Kekurangan Tahanan, Penjara Belanda Jadi Rumah Pengungsi

Repro: dw.com

Belanda kekurangan tahanan. Alhasil penjara di Haarlem beralih fungsi jadi penampungan sementara para pengungsi. Di penjara mereka malah merasa aman.

 

Jumlah penjahat turun, arus pengungsi melonjak

Belanda telah membuka pintu penjaranya yang kosong untuk mengakomodasi masuknya migran pencari suaka. Tingkat kejahatan di negara itu telah terus menurun selama bertahun-tahun. Puluhan lembaga pemasyarakatan telah ditutup sama sekali. Ketika árus pengungsi melonjak, Badan Pusat Penerimaan Pencari Suaka Belanda melihat penjara-penjara kosong ini sebagai solusi.

Niederlande Asyl hinter Gittern (picture alliance/AP Photo/M. Muheisen)

Hidup dalam sel

Fotografer Muhammed Muheisen, dua kali peraih pengghargaan Pulitzer Prize dan kepala fotografer Associated Press untuk Timur Tengah, dalam beberapa tahun terakhir memotret krisis pengungsi. Ia mengabadikan kehidupan baru para pengungsi yang ditampung di penjara kosong ini. Tampak dalam foto, seorang gadis Afghanistan bernama Shazia Lutfi melongok dari pintu sel.

Niederlande Asyl hinter Gittern (picture alliance/AP Photo/M. Muheisen)

Bisa juga jadi salon

Butuh enam bulan bagi sang fotografer untuk diizinkan masuk ke penjara tersebut. Berhari-hari waktu dihabiskannya untuk mengenal pengungsi lebih dekat. tampak dalam foto, Yassir Hajji, asal Irak, tengah merapikan alis istrinya, Gerbia, di sebuah ruang sel.

Niederlande Asyl hinter Gittern (picture alliance/AP Photo/M. Muheisen)

Belajar bahasa Belanda

Pengungsi tidak diizinkan untuk bekerja, tetapi mereka berlatih berbicara bahasa Belanda dan naik sepeda –keterampilan penting untuk hidup di Belanda. Karena mereka melakukan semua itu di penjara, maka tidak mengusik warga. Pada umunya para pengungsi berkomentar: “Kami di sini di bawah atap, di tempat penampungan, jadi kami merasa aman.”

Belajar bahasa Belanda

Pengungsi tidak diizinkan untuk bekerja, tetapi mereka berlatih berbicara bahasa Belanda dan naik sepeda –keterampilan penting untuk hidup di Belanda. Karena mereka melakukan semua itu di penjara, maka tidak mengusik warga. Pada umunya para pengungsi berkomentar: “Kami di sini di bawah atap, di tempat penampungan, jadi kami merasa aman.”

Niederlande Asyl hinter Gittern (picture alliance/AP Photo/M. Muheisen)

Bebas untuk tinggal maupun pergi

Para pengungsi tersebut tinggal di penjara sekitar 6 bulan sebelum mendapat keputusan suaka. Mereka bebas untuk tinggal dan pergi kapan saja. Beberapa pengungsi bahkan menjalin persahabatan dengan warga Belanda.

Niederlande Asyl hinter Gittern (picture alliance/AP Photo/M. Muheisen)

Tak ada penjahat, aman untuk tinggal

Seorang pengungsi Suriah bahkan berkata pada Muhesein, bahwa penjara ini memberinya harapan untuk hidup. “Jika sebuah penjara tak ada tahanannya, maka artinya ini adalah negara yang aman, dimana saya ingin hidup.” Pengungsi lainnya,asal Afghanistan –Siratullah Hayatullah tampak asyik minum teh dengan tenang di depan kamarnya.

Niederlande Asyl hinter Gittern (picture alliance/AP Photo/M. Muheisen)

Fasilitasnya lengkap

Pengungsi Afghanistan Siratullah Hayatullah mencuci pakaiannya di ruang cuci. Infrastruktur dalam penjara cukup lengkap sehingga memudahkan pengungsi untuk menjalani hidup mereka sementara.

Niederlande Asyl hinter Gittern (picture alliance/AP Photo/M. Muheisen)

Tanpa diskriminasi

Pengungsi asal Maroko ini berpose di dalam kamarnya di penjara. Ia seorang gay. Selama di sini, tak pernah ia merasakan diskriminasi. Sebelumnya penjara di Belanda pernah dimanfaatkan juga untuk menampung tahanan dari Belgia dan Norwegia.

Niederlande Asyl hinter Gittern (picture alliance/AP Photo/M. Muheisen)

Bebas beribadah

Pengungsi Irak, Fatima Hussein beribadah di ruangannya di bekas penjara de Koepel di Haarlem.

Niederlande Asyl hinter Gittern (picture alliance/AP Photo/M. Muheisen)

Sehat jasmani dan rohani

Meski boleh keluar masuk penjara sesuka hati, bisa jadi kadang-kadang timbul rasa bosan. Mereka bisa juga berolah raga untuk mengisi waktu senggang.

Niederlande Asyl hinter Gittern (picture alliance/AP Photo/M. Muheisen)

Main basket juga bisa

Pengungsi asal Mongolia, Naaran Baatar, berusia 40 tahun. Di penjara, ia bisa main basket. Di hatinya terpupuk harapan akan hidup baru dan kebebasan.

Niederlande Asyl hinter Gittern (picture alliance/AP Photo/M. Muheisen)

Menenun harapan haru

Pengungsi Somalia, Ijaawa Mohamed, duduk di kursi di luar ruangan. Meski tinggal di penjara, mereka rata-rata merasa aman dan menenun harapan atas kehidupan baru. {Editor: ap/as (nationalgeograpic,smh,nbc,dailymail) Foto: Muhammed Muheisen (ap)/dw.com/swh].

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*