PSIKOLOGI: Sendiri Tanpa Kesepian

Ilustrasi (Sumber: Kompas)
AGUSTINE DWIPUTRI (Sumber: Kompas/ARSIP PRIBADI)

Oleh: AGUSTINE DWIPUTRI

Peristiwa tinggal terpisah dari keluarga karena tugas, perceraian, kondisi melajang, ataupun ditinggal meninggal pasangan acap kali membuat seseorang harus hidup sendirian. Apakah kesendirian identik dengan kesepian? Bagaimana mengatasi kesepian yang dirasakan?

Menurut Abigail Brenner (2014), bagi kebanyakan orang, sendirian adalah kondisi keberadaan yang negatif, sendirian sering membawa stigma sosial, menyiratkan isolasi atau terpinggirkan. Rasa sendirian ini tampaknya menunjukkan bahwa menjadi diri sendiri bukanlah atas kehendak. Itu bukanlah pilihan yang dia buat, melainkan suatu keadaan yang dipaksakan di mana seseorang tidak terlibat secara sosial dengan cara yang diharapkan. Lebih jauh lagi mungkin menyiratkan bahwa ada sesuatu yang salah atau cacat pada dirinya.

Christine Carter, PhD, seorang pakar sosiologi dan kebahagiaan di Greater Good Science Center di University of California, Berkeley, menekankan bahwa di perkotaan kita hidup dalam budaya kesibukan, di mana kita terus bergerak, melakukan sesuatu, dan terus-menerus berada dalam perjalanan. Situasi sibuk disamakan dengan kebermaknaan. Jadi, ketika kita sendirian, dapat memicu ketakutan dan kecemasan bahwa hidup kita kurang bermakna.

Kesepian

Brenner (2014) menjelaskan bahwa tidak seperti sendirian, kesepian sering menyiratkan arti bahwa Anda mencari seseorang atau sesuatu yang dibutuhkan untuk merasa aman dan bahagia. Bagi sebagian orang, kesepian mungkin merupakan kondisi kronis di mana kegiatan Anda sendiri tidak pernah cukup. Kondisi di mana menghabiskan waktu dengan diri sendiri dapat menghasilkan kecemasan, bahkan gejala yang lebih buruk seperti serangan panik dan depresi. Bagi banyak orang, solusi yang dirasakan untuk menjauhkan rasa takut ini adalah memastikan bahwa Anda selalu bersama orang lain.

Tentu saja, kesepian bukan ”satu ukuran yang pasti cocok untuk semua orang”. Seperti halnya apa pun, mungkin ada berbagai tingkat keparahan bergantung pada kepribadian dan pengalaman hidup seseorang. Sebagai contoh, kesepian mungkin dialami oleh beberapa orang sebagai pengingat yang menyakitkan akan kehilangan atau pengabaian sebelumnya, merasa ditolak, tidak dirawat, atau tidak dikasihi.

Keuntungan sendirian

Belajar menyendiri mungkin awalnya menakutkan. Namun, sekali dikuasai, akan berfungsi sebagai landasan untuk perkembangan diri sebagai manusia. Ada banyak hal yang bisa diperoleh dari belajar untuk bersandar pada—dan yang lebih penting untuk memercayai—suara hati Anda sendiri sebagai sumber terbaik yang membimbing Anda. Sendirian merupakan kesempatan yang baik untuk mengenal diri dan belajar mencintai diri secara lebih baik.

Brenner (2014) mengatakan bahwa sendirian memungkinkan Anda untuk melepaskan ”penjaga sosial” Anda sehingga memberikan kebebasan untuk berintrospeksi, untuk berpikir sendiri. Anda mungkin dapat membuat pilihan dan keputusan yang lebih baik tentang siapa Anda dan apa yang Anda inginkan tanpa pengaruh dari luar.

Sering kali kita terombang-ambing oleh pikiran, perasaan, sikap, kepercayaan, dan perilaku orang-orang yang berada di lingkungan terdekat kita. Tentu saja, Anda dapat meminta saran dan pendapat orang lain, tetapi pada akhirnya berkonsultasi dengan diri sendiri dan memutuskan apa yang ingin Anda lakukan akan menuntun Anda ke dalam kehidupan yang terbaik untuk Anda.

Sendiri tanpa kesepian

Ben Martin (2019) mengatakan, mereka yang sebagian besar hidupnya sendirian bisa melakukan berbagai hal sesuai minat, seperti menulis surat, membaca, melukis, menjahit, dan merawat hewan peliharaan. Seseorang yang merasa kesepian harus menghindari situasi seperti minum alkohol sendiri, menggunakan pelarian lain, seperti obat tanpa resep ataupun menonton begitu banyak acara televisi sehingga menjadi pengganti untuk bersosialisasi.

Kita dapat belajar dari para lanjut usia yang telah mengembangkan sifat atau kebiasaan yang membantu mereka merasa nyaman dengan diri mereka sendiri. Dalam kesendiriannya, mereka telah menemukan cara untuk tetap sibuk secara mental. Mereka telah mencapai titik di mana status quo mereka adalah ketenangan.

Selanjutnya saya pilihkan lima dari 13 upaya Tyler Tervooren (2017) yang dijalaninya ketika harus sendirian dan telah menambah nilai besar dalam hidupnya.

1. Pahami bahwa diri Anda cukup baik

Anda adalah orang yang berharga dan tak perlu persetujuan orang lain untuk membenarkan hal ini. Ketika sendirian, ingatkan diri bahwa karena Anda memilih untuk menjadi sendirian, ini benar-benar sebuah pilihan. Sangat mudah menemukan seseorang untuk menghabiskan waktu bersama. Tetapi, ketika Anda memiliki standar tinggi untuk mengizinkan orang-orang tertentu masuk ke dalam hidup Anda, Anda dapat mengatakan kepada diri sendiri bahwa lebih baik sendirian daripada bersama seseorang yang tidak cocok untuk Anda.

2. Hargai pendapat orang lain, tetapi lebih lagi pendapat Anda

Jangan meminta nasihat kecuali benar-benar membutuhkannya. Lebih baik mintalah saran kepada diri sendiri. Semakin banyak waktu yang Anda habiskan untuk meminta nasihat kepada diri sendiri, semakin sedikit Anda membutuhkan masukan dari orang lain. Saat Anda memercayai diri sendiri untuk menyelesaikan masalah, Anda menjadi orang yang jauh lebih kuat dan lebih percaya diri, serta dapat menghadapi tantangan yang sebelumnya Anda rasa tidak akan mampu diatasi.

3. Belajar menjadi pengamat

Untuk benar-benar menikmati kesendirian, belajarlah untuk melihat situasi sehari-hari dengan cara baru dan berbeda. Pergi ke taman dan saksikan orang-orang bermain dengan anak- anak atau binatang peliharaan mereka. Pergi ke pasar atau toko dan saksikan bagaimana orang berbelanja bahan makanan mereka. Ke mana pun Anda pergi, berusahalah untuk memahami orang lain di sekitar Anda. Mempelajari cara orang berperilaku ketika mereka mengira tidak ada yang memperhatikan akan membuat Anda merasa lebih terhubung dengan mereka.

4. Hargai kesenyapan

Dunia adalah tempat yang sibuk. Luangkan waktu sejenak dan duduk dengan tenang di ruangan gelap. Dengarkan segala sesuatu yang tidak terjadi di sekitar Anda. Anda dapat belajar banyak tentang diri Anda di saat-saat ketika sedang tidak sibuk, saat tidak ada yang mengganggu Anda dari pikiran dan perasaan yang Anda sangkal selama hari-hari sibuk Anda.

5. Hargai setiap interaksi

Kebanyakan orang harus mengalami beberapa jenis tragedi sebelum mereka mulai memahami betapa singkatnya waktu. Waktu sendirian itu penting dan indah. Tetapi, begitu juga waktu yang dihabiskan bersama orang lain. Tidak ada orang atau situasi yang membosankan. Jika Anda bosan, itu karena Anda tidak memberikan perhatian. Ini masalah pada diri Anda, bukan dengan lingkungan Anda.

Berminatlah kepada setiap orang yang masuk ke dalam hidup Anda meski hanya sekejap. Dengarkan dan perhatikan baik-baik apa yang mereka katakan dan lakukan. Cobalah memahaminya sebagai pribadi. Anda akan menjadi lebih baik untuk itu.

Mari mencobanya.