Berpolitik dan Beragama: Pandangan Politisi Ateis Dalam Berpolitik di Australia

Lee Rhiannon mengaku kagum dengan kehidupan setelah belajar ilmu tumbuhan dan binatang. (Sumber: australiaplus.com/ABC News: Alexandra Beech)

Ia berjalan di gedung yang penuh kekuasaan, tapi fokus Lee Rhiannon justru ruang hijau di luar yang dilihatnya melalui jendela.

Baranews.co – Senator dari Partai Hijau New South Wales masih membaca buku-buku tentang tumbuhan di tempat tidurnya. Ia juga menyimpan daftar spesies burung yang pernah dilihatnya di Gedung Parlemen House, Canberra. Baru saja jumlahnya mencapai puluhan.

Baginya, daya tarik pada alam memiliki dimensi spiritual.

Lee adalah seorang ateis yang kuat. Orang tuanya juga ateis dan mengatakan pada sekolahnya dulu jika ia tak biarkan anaknya masuk ke kelas agama.

Tapi dia mengatakan memiliki perasaan kuat soal alam dan percaya akan “spiritualitas yang terpusat bukan pada Tuhan.”

“Saya benar-benar ingin menggunakan kata ‘spiritualitas’ dengan hati-hati, karena bagi banyak orang itu itu berarti roh, seperti hal-hal di luar sana,” katanya.

"I walk around the building a lot. The gardens are absolutely exquisite" (April 2017)
Senator dari Partai Hijau, Lee Rhiannon berjalan-jalan di taman gedung Parliament House. (ABC News: Alexandra Beech)

 

“Saya sama sekali tidak melihat dunia seperti itu.”

“Saya merasa sulit menemukan bahasa yang tepat, terutama karena kecintaanku pada lingkungan, ketertarikan saya pada orang-orang, Anda merasakan hubungan yang dalam dan ikatan yang luar biasa ini.”

Tapi ia telah belajar untuk menghormati kepercayaan dan keyakinan orang lain dari orang tuanya.

Senator Lee dan orang tuanya akan membahas keadaan dunia di meja makan.

Lee Rhiannon is 'very proud' of her parents' involvement in fighting for causes such as Indigenous rights. (April 2017)
Lee Rhiannon bangga akan orang tuanya yang aktif membela hak suku Aborigin. (ABC News: Alexandra Beech)

 

Bahkan bertahun-tahun kemudian, saat ayahnya menderita penyakit Alzheimer, keluhannya tentang kolam di daerahnya membuat ayahnya bisa berpikir sangat jelas.

“Tiba-tiba ia berkata kepada kami, dengan jelas, ‘lalu apa yang kamu lakukan soal itu?’,” kata Senator Lee.

“Menyedihkan di satu sisi, tapi membuat saya tertawa juga karena sepertinya semua sel otaknya atau apa pun yang masuk ke pikiran Anda seperti terus berdatangan.”

“Seperti itulah saya tumbuh dewasa.”

Orang tua Rhiannon berkampanye mengenai isu-isu seperti hak Aborigin, Perang Vietnam, anti-Apartheid dan hak-hak perempuan.

A gift from the Ho Chi Minh Communist Youth Union among the knick-knacks in Senator Lee Rhiannon's office. (April 2017)
Hadiah dari Komunitas Pemuda Komunis Ho Chi Minh di kantor Senator Lee Rhiannon. (ABC News: Alexandra Beech)

 

Tapi selama karir politiknya, fokusnya lebih sering pada fakta bahwa mereka adalah Komunis.

Ia mengatakan hal tersebut mengingatkannya pada McCarthyisme.

“Beberapa hal yang terjadi belakangan ini sangat mengingatkan saya pada Perang Dingin, saat saya dibesarkan, di mana orang-orang berkoar-koar soal nama, slogan, dan mereka sebenarnya tidak melihat apa yang orang lakukan,” katanya.

Lee Rhiannon says one of her greatest fascinations is evolution and the anatomy of mammals. (April 2017)
Senator Rhiannon kagum dengan evolusi dan anatomi mamalia. (ABC News: Alexandra Beech)

 

Senator Lee pernah pergi ke Rusia bersama pasangannya di tahun 1970an. Disana ia belajar ekonomi politik, filsafat, khususnya filsafat Marxis.

Ia mengatakan waktu yang mencerahkan dirinya adalah saat berada di bawah Leonid Brezhnev [pemimpin Komite Pusat Partai Komunis Uni Soviet dari tahun 1964 hingga 1982]

“Kita berada di tengah-tengah Perang Dingin, ingat kan?” katanya.

“Dan ini adalah negara yang sering diserbu berkali-kali, memiliki kekakuan saat mereka berinteraksi baik dengan warga mereka sendiri atau dunia lainnya,”.

“Kekakuan bisa dipahami, tapi saya senang tinggal di Australia.”

Ia juga mengaku seiring waktu, ia sudah belajar untuk tidak terlalu mempercayai media.

Salah satu contohnya adalah laporan selama bertahun-tahun soal mengapa ia memilih nama keluarganya.

Lewat bantuan teman-teman, ia memutuskan nama “Rhiannon”, sebagai alternatif untuk kembali ke nama gadisnya.

Tapi di satu waktu, berbagai laporan muncul karena nama itu diambil dari lagu Fleetwood Mac, atau diambil dari nama seorang dewi Celtic.

“Tidak satupun dari mereka yang benar,” katanya.

“Teman-teman saya yang sangat membantu dan saya ingin mengganti nama saya.”

Lee Rhiannon points out the distinctive leaves on her favourite tree at Parliament House. (April 2017)
Lee Rhiannon menunjukkan perbedaan daun-daun dari pohon favoritnya. (ABC News: Alexandra Beech)

 

Terlepas dari frustrasinya, ia mengatakan jika politik telah membuat hidupnya “kaya” dan memberinya harapan.

“Ketika saya tumbuh dewasa, saya tidak pernah mengira Perang Vietnam akan berakhir, tidak pernah mengira Apartheid akan berakhir,” katanya.

“Saat saya berbicara dengan orang-orang yang sering merasa kehilangan semangat saat melakukan kampanye, saya merujuknya pada apa yang saya tak percaya saat itu.”

Lee Rhiannon sums up her political focus in three words - equality, environment and democracy. (April 2017)
Lee Rhiannon menyimpulkan politiknya dalam tiga kata: kesetaraan, lingkungan, dan demokrasi. (ABC News: Alexandra Beech)

 

Simak cerita dalam serial Berpolitik dan Beragama, dari para politisi di Australia lainnya. Reporter politik Alexandra Beech akan menyelami keyakinan dan prinsip yang mempengaruhi politisi federal Australia. Para politisi Australia yang dibahas adalah Ed Husic, Andre Wallace, Lee Rhianon, Andrew Hastie, Andrew Broad, dan Tony Burke. (Alexandra Beech/ABC News/ab: Erwin Renaldi/australiaplus.com/swh).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*