Isu Utama Ekspor Sapi Australia 2017: Kelangkaan Sapi Betina dan Popularitas Daging Kerbau

Kapal pengangkut ternak Greyman Express bersandar di pelabuhan Darwin Port. (Sumber: ABC Rural: Carl Curtain).

Kelangkaan sapi betina produktif di wilayah Australia Utara mungkin menyiratkan kesulitan di tahun ini bagi para pemangku kepentingan di sektor ekspor ternak. Hal itu menyusul kebijakan Pemerintah Indonesia dalam merevisi aturan impor sapi yang kini mengharuskan 1 dari 6 ekor haruslah berupa sapi betina.

 

Baranews.co – Curah hujan yang tinggi di wilayah Top End Australia Utara menambah masalah bagi para eksportir yang coba mengumpulkan stok ternak yang ada.

Salah satu perusahaan yang pertama mengirimkan sapi pembibitan ke Indonesia di bawah aturan impor yang baru, yaitu Frontier International, yang telah mengapalkan 3.700 ekor sapi pada bulan Desember 2016.

Sulit cari stok sapi saat ini

Namun menurut Ashley James dari Frontier International, pihaknya kini kesulitan untuk memenuhi permintaan yang hanya sebanyak 300 ekor sapi betina.

“Kami tak bisa mendapatkannya karena konsumen meminta ternak yang bebas implant dan warnanya harus bersih,” kata Ashley James.

“Ternyata lebih sulit menemukan sapi betina daripada yang kami perkirakan,” katanya.

“Namun tidak jadi masalah apakah sapi pembibitan atau penggemukan, saat-satu begini setiap tahun memang sulit menemukan ternak,” tambahnya.

Meskipun sebagian peternak bisa menyiapkan ternak di musim hujan ini, namun ketua Northern Territory Cattlemen’s Association (NTCA) Tom Stockwell menyatakan kebanyakan peternakan lebih suka menyimpan ternak mereka di kandang.

“Bahkan di lokasi yang biasanya menerima truk-truk di saat seperti ini, banyak yang kondisinya sangat basah, bahkan di wilayah Australia Tengah,” jelasnya.

“Banyak masalah akses terkait upaya memenuhi kebutuhan pasar,” kata Stockwell.

“Di saat bersamaan jumlah ternak menurun di seluruh Australia sehingga ada dorongan permintaan dari wilayah Timur termasuk untuk sapi betina pembibitan,” tambahnya.

Daging kerbau beku asal India

Sementara itu, membanjirnya daging kerbau beku di Indonesia saat ini secara signifikan mengurangi permintaan sapi Australia.

Karena konsumen membeli daging kerbau yang lebih murah, saat ini sejumlah penggemukan sapi (feedlot) kesulitan menjual stok daging mereka.

Rekor harga ternak ekspor, saat ini sekitar 3,75 dolar perkilo di Darwin, juga kurang membantu.

Pihak Meat and Livestock Australia memprediksi harga daging sapi akan stabil di tahun 2017, namun memperkirakan jumlah ekspor ternak sapi akan menurun 24 persen.

Menurut Ashley James, pihaknya kaget dengan keengganan yang ditunjukkan para pembeli ternak di Indonesia.

“Sangat sulit menghadapi mereka,” ujarnya. “Harga itu satu hal. Saya kira daging kerbau telah mempengaruhi harga di pasar basah.”

“Konsumen di Indonesia mau membeli daging kerbau, mereka sudah terbiasa dengan itu. Hal ini juga menimbulkan tekanan pada industri feedlot di sana.”

Sementara itu Stockwell menambahkan produsen Australia perlu terus fokus dalam menyediakan daging yang lebih baik dibandingkan daging kerbau asal India.

“Tantangan bagi industri di Australia adalah bagaimana menemuka ceruk pasar untuk produk kita sehingga kita tidak berkompetisi langsung,” jelasnya.

“Kita mungkin tak bisa bersaing harga dengan daging kerbau beku, namun.. ini daging segar, diproduksi di Australia dan di feedlot di Indonesia, ini produk yang sangat bagus,” ujarnya.

“Ini urusan marketing bagi kita sekarang untuk membedakan produk kita sehingga kita bisa mengirimkan jumlah memadai ke sana,” kata Stockwell lagi. (Carl Curtain/Farid M. Ibrahim/australiaplus.com/swh),

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*