Lagu Beyonce ‘Promosikan Seks Positif bagi Perempuan’

Apa itu 'Feminisme ala Beyonce'? Pertanyaan ini telah menjadi pembahasan di banyak kicauan, blog, dan obrolan-obrolan di pub.

Baranews.co – Apa itu ‘Feminisme ala Beyonce’? Pertanyaan ini telah menjadi pembahasan di banyak kicauan, blog, dan obrolan-obrolan di pub.

Tapi ini juga menjadi dasar disertasi sosiologi yang ditulis oleh mahasiswa University of Warwick di Inggris.

Selama satu tahun terakhir, Molly Inglis, 20, menganalisis lirik-lirik lagu Beyonde yang total berjumlah 10.000 kata, dan kini dia menyerahkan esai setebal 66 halaman itu ke pembimbingnya.

“Dia mempromosikan pesan seks yang sangat positif,” kata Molly kepada BBC Newsbeat.

Hal yang paling menarik dari penelitiannya adalah tentang pandangan Beyonce tentang perempuan dan seks dan bagaimana dalam beberapa tahun terakhir penyanyi itu menganut feminisme dengan caranya sendiri.

Inglis memfokuskan risetnya pada dua album terakhir Beyonce yang berjudul Beyonce (2013) dan Lemonade (2016).

GettyHak atas fotoGETTY IMAGES

“[Beyonce] mendorong perempuan menjadi seksual untuk mengendalikan urusan di kamar tidur dan juga melakukan hubungan seks untuk diri mereka sendiri, untuk kesenangan mereka sendiri,” katanya.

Para penggemar telah lama menghubungkan Queen Bey ini dengan gerakan pemberdayaan perempuan dan remaja: dari hari-harinya di Destiny’s Child hingga lagunya Flawless, yang mengutip penulis Chimamanda Ngozi Adichie.

Walau lagu Formation, dari Lemonade, secara luas ditafsirkan sebagai protes tentang perlakuan polisi terhadap komunitas kulit hitam, dan gerakan Black Lives Matter, Molly mengatakan bahwa lagu itu juga berbicara langsung kepada perempuan.

“Saya suka liriknya; ‘Now ladies let’s get in formation’,” kata Inglis “Saya percaya itu memiliki makna ganda.”

“Lagu ini meminta perempuan untuk berkoordinasi bersama (get in formation), tapi juga untuk mencari informasi (get information)– untuk mendapatkan pengetahuan tentang apa yang sedang terjadi, dan kemudian memprotesnya.”

Setelah menganalisa dua albumnya, Inglis mengatakan Beyonce banyak bernyanyi tentang pro dan kontra pernikahan.

BEYONCE.COMHak atas fotoBEYONCE.COM
Image captionBeyonce baru-baru ini merilis rangkaian foto kehamilannya.

Pembimbing Inglis sedikit terkejut dengan topik disertasinya, namun dia mengatakan bahwa ini membuktikan betapa sosiologi sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Dan tidak mengherankan jika dia menolak berbagai kritik terhadap peraih banyak penghargaan Grammy itu.

“Kritikan pada Beyonce yang merangkul feminisme dilontarkan karena dia seorang seniman kulit hitam,” katanya. “Seniman kulit putih yang melakukan hal yang sama tidak dikritik dengan cara yang sama.”

“Saya pikir tindakannya merangkul feminisme adalah hal yang sangat bagus, karena ia memindahkan feminisme dari teks akademis ke cara pemahaman yang lebih mudah diakses.”

Inglis mengaku tergoda untuk memberi tahu Beyonce bahwa dia adalah subjek disertasinya. “Jika dia benar-benar membacanya, itu akan membuat hidup saya berarti.” (bbc.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*