Sejarah Pengukur dan Penunjuk Waktu

Sumber: dw.com

Mengukur dan mengatur waktu penting, apalagi bagi orang yang sibuk. Tapi jam dan pengukur waktu lain sesungguhnya tidak hanya menunjukkan waktu. Dari situ juga bisa dilihat kreativitas dan ketrampilan istimewa.

 

Jam Matahari

Jam matahari sudah ada sejak jaman mesir kuno, dan jadi penunjuk waktu yang paling lama dikenal. Sekarangpun ini masih populer. Banyak kota menempatkan jam matahari di lokasi umum. Jam matahari ini biasanya sekaligus merupakan karya seni. Tapi masalahnya, kalau matahari tidak bersinar, orang jadi tidak tahu waktu.

Hourglass, Copyright: picture-alliance/dpa/D. Ebener

Jam Pasir

Ini bukan hanya simbol tubuh perempuan yang ideal. Jam pasir mengukur waktu seperti stopwatch, dan tidak menunjukkan waktu seperti jam. Jika semua pasir sudah jatuh, waktu sudah berakhir. Asal mula jam pasir tidak diketahui, tapi sudah mulai tercatat sejak jaman Abad Pertengahan. Sekarangpun jam pasir masih banyak menghias rumah.

Water clock, Copyright: picture alliance/Eibner-Pressefoto

Jam Air

Instalasi modern ini adalah jam air. Dalam bentuk yang lebih primitif jam air sudah ada sejak sebelum abad 16 sebelum Masehi bahkan. Seperti jam pasir, jam air menunjukkan lewatnya waktu. Tetapi bukan pasir yang berpindah dari satu wadah ke wadah di sebelahnya, melainkan air.

Pocket watch, Copyright: picture alliance/Bildagentur-online/Tetra Images

Jam Saku

Jam yang ditempatkan di saku kerap dianggap bentuk awal jam tangan. Dulu jam saku biasanya ditempatkan di ujung rantai. Rantai kemudian disematkan pada rompi pria, dan jam ditempatkan di saku spesial pada rompi. Walaupun agak dilupakan setelah dua kali perang dunia berlalu, kini jam saku kembali jadi asesoris wajib terutama pada kaum “hipster”. Belakangan ini perempuan juga menggunakannya.

Luxury watch models, Copyright: picture-alliance/dpa/Carsten Rehder

Jam Tangan Mewah

Kalau urusan kemewahan, jam tangan mewah bisa dibilang tidak ada batasannya. Memang ada merek terkenal seperti Rolex, Omega, Rado dan Tag Heuer, tapi bagi banyak orang kaya, ini kurang mewah. Ada jam tangan yang ditawarkan seharga lebih dari satu juta Euro.

Swatch models, Copyright: picture alliance/AP Photo

Revolusi Swatch

Mereka yang tidak bisa membeli jam tangan mahal bisa bersenang-senang dengan jam murah yang warna-warni. Tahun 1980-90an merek Swatch populer. Dengan jam-jam ini orang bisa mengekspresikan diri secara kreatif. Pembuat jam juga memasarkan jam sebagai produk asesoris plastik yang tahan lama, bukan sekedar penunjuk waktu.

Punch clock, Copyright: picture-alliance/dpa/dpaweb/A. Scheidemann

Penunjuk Waktu Kerja

Ini jenis penunjuk waktu yang kurang disukai pekerja, karena menunjukkan kapan orang datang di tempat kerja dan pulang. Walaupun demikian, jenis penunjuk waktu ini jadi bagian hidup sehari-hari. Pada bentuk klasiknya, jam memberi stempel pada kartu para pekerja, dan jadi simbol hidup monoton. Tapi cara ini juga cukup menjamin keadilan di tempat kerja.

Parking meter, Copyright: picture-alliance/dpa

Jam Tempat Parkir

Penunjuk waktu ini bisa jadi “musuh” pengguna tempat parkir, dan jadi momok sehari-hari. Karenanya orang harus membayar ongkos parkir, yang kadang tinggi. Walaupun jaman sekarang orang bisa membayar dengan kartu ATM. Yang model kuno dengan uang receh juga masih banyak tersebar.

Atomic clock, Copyright: picture alliance/dpa/J. Stratenschulte

Jam Atom

Ini adalah jam paling tepat di seluruh dunia, karena tidak terpengaruh gaya gravitasi bumi. Fisika rumit di balik jam ini menjamin bahwa waktu yang ditunjukkannya bisa jadi acuan bagi seluruh dunia. Jam atom menggunakan suhu atom dan frekuensi transisi elektronik, dan jadi dasar sistem navigasi internasional seperti GPS.

Apple Watch, Copyright: picture-alliance/dpa/K.Nietfeld

Smart Watch

Jam dan penunjuk waktu masih akan berkembang tanpa batas Bentuk yang bisa dikenakan seperti jam tangan terus berkembang popularitasnya. Apple Watch dan smart watch sebenarnya komputer kecil, bukan penunjuk waktu sederhana. Apakah ini nanti akan mendesak jam dan penunjuk waktu sederhana? Tidak ada yang tahu. Penulis: Sertan Sanderson [(ml/hp)/dw.com/swj].

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*