Gertakan Militer Trump

Sumber: dw.com

Donald Trump belum genap 100 hari memangku jabatan sebagai presiden AS, tapi sejumlah aksi militer riskan sudah ia lancarkan. Bagaimana dampaknya pada perdamaian global?

 

Syrien USA Luftangriff auf Militärbasis (picture-alliance/AP Images/US Navy/F. Williams)

Tomahawk Buat Assad

Trump kerap tabuh genderang perang dan lontarkan ancaman opsi militer lewat pesan pendek twitter. Aksi nyata baru dilakukan awal April 2017 dengan serangan peluru kendali Tomahawk ke pangkalan angkatan udara Suriah. Pemicunya tuduhan bahwa pasukan Al Assad lancarkan serangan gas beracun ke kawasan yang dikuasai pemberontak Suriah dan tewaskan 80 warga sipil.

Russland Treffen von Lavrov, Javad Zarif und Muallem in Moskau (Reuters/S. Karpukhin)

Rusia dan Iran Disasar

Sasaran sebetulnya dari serangan rudal Tomahawk itu adalah Rusia dan Iran. Moskow yang jadi sekutu erat rezim di Damaskus hendak ditekan untuk menceraikan Bashar al Assad. Rusia dan Iran balik meminta pengusutan independen terkait kasus serangan gas beracun di kubu pemberontak itu.

USS Carl Vinson (picture-alliance/Zumapress/M. Brown)

Korea Utara Digertak

Serangan rudal ke Suriah juga disebut untuk membuat jera rezim Korea Utara. Sebagai gertakan tambahan, Trump memerintahkan armada pemukul Carl Vinson mengubah haluan ke perairan Korea. Jawaban dari Pyongyang cukup tegas, jika diserang negara komunis itu akan membalas tanpa ampun, bahkan dengan senjata atom.

US Raketenabwehrsystem THAAD (Reuters/U.S. Department of Defense/Missile Defense Agency)

Manuver dengan Korea Selatan

Gertakan AS ditambah dengan latihan pengerahan logistik perang bersama Korea Selatan. Latihan Militer ini diikuti 50 kapal perang, ratusan kendaraan berat dan lebih 7000 serdadu. Sebelumnya Washington juga mengirim sistem penangkis rudal THAAD ke Korsel, yang memicu kemarahan Cina.

GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast bomb (picture-alliance/DoD/Newscom)

Induk Semua Bom buat ISIS

Belum lagi konflik mereda, Trump perintahkan aksi militer menghebohkan. Yakni melancarkan pemboman dengan“Induk Semua Bom“ atau MOAB yang merupkan bom non-nuklir terkuat ke sarang Islamic State –ISIS di Afghanistan. Tujuannya menghancurkan jaringan terowongan bawah tanah milik ISIS. Korban tewas lebih 100 anggota militan.

US Navy USS Carl Vinson Kampfjets Vorbereitung Einsatz (picture-alliance/AP Photo/Hasan Jamali)

Siapkan Bom Atom?

Kini militer AS juga mulai menguji coba bom atom versi terbaru dari tipe B61-12. Disebutkan, bom seberat 350 kg itu punya daya ledak 10 kali lipat bom non-nuklir terbesar MOAB. Apakah AS juga akan mengerahkan bom atom sebagai gertakan militer? Apakah Trump berani memicu perang atom? Semua diamati dengan tegang. Foto: rudal di armada Carl Vinson. [Ed: as/ap (dari berbagai sumber)/dw.com/swh].

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*