BINTANG TENIS: Sharapova, Dirindu dan Dicerca

Sumber: Harian KOMPAS

Baranews.co – Masa skors 15 bulan bagi bintang tenis Maria Sharapova akibat doping akan berakhir 26 April ini. Partisipasinya pada turnamen tanah liat di Stuttgart, Jerman, 24-30 April, dinanti penggemar dan penyelenggara turnamen. Namun, tak semua senang dengan akan kembalinya Sharapova tersebut.

Maret 2016, Sharapova menggelar konferensi pers di sebuah hotel di Los Angeles, Amerika Serikat. Jurnalis yang datang ke acara itu menduga Sharapova akan mengumumkan pensiun sebagai petenis profesional, profesi yang dijalani sejak 2001.

Nyatanya, pengumuman yang dibuat lebih mengejutkan. Dia mendapat hasil positif pada tes doping yang dijalani saat mengikuti Grand Slam Australia Terbuka, Januari 2016. Sharapova mengakui mengonsumsi zat terlarang, meldonium. Namun, dia menegaskan ketidaktahuannya bahwa zat itu telah digolongkan sebagai zat doping oleh Badan Anti-doping Dunia (WADA) sejak awal Januari 2016.

“Saat dia memanggil saya untuk membaca surat elektronik dari Federasi Tenis Internasional (ITF), yang menyatakan hasil tes, dia sangat terguncang,” ujar pelatih Sharapova, Sven Groeneveld, dalam The Times, Sabtu (15/4).

Ketika hasil tes diumumkan, Sharapova kebingungan. Dia tak mengenal meldonium. Dia pun mencari informasi tentang meldonium di internet. Ternyata, dia mengenalnya dengan nama mildronate, obat yang rutin dikonsumsinya sejak 2005.

Obat itu diresepkan dokter di Moskwa, Rusia, untuk mengobati kelainan metabolisme mineral dalam tubuhnya. Sistem kekebalannya perlu ditingkatkan karena nutrisi dari makanan tak bisa memenuhinya.

Ayahnya, Yuri Sharapov, mengajak ke dokter karena Sharapova sering terkena batuk, flu, dan nyeri perut bagian atas. Puluhan suplemen dan obat diresepkan dokter, termasuk meldonium.

Sharapova lantas mengajukan banding pada Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), yang akhirnya menurunkan skors dari dua tahun menjadi 15 bulan.

Oleh karena banyak atlet Rusia yang mengonsumsi meldonium, WADA menyelidiki obat tersebut pada 2015 hingga akhirnya memasukkan dalam daftar zat terlarang sejak Januari 2016. Peringatan diumumkan WADA, ITF, dan Asosiasi Tenis Putri (WTA) sejak Desember 2015, tetapi Sharapova dan timnya tak mengetahuinya.

Inilah yang menjadi bahan kritik Sharapova. Dia menyayangkan ITF yang tak memberi tahu secara personal. Namun, skors tetap dijatuhkan.

Sharapova pun mengisi waktu skors dengan mengelola bisnis permen dan cokelat, Sugarpova, yang didirikan pada 2012. Dia juga mengikuti kursus bisnis di Sekolah Bisnis Harvard, Boston, AS. Petenis yang selalu tampil modis ini juga menghadiri berbagai acara mode, seperti Pekan Mode New York.

Aktivitas-aktivitas itu selalu diunduhnya dalam berbagai media sosial, termasuk program latihan untuk kembali bersaing di lapangan tenis.

Kontroversi “wild card”

Turnamen tanah liat di Stuttgart, yang pernah dijuarai Sharapova pada 2012-2014, menjadi turnamen pertama yang memberi wild card kepada Sharapova setelah dia kehilangan peringkat dunia. Dia juga mendapat wild card dari penyelenggara turnamen berlevel lebih tinggi, di Madrid (Spanyol) dan Roma (Italia). Ketiganya merupakan turnamen pemanasan Grand Slam Perancis Terbuka.

Beberapa petenis berpendapat, Sharapova tak layak mendapat wild card dari setiap turnamen. Apalagi, panitia penyelenggara Perancis Terbuka dan Wimbledon berencana memberi wild card kepada petenis berusia 30 tahun itu.

Andy Murray, Angelique Kerber, Kristina Mladenovic, Caroline Wozniacki, dan Dominika Cibulkova menilai Sharapova tak layak mendapat perlakuan istimewa karena diskors doping. Hanya Venus Williams dan Karolina Pliskova yang menyambut positif kembalinya Sharapova.

Selama ini, tenis belum pernah dihadapkan pada persoalan kembalinya atlet yang kehilangan peringkat dunia dari status sebelumnya sebagai petenis di peringkat lima besar dunia. Apalagi, dia mendapat sanksi karena doping.

Petenis putra Kroasia, Marin Cilic, pernah diskors doping selama empat bulan pada 2013. Peringkatnya turun dari ke-11 menjadi ke-50. Cilic tak memerlukan wild card untuk tampil di turnamen karena dia masih bisa tampil sejak babak kualifikasi.

Pemimpin Eksekutif WTA Steve Simon berpendapat, penyelenggara turnamen bebas untuk menyambut Sharapova. “Wild card diberikan karena pertimbangan prestasinya. Apalagi, dia telah menyelesaikan skors,” kata Simon dalam New York Times, 9 Maret.

Sharapova pernah menjadi petenis nomor satu dunia pada 2005. Dia lima kali juara Grand Slam, lengkap dari Australia Terbuka, Perancis Terbuka, Wimbledon, dan AS Terbuka. Dia pun menjadi salah satu dari dua petenis putri dengan daya jual tinggi untuk sebuah turnamen, selain Serena Williams. Hampir semua perusahaan besar, yaitu Nike, Evian, dan Porsche, bertahan jadi sponsor meski Sharapova diskors.

Kepentingan bisnis memang tak terelakkan ketika wild card diberikan kepada Sharapova. Namun, Simon memastikan tak ada keistimewaan untuknya. Sharapova tak boleh berada di tempat pertandingan di Stuttgart sebelum 26 April.

“Saya tidak bisa mengontrol pikiran orang lain. Banyak hal penting yang bisa saya lakukan daripada memikirkan pendapat orang lain,” ujar Sharapova.

Selamat datang kembali Sharapova.. (IYA)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*