus pada laga kontra Middlesbrough. “Kami harus meraih tiga poin. Namun, laga ini tidak akan mudah. Middlesbrough tengah berjuang keluar dari zona degradasi. Kami harus siap berjuang,” ujar Conte mengingatkan timnya.

Mantan pelatih tim nasional Italia itu tidak ingin The Blues mengulangi kesalahan serupa saat dibekap Palace, 1-2, di Stamford Bridge. Ketika itu, serupa Middlesbrough, Palace tengah berjuang keluar dari zona degradasi. Itu menjadi motivasi ekstra Palace menghadapi Chelsea, tim sekotanya.

Terbiasa dengan tekanan

Namun, Conte terbiasa dengan tekanan. Sempat tidak diunggulkan, ia membawa bekas timnya, Juventus, menjadi juara Liga Italia pada 2011. Itu adalah trofi pertama mereka sejak terbenam di divisi kedua pasca-calciopoli atau skandal pengaturan skor.

Prestasi istimewa pada musim debutnya di Liga Italia Serie A itu berpotensi besar direplikasi Conte di Liga Premier Inggris. Conte bahkan berpeluang melewati kesuksesan di Italia jika membawa Chelsea meraih trofi ganda, Liga Inggris dan Piala FA, dalam debutnya di tanah Britania.

Chelsea akan berduel dengan Arsenal di final Piala FA, 27 Mei mendatang. “Saya punya pengalaman bagus menghadapi situasi ini. Saya berharap dapat merayakan gelar penting bersama para pemain (Chelsea) di akhir musim ini. Untuk itu, kami terus bekerja keras,” tutur Conte bertekad.

Sementara itu, tekad Manchester City finis empat besar pada akhir musim kian mendekati kenyataan seusai menggilas Palace, 5-0, Sabtu malam. Kemenangan itu sekaligus menandai kembalinya gelandang David Silva yang sempat dibekap cedera.

Hadirnya Silva kembali memperkaya kreasi serangan “The Citizens”. Ia bahkan langsung mencetak gol begitu laga berjalan 2 menit. Gabriel Jesus, striker muda yang sempat cedera panjang, melengkapi kemenangan City lewat asisnya bagi Kevin De Bruyne pada menit ke-59. (AFP/Reuters/JON)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*