“Life”: Mars, Harapan atau Bencana?

Jake Gyllenhaal dalam film Life (2017). (Sumber: kompas.com.Columbia Pictures)

JAKARTA, Baranes.co –  Apakah Mars adalah masa depan manusia di Bumi? Sekumpulan ilmuwan bertolak ke Stasiun Angkasa Internasional untuk mencari jawabannya. Mereka memeriksa sampel tanah dari planet harapan tersebut.

Tanpa basa-basi, Life langsung menyajikan konflik sejak awal cerita. Film garapan sutradara Daniel Espinosa ini mengawali kisah dengan pesawat pembawa sampel dari Mars yang terbang melenceng.

Salah satu astronot, Rory Adams (Ryan Adams), yang bertugas di Stasiun Angkasa Internasional, terpaksa mengambil risiko mempertaruhkan nyawa untuk menangkap pembawa sampel tersebut.

Sampel berupa tanah dan organisme bersel tunggal itu kemudian diuji dalam berbagai kondisi untuk mencari jejak kehidupan di Mars.

Hasilnya menggembirakan sampai kemudian salah satu ilmuwan, Hugh Derry (Ariyon Bakare), tidak sadar melakukan kesalahan.

Makhluk hasil eksperimen sampel yang diberi nama Calvin oleh anak-anak di Bumi tiba-tiba terkulai layu. Harapan hampir habis. Namun, kembali bersemi setelah Calvin diberi terapi kejut dengan listrik dan menunjukkan respons.

Sayangnya, melebihi harapan dan justru membahayakan. Dari sinilah dimulainya teror Calvin yang seakan tak berkesudahan.

Life terasa lebih realistis dibandingkan film bergenre fiksi sains lain.

Salah satu yang meniupkan harapan dari film ini adalah karakter yang disajikan berasal dari berbagai latar bangsa dan ras, seperti Inggris, Rusia, Jepang, dan tidak hanya dari Amerika Serikat. Dari kulit putih, kuning, hingga hitam. Bahkan satu di antaranya difabel. Setidaknya tidak seseragam seperti film-film fiksi sains yang sudah-sudah.

Lapis demi lapis cerita yang dibuat membuat film cukup berwarna. Para ilmuwan yang sangat pintar ini tampil cukup manusiawi, kecuali bahwa semuanya kompak rela berkorban, sesuatu yang kadang-kadang hilang ketika seseorang harus bertahan antara hidup dan mati.

Kehidupan sehari-hari digambarkan dengan rutinitas main kartu bersama. Hugh dan Rory yang saling ledek atau bertengkar.

Miranda dan David yang memiliki saling ketertarikan.

Adegan Sho yang tengah memberi semangat istrinya yang sedang melahirkan lewat layar juga sedikit melunakkan hari-hari membosankan di ruang angkasa tanpa kepastian apakah mereka dapat kembali ke Bumi atau tidak.

Gambar banyak disajikan dalam keadaan terbalik untuk menunjukkan gravitasi nol di luar angkasa.

Meski tidak dieksplorasi dengan dalam, penonton cukup bisa merasakan bahwa kesepian dan rasa takut para astronot ini tertutupi oleh keinginan menerapkan ilmu pengetahuan yang berubah menjadi keberanian. Semuanya demi mencari tempat tinggal baru manusia Bumi.

Sayangnya, tidak ada penjelasan memadai mengapa mereka harus mencari tempat baru itu dengan taruhan segalanya. Apakah Bumi sudah terlalu penuh dan rusak atau ini hanya ambisi (konyol) manusia semata.

Harapan jadi bencana

Calvin, yang semula membawa harapan, tiba-tiba berubah menjadi bencana. Makhluk kecil itu tambah lama tambah besar dengan kepintaran yang tidak terduga.

Ia seperti predator yang selain bersaing memperebutkan air dan oksigen, juga memangsa darah manusia sebagai makanannya.

Miranda North (Rebecca Ferguson) yang bertugas menjaga pagar api keamanan bersikap tegas untuk meminimalisasi korban. Satu demi satu ilmuwan tidak bisa menghindar dari cengkeraman Calvin.

Dimulai dari Hugh yang tangannya remuk. Lalu Rory yang berusaha membantu Hugh.

Demikian pula Ekaterina Golovkina (Olga Dihovichnaya), kapten pesawat yang menahan agar Calvin tidak masuk lagi ke dalam pesawat.

Hingga Sho Murakami (Hiroyuki Sanada) yang harus memilih terempas ke angkasa lepas atau memberikan kesempatan kepada Calvin menyerang teman-temannya.

Kisah berubah mencekam dengan ancaman teror Calvin yang berubah menjadi monster.

Ketika penonton merasa mulai bosan dan berpikir film ini akan berakhir seperti film-film fiksi sains lainnya, katakanlah Gravity atau Arrival, jalan cerita pun berakhir di luar perkiraan.

Setidaknya film ini menunjukkan, manusia tidak selalu menang dalam kehidupan nyata. Kesalahan adalah hal yang paling akrab dalam kehidupan. Penonton pun pulang dengan rasa gemas. (SRI REJEKI)/Harian KOMPAS/kompas.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*