Pelemparan Petasan di Gereja Jago: Pelaku ‘Dimanfaatkan’ untuk Aksi Teror

Pelaku yang berinisial MF diduga mengalami gangguan jiwa, kata polisi. (Sumber: BBC Indonesia/MABES POLRI)

SEMARANG, Baranews.co – Pelaku pelemparan petasan ke Gereja Jago di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, yang diduga mengalami gangguan jiwa, kemungkinan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan teror, kata polisi.

Pria berinisial MH yang berusia 37 tahun melemparkan petasan ke depan gereja tersebut, Kamis (13/04) siang.

Insiden ini terjadi saat pengurus gereja tengah mempersiapkan misa Kamis Putih. Pelaku lantas diamankan warga dan diserahkan kepada aparat kepolisian.

Dari terduga pelaku, polisi menemukan beberapa barang bukti, seperti 16 buah petasan, korek api dan sejumlah botol minuman yang sebagian pecah.

Hasil pemeriksaan polisi dan keterangan sejumlah saksi mengungkapkan bahwa warga Kelurahan Bergas, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang itu mengalami gangguan jiwa.

“Selain pernah beberapa kali dirawat di rumah sakit jiwa, kondisi ibu kandungnya serta saudaranya juga pernah mengalami gangguan jiwa,” kata Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Boy Rafli Amar, dalam pesan tertulisnya yang diterima BBC Indonesia, Jumat (14/04) siang.

‘Dimanfaatkan untuk melakukan teror’

Polisi menduga, pelaku tidak pernah pergi jauh dari lingkungan tempat tinggalnya. “Kemungkinan perbuatan MF dimanfaatkan kondisi kejiwaannya oleh pihak-pihak yang yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan aksi teror,” kata Boy Rafli.

Sejauh ini polisi masih melakukan pendalaman terkait aksi yang dilakukan MF serta meningkatkan pengamanan di tempat-tempat Ibadah dan instansi militer/sipil serta obyek vital.

Setelah mengamankan MF, polisi mewawancarai sejumlah saksi mata, diantaranya Pono, Ketua RT di lokasi tempat tinggal pelaku. Saksi mengukuhkan bahwa MF sudah lama mengidap gangguan jiwa.

“MF sudah berapa kali masuk RS Jiwa  dan aktivitas sehari-sehari hanya wira-wiri (hilir-mudik) di jalan di sekitar lingkungan dan tidak pernah pergi jauh,” ungkap Boy Rafli, menirukan hasil penyelidikan kepolisian setempat berdasarkan keterangan saksi.

Karena tidak bisa memintai keterangan langsung dari MF, polisi kemudian mewawancarai saudaranya, warga dan perangkat desa untuk mengetahui latar belakang pelaku. (BBC Indonesia/swh),

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*