Jokowi: Perusahaan Besar Buat Pabrik, Konsesi Lahannya Tetap di Rakyat

Pemerintah terus mendorong percepatan redistribusi lahan di Indonesia untuk rakyat. Hal ini dilakukan untuk pemerataan dan mengurangi kesenjangan ekonomi.

Presiden Joko Widodo saat memberikan keterangan pers di Gedung Bank Indonesia, Senin (19/12/2016). Bank Indonesia meluncurkan uang NKRI baru dengan menampilkan 12 pahlawan nasional, Adapun uang desain baru yang diluncurkan hari ini mencakup tujuh pecahan uang rupiah kertas dan empat pecahan uang rupiah logam.

Baranews.co – Pemerintah terus mendorong percepatan redistribusi lahan di Indonesia untuk rakyat. Hal ini dilakukan untuk pemerataan dan mengurangi kesenjangan ekonomi.

“Pemerintah akan beri 12,7 juta hektare kepada masyarakat, konsesi akan diberikan kepada masyarakat, bukan perusahaan besar,” ujar Jokowi dalam acara pembukaan konferensi Forum Rektor Nasional di JCC, Jakarta Pusat, Kamis (2/2/2017).

Diketahui, dari target 12,7 juta hektare lahan, sebanyak 12.300 hektare telah didistribusikan bagi rakyat dan 12.000 hektare untuk perhutanan sejak tahun 2015. Jokowi kemudian menyebutkan sejumlah daerah yang lahannya sudah diredistribusi.

“Sudah saya mulai di Kabupaten Pulau Pisang, Kalimantan Tengah. Dibagi-bagi ke kelompok-kelompok tani. Ada yang diberi 400 hektare, 1.300 hektare,” ujar Jokowi.

Jokowi mengakui, kebijakannya memberikan lahan ke rakyat merupakan kebijakan baru. Pasalnua, pemerintahan sebelumnya selalu memprioritaskan konsesi lahan kepada perusahaan-perusahaan besar.

Jokowi juga tidak mempersoalkan jika perusahaan besar membangun manufaktur di atas tanah yang izin konsesinya ada di tangan rakyat. Justru, perusahaan besar dan rakyat pemilik lahan bisa bekerja sama.

“Dulu, perusahaan besar diberikan (konsesi) langsung bikin pabrik. Sekarang, perusahaan yang besar silakan membuat pabrik. Tapi konsesinya tetap di rakyat. Silahkan perusahaan besar bekerja sama dengan rakyat,” ujar Jokowi.

“Inilah sebuah kerja sama, gotong royong yang ingin kita wujudkan agar gini ratio kita menjadi sempit,” lanjut dia. (kompas.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*