Sektor Putri Bulutangkis Sedang Kerja Keras, Diharapkan Berbuah 2-3 Tahun Mendatang

Bukan tugas mudah untuk membangkitkan sektor putri bulutangkis, khususnya di nomor tunggal. Susy Susanti menegaskan butuh kerja amat keras dan kesabaran.

Surabaya, Baranews.co – Bukan tugas mudah untuk membangkitkan sektor putri bulutangkis, khususnya di nomor tunggal. Susy Susanti menegaskan butuh kerja amat keras dan kesabaran.

Susy mengejutkan publik ketika menerima jabatan Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI periode 2016-2020 di kabinet Wiranto. Sebab sejak gantung raket pada 1998, Susy lebih memilih mengambil jarak dengan PBSI dan fokus mengurus keluarga dan bisnisnya bersama sang suami, Alan Budikusuma.

Tugas berat menantinya, membangkitkan kembali sektor putri khususnya di nomor tunggal. Di nomor ini, atlet-atlet Indonesia selama bertahun-tahun semacam cuma jadi pelengkap turnamen.

Selepas Susy, sempat ada Mia Audina yang digadang-gadang jadi penerus. Tapi kemudian Mia hijrah ke Belanda ikut sang suami, dan bisa dikatakan itu menandai berakhirnya era keemasan Indonesia di nomor tunggal putri.

Tanpa bermaksud mengecilkan para atlet di sektor putri, namun memang prestasi mentereng selama kurang lebih dua dekade amat minim. Salah satu yang terbaik adalah raihan perunggu Maria Kristin di Olimpiade Beijing 2008.

“Memang untuk pada saat ini secara latihan untuk semua sektor, tapi khususnya untuk putri memang penambahannya luar biasa. Bahkan mungkin latihan hampir tiap hari tiga sesi, kalau sebelumnya cuma dua,” ujar Susy.

“Saya bilang, ‘kita ketinggalan, kalau seperti ini terus, kita nggak ekstra keras mengejar ketertinggalan, nggak mungkin menyusul’. Jadi harus ada peningkatan, harus ada perubahan total,” sambungnya kepada sejumlah wartawan di DBL Arena, Sabtu (25/2/2017) sore WIB.

Sebagai Kabidbinpres, Susy menangani semua sektor. Tapi latar belakangnya sebagai mantan pemain tunggal putri dan melihat situasi selama bertahun-tahun belakang, membuatnya tak bisa tak sedikit memberikan perhatian lebih ke tunggal putri.

“Bukannya saya pilih kasih lebih perhatian ke tunggal, tapi karena saya dasarnya kan di tunggal putri ya, otomatis saya juga ingin tunggal putri jangan sampai jadi yang terbawah lah,” ungkapnya.

Peraih emas Olimpiade Barcelona 1992 dan juara dunia 1993 ini menegaskan butuh kesabaran untuk mengembalikan nomor tunggal putri ke rel yang benar. Tapi setidaknya dia merasa ada potensi yang bagus dari para pemain muda, tinggal memoles dan memberikan program yang terukur untuk mendapatkan hasil terbaik.

“Menurut saya, mungkin dua-tiga tahun ke depan ya. Mudah-mudahan bisa lebih cepat. Kalau saya melihat waktu awal-awal saya masuk (PBSI), saya melihat bahwa ya nggak mungkin dua-tiga bulan bisa langsung juara,” ujarnya.

“Tapi ternyata, ya puji Tuhan, Alhamdulillah, begitu saya masuk, sebulan-dua bulan sudah mulai ada hasil meskipun belum juara. Tapi hasil yang lebih baik itu ada peningkatan prestasi. Mudah-mudahan apa yang kita targetkan, dalam 2-3 tahun ke depan mereka bisa juara. Mungkin tahun ini bisa nyuri 1-2 kejuaraan dulu deh,” tandas perempuan 46 tahun ini.

Di tunggal putri, saat ini Fitriani memegang peringkat dunia terbaik di antara atlet-atlet Indonesia, yakni di posisi 29. (detik.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*