Pansus Pemilu Kaji Sistem E-Voting dan E-Counting untuk Pilkada

Jelang Pilkada serentak Panitia Khusus (Pansus) Pemilu menerima masukan soal penggunaan teknologi. Mereka mengkaji sistem pencoblosan dan penghitungan suara menggunakan perangkat teknologi.

Jakarta, Baranews.co – Jelang Pilkada serentak Panitia Khusus (Pansus) Pemilu menerima masukan soal penggunaan teknologi. Mereka mengkaji sistem pencoblosan dan penghitungan suara menggunakan perangkat teknologi.

“E-voting, e-counting adopsi Pemilu kita ini sudah merupakan suatu keniscayaan, apalagi digabung antara Pilpres dan Pileg. Di hari H hitungnya itu seperti apa sih rumitnya?” ujar anggota Pansus Pemilu Johnny G Plate, dengan gaya bertanya-tanya, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (11/1/2017).

E-counting bisa diartikan sebagai penghitungan suara secara elektroning, e-voting adalah pemungutan suara dengan sistem elektronik pula. Menurut Johnny masih banyak persiapan yang harus dipenuhi. Dia mencontohkan soal ketersediaan peranti elektronik hingga sistem distribusi yang kurang memadai.

“Elektronifikasi banyak daerah yang masih 50 persen saja,” kata dia.

Dia berharap adopsi teknologi dalam sistem Pemilu bisa mendukung penyelenggaraan Pemilu yang lebih baik. Apalagi untuk mengantisipasi sengketa Pemilu.

“Pertanyaannya, firewallnya cukup gak, cyber security cukup nggak? Amerika saja bisa diretas oleh Rusia, apalagi Pemilu kita. Perlu konfirmasi sampai di mana kesiapan dalam negeri kita untuk e-voting dan e-counting,” urainya.

“Kita ingin menggunakan teknologi memudahkan pemilu. Jangan malah menggunakan teknologi lebih kacau,” sambung dia.

Johnny menyebut Nasdem melihat penggunaan teknologi sebagai kemungkinan terbaik. Lantaran hal itu bisa mengurangi kecurangan-kecurangan selama Pilkada serentak.

“Teknologi suatu keniscayaan. Tidak mungkin Pemilu serentak dilakukan manual. Mau dihitung sampai jam berapa? Kita juga tahu manual itu tanda tangan bisa dipalsukan, penyelenggara tidak ada di tempat tapi pakai teknologi harus ada di tempat,” kata dia.

Untuk itu hari ini Pansus Pemilu mengundang BPPT, PT Inti, Kominfo dan ITB untuk memberi masukan terkait sistem ini. Mereka banyak memberikan masukan terkait plus-minus penggunaan teknologi dalam pilkada.

“ITB tadi mengingatkan prasyarat mengadopsi teknologi banyak yang belum kita penuhi,” sambung dia.

Pansus Pemilu Kaji Sistem E-Voting dan E-Counting untuk PilkadaFoto: Peranti elektronik yang bisa dipakai untuk Pemilu (Aditya Mardiastuti/detikcom)

Dalam rapat itu juga dilakukan simulasi e-voting menggunakan KTP elektronik. Tersedia sebuah alat yang bisa membaca data yang tertera pada e-KTP.

Pemilih tinggal menempelkan e-KTPnya. Kemudian alat itu akan memverifikasi apakah pemilik sudah tercantum dalam DPT atau belum. (detik.com/hp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*