Ruang Kelas SDN Leda Manggarai Barat NTT Ambruk Diterjang Puting Beliung

Kepala Sekolah SDN Leda, Fransiskus Arson tampak berdiri di depan reruntuhan ruang sekolah SDN Leda dan didampingi para siswa-siswi

LABUAN BAJO, Baranews.co – Tiga ruang kelas Sekolah Dasar Negeri Leda, Desa Pangga, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ambruk diterjang angin Puting Beliung pada pukul 16:00, Senin, 21 November 2016.

Pantauan Baranews.co, Rabu, 23/11/2016, tampak tiga ruang kelas yang ambruk serata dengan tanah itu terbuat dari Bambu, beratapkan sing Aluminium dan berlantaikan tanah. Anak-anak sekolah terlihat gotong royong mengangkat puing-puing ruang kelas mereka yang berserakan. Sedangkan warga lainnya sibuk menyelamatkan kursi, meja dan buku-buku pelajaran yang masih tersisa di bawah reruntuhan bangunan tersebut. Tampak pula satu unit ruang kelas permanen yang berlantaikan semen, beratapkan sing aluminium, dan berdindingkan batu bata masih berdiri kokoh.

Kepala Sekolah SDN Leda, Fransiskus Arson kepada wartawan mengatakan pada saat ambruknya ruang kelas tersebut, cuaca sangat buruk, hujan dan angin puting beliung melanda wilayah itu kurang lebih satu jam. Gedung sekolah yang tampak reot itu pun ambruk, apalagi tiang penyangga bangunan terbuat dari Bambu dan kayu serta lantainya beralaskan tanah.

Dikatakan Arson, bangunan tersebut dibangun atas inisiatif warga ketika sekolah tersebut masih berstatus TRK (Tambahan Ruang Kelas) dari sekolah induk Sekolah Dasar Katolik (SDK) Lambur yang jaraknya kurang lebih 7 km dari wilayah itu.

Ketiga ruang kelas tersebut dibangun secara bertahap oleh warga setempat pada tahun 2012, 2014 dan 2015. Sedangkan satu unit ruang kelas yang tampak kokoh itu, ujar Arson, dibangun dari Dana DAK senilai 135 juta Rupiah.

Salah seorang guru Kelas 5, Marselina Nuryati mengatakan dengan ambruknya sekolah tersbut, proses belajar mengajar menjadi terganggu dan tidak dapat berjalan secara baik.

Dikatakan Nuryati, ruang kelas yang ambruk tersebut baru berusia lima (5) tahun. Sedangkan jumlah siswa 50 orang dengan 4 rombongan belajar. Jumlah guru yang mengabdi di sekolah milik pemerintah tersebut ada 5 orang, 2 orang diantaranya berstatus PNS dan 3 orang lainnya berstatus guru komite.

Pihaknya berharap agar Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dapat segera mengambil sikap untuk membangun kembali ruang kelas darurat demi menyelamatkan proses belajar mengajar. Apalagi jadwal ujian semester sudah di depan mata dan dijadwalkan akan berlangsung pada 5 Desember 2016 mendatang.

Salah seorang siswa kelas 5, Maria Adriana Jelita (12) kepada wartawan mengatakan sudah dua hari proses belajar mengajar tidak dilakukan di sekolah.

“Proses belajar mengajar tidak lagi dilakukan di sekolah sejak Selasa kemarin. Apalagi ruang kelas kami yang masih berdiri kokoh dijadikan sebagai tempat penampungan perabot sekolah dan buku-buku yang masih dalam keadaan utuh,” ujarnya.

Kejadian itu tak menyurutkan semangat para siswa dan guru-guru untuk tetap menjalankan proses belajar mengajar. Tampak sejumlah rumah penduduk pun dijadikan ruang kelas sementara. *

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*