Jaringan Mafia Diburu, Tujuh Berkas Sengketa Pilkada Dicuri dari MK

Sumber: Komisi Informasi

JAKARTA, Baranews.co – Orang-orang yang terlibat dalam pencurian berkas perkara sengketa Pilkada Kabupaten Dogiyai, Papua, di Mahkamah Konstitusi terus diburu polisi. Berdasarkan pengakuan anggota jaringan yang tertangkap, tidak hanya Dogiyai, pencurian juga dilakukan untuk berkas daerah lain.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Kepolisian Negara RI Komisaris Besar Martinus Sitompul, Minggu (26/3), di Jakarta, mengatakan, polisi sedang mengembangkan penyidikan dan akan menangkap tersangka lain yang terlibat dalam jaringan mafia peradilan yang mencuri dokumen perselisihan hasil pilkada di MK. Hasil penyidikan menunjukkan, dua anggota satuan pengamanan (satpam) yang dilaporkan MK telah mencuri berkas, yakni Edi Mulyono dan Samsuar, mengaku tidak hanya mencuri berkas Pilkada Dogiyai.

“Pada Senin, 27 Februari, sekitar pukul 19.45, Edi Mulyono dipanggil Rudi Harianto (Kepala Subbagian Humas MK) untuk bertemu di samping Gedung Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi yang berdampingan dengan Gedung MK. Edi diperintahkan mengambil berkas peselisihan hasil Pilkada 2017,” kata Martinus.

Edi kemudian mengambil berkas sengketa Pilkada Kabupaten Dogiyai, Takalar (Sulawesi Selatan), dan Bengkulu Tengah (Bengkulu). Berkas-berkas itu diserahkan kepada Rudi. Sementara Samsuar disuruh mengambil berkas secara acak. Sekitar pukul 01.00, Edi dan Samsuar masuk ke aula untuk mengambil berkas di lemari besi yang tidak terkunci. Dalam pengambilan kedua ini, tugas Edi mengawasi situasi dan Samsuar yang mengambil berkas.

“Kedua tersangka kemudian keluar ke lobi Gedung MK dengan membawa fotokopi berkas sengketa Pilkada Kota Yogyakarta, Kabupaten Tebo (Jambi), Kota Salatiga (Jawa Tengah), dan Kepulauan Sangihe (Sulawesi Utara). Berkas dimasukkan ke dalam tas milik Edi dan disimpan ke dalam loker milik Samsuar. Pagi harinya, berkas tersebut diserahkan Samsuar kepada Rudi di depan Gedung Radio Republik Indonesia,” katanya.

Lengkap

Ketua MK Arief Hidayat mengatakan, informasi pencurian berkas lain (di luar Dogiyai) telah ditindaklanjuti. Pihaknya telah mengecek dan memastikan bahwa semua dokumen asli dari daerah-daerah itu masih berada di tempatnya.

“Jadi, apakah yang diambil itu dokumen fotokopinya saja atau diambil yang asli untuk difotokopi dan kemudian yang asli dikembalikan ke tempatnya, hal itu yang belum kami ketahui. Penyidik internal di MK menemukan semua berkas masih komplet, kecuali Dogiyai yang dokumen aslinya hilang,” kata Arief.

Hingga kini, lanjutnya, pihaknya belum mengetahui motif pencurian berkas itu. Yang jelas, dalam kasus ini, MK telah memberhentikan empat pegawai, yakni dua anggota satpam, Rudi, dan Sutrisno (PNS).

Meskipun demikian, kata Arief, tim penyidik MK terus menelusuri kemungkinan masih adanya pegawai MK lain yang terlibat dalam kasus ini. “Namun, sampai hari ini belum ditemukan (keterlibatan) orang lain. Kalau sampai ketemu, akan kami pecat. Sebab, ini adalah bibit awal. Jika dibiarkan, muncul mafia peradilan di MK sehingga harus dibersihkan segera,” ujarnya.

Mengenai dampak pencurian berkas terhadap putusan, Arief memastikan hal itu tidak akan ada. Semua perkara yang berkasnya dilaporkan dicuri telah disidangkan di MK. (REK)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*