Liverpool Vs. Arsenal: Duel Pembuktian Jati Diri

Ilustrasi (Sumber: Essentially Sports)

“The Reds” seperti Dilanda Gangguan Psikologis Manik-Depresif

LIVERPOOL, Baranews.co –Liverpool dan Arsenal bak pinang dibelah dua. Euforia di awal musim kini berganti pesimisme menyusul inkonsistensi performa mereka, khususnya pada 2017. Kedua tim terluka itu terpaksa saling “bunuh”, Minggu (5/3) dini hari WIB, untuk mencari jati diri yang mulai menghilang.

Bukan tanpa alasan Liverpool diibaratkan penderita gangguan psikologis bipolar oleh Eurosport. Serupa penderita bipolar, perjalanan “The Reds” musim ini kental dengan pergantian suasana hati secara dramatis, yaitu manik-depresif.

“Mereka tampil menakjubkan (fase manik) ketika mengalahkan tim Antonio Conte (Chelsea), namun hambar (depresif) saat bertemu Sam Vokes dan kawan-kawan (Burnley). Mungkin masalah mereka ada di faktor mental. Mereka (Liverpool) ibarat tim yang disiapkan untuk lari cepat, bukan maraton seperti Liga Inggris,” tulis Eurosport.

Pandangan itu tidak berlebihan. The Reds sempat menjalani start cemerlang dengan menumbangkan rival-rival beratnya seperti Chelsea, Tottenham Hotspur, dan Arsenal. Mereka bahkan memuncaki Liga Inggris pada pekan ke-11 dan ke-12.

Namun, begitu tahun berganti, performa mereka anjlok. Hanya dua kali The Reds mampu menang sepanjang 2017 ini. Sisanya, mereka dipermalukan Swansea, Southampton, Hull City, Wolverhampton Wanderers, dan terakhir Leicester City.

Manajer Liverpool Juergen Klopp menuding padatnya jadwal kompetisi domestik di Inggris sebagai penyebab anjloknya performa mereka. Berbeda dengan liga-liga lain, Liga Inggris tidak memiliki libur musim dingin. Setiap tim terus digeber. Itu merugikan The Reds, tim yang dikenal menerapkan intensitas fisik tinggi yang menguras stamina, dalam latihan dan laga.

Liverpool sangat garang ketika menghadapi tim-tim besar yang berani bermain terbuka dan menyerang seperti Spurs, Arsenal, dan Barcelona (di uji coba musim panas). Sebaliknya, mereka rentan frustrasi dan dipukul balik saat melawan tim-tim dengan sistem pertahanan tertutup.

“Pemain-pemain top biasanya tampil hebat di tujuh atau delapan laga dari setiap sepuluh laga. Adapun para pemain Liverpool sangat hebat di dua hingga tiga laga dan sisanya (tampil) di bawah rata-rata atau sangat buruk,” tulis David Usher, kolumnis ESPN, di blognya.

Tidak terkalahkan

Dengan logika itu, tidak heran jika Liverpool punya rekor bagus musim ini, yaitu tak terkalahkan oleh lima rivalnya, klub-klub besar, di Liga Inggris. The Reds bahkan berada di urutan teratas “liga mini” alias pertemuan enam tim teratas Liga Inggris, yaitu dengan rata-rata 2 poin per laga.

Arsenal, sebaliknya, justru inferior ketika berduel dengan rival-rival besarnya. Musim ini mereka telah dikalahkan Liverpool, Manchester City, dan Chelsea. Di Liga Champions, mereka juga digilas Bayern Muenchen, 1-5.

Jangan heran jika Liverpool bakal menampilkan wajah trengginasnya saat menjamu “The Gunners” di Anfield, Minggu dini hari WIB ini. Serupa Klopp, Manajer Arsenal Arsene Wenger adalah manajer keras kepala. Bagi Wenger, sepak bola adalah menyerang, dari kaki ke kaki. Laga ini bakal menjadi pertarungan terbuka dengan intensitas tinggi.

“Segala kritik yang muncul akhir-akhir ini akan kami gunakan sebagai energi pelecut untuk mendorong kami lebih baik dari sebelum-sebelumnya,” ujar kiper Liverpool, Simon Mignolet.

The Reds memang wajib menang di laga ini. Tambahan tiga poin akan menjadi “tiket” mereka untuk kembali ke peringkat empat besar. Liverpool, yang kini berada di peringkat kelima, hanya tertinggal satu poin dari Arsenal di peringkat keempat.

Masalah satu-satunya yang bisa menghalangi ambisi The Reds kembali mengalahkan The Gunners adalah terkait absennya Jordan Henderson. Gelandang The Reds itu adalah figur sentral, yaitu penjaga keseimbangan sekaligus pemimpin tim di lapangan. Tanpa sang “jenderal”, Liverpool seperti kehilangan arah, dihantam Leicester, 1-3, pekan lalu.

Di lain pihak, Arsenal kemungkinan tidak akan bermain terlalu ngotot di laga ini. Mereka harus menyimpan tenaga untuk menghadapi Bayern Muenchen di duel kedua babak 16 besar Liga Champions, Rabu (8/3). “Kami wajib berhati-hati melawan Liverpool. Mereka selalu bermain dengan intensitas tinggi,” ujar Wenger. (AFP/REUTERS/JON)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*