LIGA INGGRIS: Laga Hidup-Mati “Si Merah”

Penyerang Manchester United, Wayne Rooney (kiri), berebut bola dengan pemain Wigan Athletic, Dan Burn, pada laga Piala FA, Minggu (29/1), di Stadion Old Trafford, Manchester, Inggris. MU memenangi laga itu dengan skor 4-0. (Sumber: Harian KOMPAS/REUTERS/JASON CAIRNDUFF)

LIVERPOOL, Baranews.co – Laga Liverpool pada pekan ke-23 Liga Inggris, Rabu (1/2) dini hari pukul 03.00 WIB, melawan Chelsea di Anfield laksana partai hidup-mati bagi “Si Merah”.

Penyerang  Manchester United, Wayne Rooney (kiri), berebut bola dengan pemain Wigan Athletic, Dan Burn, pada laga Piala FA, Minggu (29/1), di Stadion Old Trafford, Manchester, Inggris. MU memenangi laga itu dengan skor 4-0.
               REUTERS/JASON CAIRNDUFF
Penyerang Manchester United, Wayne Rooney (kiri), berebut bola dengan pemain Wigan Athletic,
Dan Burn, pada laga Piala FA, Minggu (29/1), di Stadion Old Trafford, Manchester, Inggris. MU memenangi laga itu dengan skor 4-0.

Maklum, di tiga laga sebelumnya Liverpool kandas di kandang, ketiganya di turnamen berbeda. Liverpool kalah 2-3 dari Swansea City di Liga Inggris, kalah 0-1 dari Southampton dan terhenti di semifinal Piala Liga Inggris, kemudian kalah 1-2 dari Wolverhampton Wanderers dan terhenti di putaran keempat Piala FA.

Saat memerlukan momentum kebangkitan, lawan di depan justru Chelsea, pemuncak klasemen berpoin 55. Liverpool di tangga keempat dengan 45 poin. Selain itu, “Si Biru”, julukan Chelsea, selalu menang di empat laga terakhir. Chelsea menang 4-1 atas Peterborough United di Piala FA, menang 3-0 atas Leicester City dan 2-0 atas Hull City di Liga Inggris, lalu menang 4-0 atas Brentford City di Piala FA.

Menanggapi laga mendatang, Pelatih Liverpool Juergen Klopp yakin timnya tak akan terpuruk lebih dalam. “Tiga kekalahan itu jadi kondisi terburuk,” ujarnya di situs resmi.

Klopp menilai kekalahan dari Swansea, Southampton, dan Wolves akibat jemawa dengan menurunkan pemain muda minim pengalaman. “Kepercayaan diri seperti bunga kecil yang jika disentuh bisa hancur,” katanya.

Satu-satunya modal kepercayaan ialah di pertemuan pertama di Stamford Bridge, pekan kelima Liga Inggris, September 2016, Liverpool menang 2-1 atas Chelsea yang saat itu tuan rumah. Selain itu, penyerang andalan Sadio Mane bisa kembali berlaga.

Di Piala Afrika Gabon 2017, Mane gagal sebagai eksekutor sehingga Senegal kalah 4-5 dalam adu penalti dari Kamerun di perempat final. Tiga laga sebelumnya yang berakhir dengan kekalahan dikaitkan dengan absennya Mane karena membela negara. Gelandang kreatif Philippe Coutinho juga bisa diturunkan meski saat laga kontra Wolves kurang menonjol.

Pelatih Chelsea Antonio Conte mengatakan, timnya patut waspada dengan kembalinya Mane dan Coutinho. “Sebelumnya mereka mengalahkan kami. Namun, kami siap membalas,” kata mantan Pelatih Juventus dan tim nasional Italia itu.

Saat ditekuk Liverpool, Conte memainkan pola empat bek. Setelah itu, Conte mengubah skema permainan dengan tiga bek yang terbukti manjur sehingga memetik 15 kemenangan dan sekali kalah di 16 laga terakhir di liga.

Menurut premierleague, Chelsea cukup percaya diri tandang ke Anfield. Empat partai di Anfield, Si Biru menang dua kali dan seri dua kali. Terakhir kali Chelsea kalah di Anfield pada Mei 2012. “Kedua tim berambisi menang. Ini bisa menjadi laga perang terbuka,” kata Conte.

Justru bermain terbuka alias agresif itu yang disukai Klopp. Sejauh ini Liverpool gagal menang atas tim yang bertahan ketat dan kebobolan dari serangan balik. Jika di laga nanti Liverpool menang lagi, itu menyamai pencapaian musim 2010-2012, dalam laga tandang-kandang versus Chelsea. (REUTERS/AFP/BRO)/Harian KOMPAS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*