Dugaan Keterlibatan WNI Masih Didalami, Wapres Tak Yakin SA Intel Korut

Rumah yang dipakai untuk usaha konfeksi di kawasan permukiman padat Gang Kacang RT 005 RW 003 Jalan Angke Indah, Tambora, Jakarta Barat, Jumat (17/2), ini dahulu pernah ditinggali SA. SA adalah perempuan berpaspor Indonesia yang ditangkap polisi Malaysia atas dugaan terlibat dalam pembunuhan Kim Jong Nam di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia. (Sumber: KOMPAS/RADITYA HELABUM)

SERANG, Baranews.co – Hampir tak satu pun warga Desa Sindangsari, Pabuaran, Kabupaten Serang, Banten, percaya bahwa perempuan berinisial SA dari desa itu terlibat pembunuhan Kim Jong Nam, saudara tiri Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Ibunya tak pernah tahu aktivitas SA di luar negeri.

Hingga Jumat (17/2), petugas KBRI di Kuala Lumpur belum bisa menemui SA yang ditahan di Selangor, Malaysia. “Sejauh ini kami belum mendapatkan izin dari otoritas Malaysia untuk bertemu SA,” kata Andreano Erwin, Wakil Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, melalui layanan pesan singkat.

SA ditangkap polisi Malaysia, Kamis dini hari, terkait dugaan keterlibatan dalam pembunuhan Kim Jong Nam (46), kakak tiri Pemimpin Korut Kim Jong Un. Selain dia, seorang perempuan pemegang paspor Vietnam bernama Doan Thi Huong dan seorang pria warga Malaysia juga ditangkap polisi negeri itu.

Kim Jong Nam diyakini kolaps setelah diracun dalam proses cepat saat akan masuk pesawat menuju Makau, Senin lalu. Ia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Mengutip dinas rahasia negerinya, anggota Parlemen Korea Selatan mengatakan, dua perempuan yang ditangkap polisi Malaysia adalah agen rahasia Korut. Jong Nam selama ini bersuara kritis dan menentang kontrol dinasti keluarganya di Korut.

SA yang pendiam

Dari identitas paspor yang diungkapkan otoritas Malaysia, SA berasal dari Serang. Benah (50), ibu SA, tinggal di Desa Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Serang.

Saat ditemui Kompas, Jumat, Benah mengatakan, ia tidak mengetahui banyak soal aktivitas anaknya di luar negeri. Sepengetahuannya, SA berjualan pakaian perempuan di Batam, Kepulauan Riau. Namun, Benah tidak mengetahui alamat tempat tinggal SA di Batam.

“Ibu (Benah) enggak tahu sama sekali soal kejadian (penangkapan itu). Tahu kabar itu karena melihat di televisi. Ibu kaget,” ujarnya. Benah tak bisa menghubungi siapa pun karena SA tidak pernah memberikan nomor telepon rekan kerjanya.

“Dia tidak suka memberikan nomor telepon. Kalau mau menghubungi ibu, dia telepon sendiri. Anak ibu tidak kenal siapa-siapa di daerah tujuan bekerja,” katanya.

Di depan rumah Benah, warga terlihat berkerumun. Beberapa warga berbincang-bincang mengenai SA dan tidak menyangka sama sekali perempuan itu ditangkap atas dugaan terlibat pembunuhan, seperti berita yang dirilis otoritas Malaysia.

content

Ketua RW 011 Desa Sindangsari, Sukria (45), mengatakan, SA dikenal pendiam. Jika pulang, SA jarang keluar rumah. “Saya sangat terkejut karena SA tidak banyak bicara. Terakhir, SA pulang pada libur Imlek (akhir Januari lalu),” katanya.

Menurut Sukria, hari itu, SA sempat menginap semalam di rumah Benah, kemudian pergi, hingga akhirnya tersiar kabar mengenai penangkapannya. Perempuan itu adalah bungsu dari tiga bersaudara. Kartu tanda penduduk SA masih beralamat di Desa Sindangsari.

Namun, SA pernah tinggal di kawasan Tambora, Jakarta Barat. Yanti (39), perempuan tetangganya, menjelaskan, ia awalnya bekerja di sebuah rumah konfeksi jaket di Tambora. Setelah beberapa tahun bekerja di situ, ia berpacaran dengan anak sang majikan hingga akhirnya menikah dan dikaruniai seorang anak.

“Waktu masih jadi pekerja konfeksi, ia tinggal di rumah konfeksi. Dia tidur di lantai 3. Lantai 1 digunakan untuk kegiatan konfeksi,” tutur Yanti.

Rumah konfeksi tempat awal SA bekerja bercat merah dengan teralis dan pintu besi menutup seluruh bangunan. Beberapa tahun setelah menikah, SA dan suaminya terbang ke Malaysia dan bekerja di sana. Pasangan itu bercerai pada 2012.

Terkait identitas SA, Direktorat Jenderal Imigrasi masih memeriksa data perempuan berusia 25 tahun itu. Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Batam Teguh Prayitno menuturkan, pihaknya masih memeriksa sistem Pengelolaan Kontrol Perbatasan. Dalam sistem itu bisa terlihat data penggunaan paspor seseorang.

Di tempat terpisah, Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid mengatakan, SA tak tercatat sebagai pekerja migran Indonesia. Dalam data pemegang kartu tanda pengenal TKI di BNP2TKI, tidak tercantum nama SA.

Diduga korban penipuan

Di Jakarta, Wakil Presiden Jusuf Kalla tidak yakin SA menjadi bagian intelijen Korut, seperti yang diberitakan media-media di Korsel. Sebab, jejak SA masih dapat ditelusuri aparat kepolisian di kawasan yang sama di tempat terjadinya pembunuhan.

“Kalau benar dia agen (intelijen), saya kira sudah tidak ketahuan ke mana rimbanya. Tetapi, dia pergi ke hotel, tidur dan bersembunyi di sana. Masih di kota itu sendiri, di dekat bandara itu (tempat kejadian),” kata Jusuf Kalla di Kantor Wapres, Jakarta.

Informasi yang diterima Kalla, SA merupakan korban dari korban pembunuhan Kim Jong Nam. Kalla meyakini SA merupakan korban dari sebuah rekayasa peristiwa atau penipuan. Penipuan yang dimaksud dilakukan dengan menggunakan media racun yang disemprotkan atau disuntikkan ke seseorang.

“Jadi, dia ini ditipu dengan cara seakan-akan permainan media. Menurut saya, dia adalah korban dari korban ini, jadi berlapis korbannya ini,” kata Kalla.

Peristiwa ini, menurut Kalla, tak akan memengaruhi hubungan diplomatik antara Indonesia dan Korut. Kalla memastikan pemerintah mengambil langkah- langkah untuk mendalami kasus ini. Kalaupun SA terlibat, menurut Kalla, dia hanya menjadi korban.

Kementerian Luar Negeri RI mengirim tim ke Selangor, Malaysia, untuk mengonfirmasi kepastian identitas perempuan berinisial SA sebagai pemegang paspor Indonesia. Kemlu mengonfirmasi status perempuan itu sebagai WNI sesuai dengan basis data di KBRI Kuala Lumpur.

Dari Kuala Lumpur dilaporkan, Malaysia menyatakan, jenazah Kim Jong Nam tidak akan diserahkan kepada Korut sebelum mereka menerima sampel DNA keluarga Jong Nam. Jumat kemarin, para ahli forensik negeri jiran melakukan tes sampel dari jenazah Jong Nam untuk menentukan jenis racun yang diduga disemprotkan ke wajahnya.

“Sejauh ini belum ada anggota keluarga atau kerabat dekatnya yang datang untuk mengidentifikasi atau mengklaim jenazahnya. Kami butuh sampel DNA dari anggota keluarganya untuk mencocokkan data pria yang meninggal itu,” kata Abdul Samah Mat, Kepala Kepolisian Negara Bagian Selangor.

Hingga kini, permintaan untuk mengambil jenazah Jong Nam baru disampaikan para diplomat Korut di Kuala Lumpur. (REUTERS/AFP/BAY/RAZ/WIN/NDY/ONG/JOS)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*