Orang Awam pun Bisa Turunkan Risiko Kematian Akibat Sakit Jantung

Saat seseorang terkena serangan jantung, orang awam di sekitarnya bisa membantu menurunkan risiko kematian pasien. Sebab orang awam bisa memberikan cardiopulmonary resuscitation (CPR) sebagai pertolongan pertama.

Singapura, Baranews.co – Saat seseorang terkena serangan jantung, orang awam di sekitarnya bisa membantu menurunkan risiko kematian pasien. Sebab orang awam bisa memberikan cardiopulmonary resuscitation (CPR) sebagai pertolongan pertama.

Ya, CPR bisa amat membantu ketika seseorang terkena serangan jantung. Apalagi CPR tak melulu harus dilakukan oleh mereka paramedis karena orang awam pun bisa melakukannya setelah mereka mengikuti training.

“Salah satu alternatif untuk menurunkan kematian akibat serangan jantung adalah orang awam mengikuti training CPR. Cuma beberapa jam aja kok itu, paling setengah hari ya. Dengan begitu, setiap orang bisa menolong orang lain,” kata medical director Gramercy Heart and Vascular Centre Mount Elisabeth Novena Singapura, dr Nikolas Wanahita.

Ditemui usai peluncuran Health Continuum Space di Philips APAC Centre, Toa Payoh, Singapura, Kamis (19/1/2017), dr Niko mengatakan training CPR tidak sulit. Hanya aja, orang-orang menurutnya memang mesti didorong agar mau mengikuti pelatihan CPR.

Berdasarkan standar global, ketika melakukan pelatihan Basic Cardiac Life Support (BCLS), selama dua sampai tiga jam seseorang sudah bisa mendapat sertifikat. CPR, lanjut dr Niko penting dilakukan selama seseorang yang terkena serangan jantung menunggu datangnya paramedis dan dibawa ke RS.

“Dengan CPR, secara manual kita pompa jantungnya, supaya nggak mengalami brain dead. Kalau nggak ditekan, dalam 2 sampai 3 menit otak bisa mati karena otak nggak dapat oksigen dari darah yang dipompa oleh jantung,” kata dr Niko.

CPR mesti dilakukan dengan cepat. Untuk itu, idealnya memang CPR dilakukan oleh beberapa tim sehingga pemberiannya bisa bergantian.

“Saat sudah di RS, biasanya kita tanya ini sudah berapa lama kolapsnya, tanpa CPR. Kalau 10 sampai 20 menit nggak mungkin kembali pulih seperti semula, karena tadi sudah ada beberapa bagian di otak yang sudah ‘mati’,” pungkas dr Niko. (detik.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*