Jelaskan Ini Jika Anak Tanya Mengapa Harus Menolong Orang Lain?

Separuh dunia sudah terlanjur bergulir dan bertebaran dengan kebencian. Kebanyakan orang tak lagi merasa sungkan atau berpikir dua kali untuk merugikan orang lain selama itu menguntungkan mereka.

Baranews.co – Separuh dunia sudah terlanjur bergulir dan bertebaran dengan kebencian. Kebanyakan orang tak lagi merasa sungkan atau berpikir dua kali untuk merugikan orang lain selama itu menguntungkan mereka.

Kondisi ini bisa jadi karena semakin terkikisnya budaya menolong orang lain tanpa pamrih, baik dalam skala kecil atau besar di lingkungan sosial.

Taruhan dari suasana yang tidak sejuk ini tentulah anak-anak.

Bisa Anda bayangkan jika anak-anak telah terdidik pelit dan egois sejak dini, maka dunia akan penuh dengan orang-orang pemarah dan tidak menghargai norma-norma hidup yang positif.

Menurut sejumlah psikolog satu hal kecil untuk menghindari masa depan yang penuh dengan jiwa-jiwa pemarah adalah mengajarkan seni berbagi dan menolong pada orang lain.

Sebuah laporan dari The New York Times, kebanyakan anak zaman sekarang tumbuh kritis dan selalu mempertanyakan apa yang diajarkan orangtua, tak terkecuali didikan untuk menjadi seseorang yang murah hati dan penolong.

Jika si kecil mempertanyakan hal ini pada Anda, maka hal yang harus Anda lakukan adalah memberikan contoh nyata pada si kecil.

Ceritakan pengalaman saudara dekat atau Anda sendiri ketika menolong orang lain dan apa manfaatnya bagi mereka yang ditolong tersebut.

“Ceritakan juga betapa bahagia hati ketika orang yang Anda tolong berhasil keluar dari kesulitannya. Rasa bahagia itu tidak bisa dibuat-buat dan dibeli dengan uang. Jelaskan secara bijak pada anak,” ujar Annie Hernandez, seorang direktur dari yayasan sosial bernama C.Fox.

Hernandez juga menganjurkan orangtua untuk mengajarkan anak menolong orang lain lewat cara praktis, misalnya memberikan kursi pada kaum lanjut usia di angkutan umum, menyisihkan sedikit uang untuk pengemis atau pengamen, dan masih banyak lagi.

“Kemudian, orangtua tanyakan pada anak bagaimana perasaan anak setelah menolong. Katakan bahwa kebahagiaan yang mereka rasakan itu merupakan sesuatu tanpa pamrih yang tidak bisa dinilai dengan uang,” urainya.

Dia menambahkan bahwa pertanyaan-pertanyaan anak yang berkaitan dengan perilaku dalam lingkungan sosial harus dijawab dengan contoh nyata.

“Anda tidak bisa memberikan penjelasan atau teori pada anak tanpa memberikan contoh,” pungkasnya. (kompas.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*