WHO Luncurkan Pedoman Etika untuk Pengobatan Penderita TB

Direktur WHO program TB global, Mario Raviglione memberikan penjelasan di Jenewa, Swiss, Kamis (23/3). (Sumber: VOA Indonesia)

Sebelum hari Dunia Tuberkulosis atau TB tanggal 24 Maret, Organisasi Kesehatan Dunia, WHO memperingatkan, perjuangan untuk membasmi wabah tuberkulosis tidak akan berhasil kecuali stigma, diskriminasi dan marjinalisasi pasien TB diakhiri.

PBB membuat kemajuan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan untuk mengakhiri wabah TB dunia pada tahun 2030. Organisasi Kesehatan Dunia, WHO melaporkan, 49 juta orang telah diselamatkan sejak tahun 2000.Tapi, masih banyak yang harus dilakukan.

Data tahun 2015 menunjukkan, lebih dari 10,4 juta orang sakit 1,8 juta meninggal karena TBC. Sebagian besar kasus kematian terjadi di negara-negara sedang berkembang.

WHO mengatakan, stigma dan diskriminasi terhadap penderita TB menghambat upaya untuk menghapus penyakit mematikan itu.

Petugas medis program TB global WHO, Ernesto Jaramillo mengatakan, orang yang rentan seperti migran, narapidana, etnis minoritas, perempuan yang tersingkir dan anak-anak paling mungkin menderita pelecehan, pengabaian dan penolakan.

Dia mengatakan ini mencegah mereka mencari pengobatan untuk tuberkulosis.

“Memiliki alat-alat baru untuk diagnosa, dan perawatan TB tidak cukup jika tidak ada standar yang jelas untuk memastikan bahwa orang-orang yang rentan dapat menggunakan peralatan ini sedemikian rupa sehingga strategi TB benar-benar dapat melayani tidak hanya kepentingan individu, tetapi juga kepentingan kesehatan masyarakat pada umumnya,” kata Jaramillo.

Direktur WHO program TB global, Mario Raviglione mengatakan tidak ada negara kaya ataupun miskin yang kebal terhadap TBC. Ia memperingatkan, menyingkirkan pasien TB justru berbahaya.

“Kita tidak dapat menghapus penyakit seperti TB dengan membangun dinding atau menutup negara kita. TB adalah penyakit yang ditularkan melalui udara. Jadi, kalau ada pesawat Boeing 747 yang meninggalkan Malawi malam ini dan tiba di Swiss besok pagi, mungkin ada penderita TB di dalamnya. Jadi, masalah ini harus dihadapi dari perspektif global,” ujar Raviglione.

Panduan etika baru WHO mencakup tindakan-tindakan untuk mengatasi hambatan dari stigma, diskriminasi dan marjinalisasi penderita TB. Badan ini mengatakan, melindungi hak asasi manusia orang-orang yang terkena TBC akan menyelamatkan banyak nyawa dan memungkinkan untuk mengakhiri penyakit yang menjadi momok dunia itu. [ps/ii]/Lisa Schlein/VOA Indonesia/swh

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*