2016 Ekonomi Kalsel Tumbuh 4,38 Persen, Presiden: Segera Realisasi Kawasan Industri Batulicin dan Jorong

Presiden Jokowi Pimpin Ratas bahas Evaluasi Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional & Program Prioritas Provinsi Kalsel, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (10/4). (Sumber: setkab.go.id/Humas/Jay)

Sempat menghadapi dampak dari turunnya harga komoditas di pasaran dunia, pada tahun 2016 pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan kelihatan sudah mulai naik lagi menjadi 4,38 yang sebelumnya 2015 berada pada angka 3,84 persen.

JAKARTA, Baranews.co – Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat memberikan pengantar pada Rapat Terbatas Mengenai Evaluasi Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional dan Program Prioritas Provinsi Kalimantan Selatan, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (10/4) siang.

Peningkatan ini, menurut Presiden, hal yang sangat baik dan ekspor komoditas andalan di Provinsi Kalimantan Selatan seperti batubara, CPO, karet juga harganya mulai sedikit naik.

“Ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan kontribusi ekspor neto di 2016 mengalami kontraksi lebih dari 5 persen dari tahun sebelumnya,” jelas Presiden.

Lebih lanjut, Presiden sampaikan bahwa ketergantungan perekonomian Kalimantan Selatan pada ekspor komoditas bahan mentah, terutama pertambangan menyimpan sebuah kerentanan.

“Data yang saya miliki memperlihatkan 20,87 persen perekonomian Kalimantan Selatan berasal dari kontribusi sektor pertambangan,” ungkap Presiden.

Untuk itu, Presiden minta ketergantungan pertambangan harus sedikit mulai sedikit dikurangi dengan menggeser ke arah pengembangan sektor unggulan, seperti pertanian, kehutanan, perikanan, serta industri pengolahan.

“Yang paling penting yang terakhir tadi, industri pengolahan, artinya bahan-bahan mentah yang ada di sana harusnya bisa diarahkan untuk masuk ke industri pengolahan,” tutur Presiden ke-7 Republik Indonesia ini.

Saat ini, menurut Presiden, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan memiliki kontribusi 14,91 persen yang diikuti dengan industri pengolahan di angka 13,98 persen.

Terkait dengan pengembangan sektor pertanian dan perkebunan, Presiden minta fokus untuk pengembangan produk unggulan daerah dan disiapkan infrastruktur penunjangnya.

“Saya ingatkan agar pengembangan sektor pertanian, perkebunan harus betul-betul terintegrasi dengan industri pengolahan, sehingga memiliki multiplier effect yang lebih besar bagi perekonomian daerah,” tambah Presiden.

Hilirisasi Pembangunan

Hilirisasi, tambah Presiden, adalah sebuah keharusan dalam membangun Kalimantan Selatan. Ia juga menyampaikan hilirisasi akan berikan nilai tambah bagi ekonomi daerah, dan diharapkan juga mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja serta membuat pembangunan Kalimantan Selatan lebih merata.

Untuk mempercepat pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di Kalimantan Selatan,  Presiden minta pembangunan kawasan industri di Batu Licin dan kawasan industri Jorong segera, harus segera terealisasi.

“Pembangunan dua kawasan industri ini pasti memerlukan dukungan infrastruktur penunjang, seperti akses ke kawasan, tenaga listrik, air bersih, dan yang tidak kalah pentingnya adalah terpadu, terintegrasi dengan pelabuhan yang ada,” pungkas Presiden.

Turut mendampingi Presiden dalam Rapat Terbatas tersebut, Menko Polhukam Wiranto, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Seskab Pramono Anung, Mensesneg Pratikno, KSP Teten Masduki, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Menteri BUMN Rini Soemarno, Mendagri Tjahjo Kumolo, Menperin Airlangga Hartarto, Mendag Enggartiasto Lukita, Menteri PUPR Basuki Hadimoeljono, Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menkes Nila Moeloek, Menristek Dikti M Nasir, Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan Djalil, Mendikbud Muhadjir Effendy, Kepala BKPM Thomas Lembong, Kepala BPKP Ardan Adiperdana, Gubernur Kalsel H. Sahbirin Noor.(DNA/FID/JAY/EN)/setkab.go.id/swh

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*