Thailand Larang Penggunaan Tiga Bahan Kimia Pertanian Beracun

Glifosat, yang umumnya dikenal sebagai RoundUp produksi perusahaan AS Monsanto, kini dilarang dipakai di Thailand. (Sumber: VOA Indonesia/Reuters)

Larangan terhadap tiga bahan kimia pertanian beracun di Thailand dilakukan di tengah reaksi beragam dari pekerja dan anggota parlemen. Komisi Bahan Berbahaya Nasional negara itu memutuskan mengategorikan herbisida glifosat dan paraquat serta insektisida klorpyrifos sebagai bahan kimia terlarang, mulai 1 Desember tetapi belum jelas apa yang akan digunakan petani sebagai pengganti bahan-bahan kimia yang umum digunakan itu.

Penggunaan pestisida di Thailand telah meningkat dalam beberapa tahun ini dan menimbulkan risiko besar bagi kesehatan buruh tani yang merupakan 40 % dari tenaga kerja di negara itu.

Guna meningkatkan standar keselamatan, dalam pemungutan suara di parlemen, pemerintah memutuskan melarang tiga bahan kimia itu, termasuk glifosat, yang umumnya dikenal sebagai RoundUp – yang penggunaannya sudah dilarang atau dibatasi di 19 negara.

Menteri Kesehatan Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan, “Orang-orang yang menderita dan terdampak pestisida kini adalah kita semua, termasuk bayi yang belum lahir.”

Departemen Pertanian Amerika meminta agar larangan itu ditunda, dengan alasan Amerika akan kehilangan pemasukan dari ekspor. Selain itu, Amerika menunjukkan hasil penelitian yang menyatakan pembasmi gulma itu aman bila digunakan sesuai petunjuk.

Meskipun umumnya buruh tani seperti Kham Khab Gaow, menyadari bahaya yang ditimbulkan dari bahan-bahan kimia beracun itu, muncul pertanyaan yang lebih besar tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

Kham Khab Gaow mengatakan, “Kalau mereka benar-benar ingin melarangnya, mereka harus lebih dulu mendapatkan penggantinya yang aman bagi kami. Tentu saja tidak ada yang mau mempertaruhkan nyawa. Saya tidak mau bertaruh nyawa ketika menyemprotkan pestisida itu. Bahan kimia itu akan membahayakan kesehatan saya dan akan membuat saya bekerja lebih lama. Pemerintah perlu membantu kami mendapatkan penggantinya. Tidak hanya datang untuk melarang dan membiarkan kami.”

Sementara konsumen semakin peduli pada kesehatan, permintaan akan produk-produk pangan organik meningkat tetapi standar pengawasan masih buruk dalam industri yang bergantung pada bahan kimia tersebut.(ka/jm)/VOA Indonesia/swh