Mahasiswa Internasional di Australia Rentan Alami Gangguan Mental, Tapi Lebih Senang Diam

Mahasiswa internasional seringkali tidak mau menceritakan masalah-masalh terkait dengan kesehatan mentalnya. (Sumber: ABC News/Flickr: ermadz x)

Berasal dari keluarga yang saat itu memiliki masalah, Sandersan Onie asal Indonesia mengaku seringkali memiliki pemikiran negatif. Tapi keadaannya makin buruk ketika ia memutuskan pindah dan studi ke Australia di tahun 2015.

Oleh: Tracey Shelton, Erwin Renaldi, dan Bang Xiao

Sydney, Baranews.co – “Dalam sebulan saya bisa merasa tidak gembira sama sekali,” Sandersan yang sekarang sedang menyelesaikan PhD di bidang psikologi di University of New South Wales (UNSW) di Sydney.

Masalah mahasiswa internasional:

  • Tekanan untuk sukses dan kesulitan uang menyebabkan banyak mahasiswa melakukan bunuh diri
  • Data yang sebenarnya penting untuk mengidentifikasi masalah tidak dikumpulkan
  • Halangan budaya, keuangan, dan bahasa jadi alasan mengapa mahasiswa tak mau meminta tolong

“Saat ketemu dengan teman-teman saya bisa penuh tawa, tapi tiba-tiba bisa langsung memiliki perasaan tidak enak tanpa alasan sama sekali.”

“Suatu saat, ketika saya duduk di sebuah gereja tiba-tiba saya berkata, ‘saya ingin mengakhiri hidup saya’.”

Sandersan akhirnya mendapatkan bantuan yang ia butuhkan saat itu.

Banyak mahasiswa internasional di Australia yang terisolasi, memiliki tekanan keuangan dan budaya dan mereka memilih untuk diam.

Bagi sebagian lainnya, pemikiran-pemikiran ingin bunuh diri malah berakhir dengan fatal.

Di Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia yang diperingati hari Selasa (10/9/2019) para mahasiswa dan sejumlah pemimpin komunitas mendesak agar Pemerintah Australia memberikan pelayanan kesehatan mental yang lebih efektif bagi mahasiswa internasional.

“Kita kehilangan begitu banyak orang yang bunuh diri, ini adalah sebuah tragedi nasional,” kata Nieves Murray, Diketur Utama ‘Suicide Prevention Australia’.

“Kita semua bisa melakukan perubahan bagi mereka yang sedang kesulitan, lewat percakapan yang rutin dan bermakna soal naik turunnya kehidupan.”

Pemerintah Australia, baik di tingkat nasional dan negara bagian, telah menjadikan “pencegahan bunuh diri sebagai prioritas”, tapi masih ada perhatian kurang bagi mahasiswa asing.

Empat mahasiswa Indonesia bunuh diri

Di tahun 2016, mahasiswa asal China, Zhikai Liu melakukan bunuh diri.

Menurut saudara kandung perempuannya, Zhikai seringkali mengalami kesulitan dengan bahasa Inggris dan susah mengerti kelasnya di University of Melbourne.

Karena kesulitan-kesulitan yang dialami, ia pun akhirnya mengalami depresi dan insomnia.

Punya masalah dan ingin membicarakannya? Hubungi:

Untuk bantuan penerjemah:

  • Hubungi TIS National di nomor 131 450
  • Beri tahu bahasa apa yang Anda butuhkan dan nomor mana yang hendak Anda hubungi
  • Tunggu saat operator sedang menghubungi Anda dengan penerjemah
  • Tunggu hingga operator melakukan transfer panggilan ke nomor bantuan yang dibutuhkan

Lembaga Coroners Court di negara bagian Victoria (CPU) melakukan penyelidikan soal kematian Zhikai, yang kemudian melakukan studi terhadap 27 kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa internasional di Victoria pada kurun 2009-2015.

Empat diantara mahasiswa yang bunuh diri tersebut diketahui berasal dari Indonesia.

Dalam laporan tersebut CPU memberikan tiga rekomendasi kepada Departemen Pendidikan Australia, diantaranya perlu adanya pengumpulan data sebagai “upaya untuk mengurangi bunuh diri di kalangan mahasiswa internasional”.

“Pemerintah menerima rekomendasi dari Coroner Victoria pada 2019 dan bekerja dengan sektor ini untuk mengatasinya,” ujar Dan Tehan, Menteri Pendidikan Federal kepada ABC.

Namun, dalam surat balasan kepada Coroner Victoria, departemen tersebut menduga masalah pelaporan angka bunuh diri di kalangan mahasiswa internasional disebabkan takut melanggar hak-hak privasi.

ABC telah menghubungi Departemen Pendidikan, Coroners Court di Victoria, lembaga Universities Australia, serta beberapa asosiasi mahasiswa internasional.

Tidak ada diantara mereka, hingga saat ini, yang mengumpulkan angka dan bunuh diri di kalangan mahasiswa internasional di Australia.

Suresh Rajan dari Dewan Komunitas Etnis di Australia Barat telah menangani 12 kematian akibat bunuh diri yang terjadi di komunitas India di Australia Barat dalam 10 tahun terakhir.

Menurutnya kurangnya data dan angka telah menjadikan tantangan untuk menentukan apa saja yang dibutuhkan dari kesehatan mental khususnya di kelompok etnis lain.

“Kami membutuhkan data, sehingga dapat melacak di mana bunuh diri terjadi, sehingga kami dapat mengidentifikasi komunitas yang paling terkena dampak.”

Kemana mencari bantuan?

Sandersan bisa lolos dari pikiran ingin bunuh diri setelah menemukan orang yang tepat untuk diajak bicara.

“Saya punya teman baik dan saya ceritakan padanya jika sempat kepikiran untuk bunuh diri dan dia mulai menangis,” katanya.

“Tapi kemudian saya merasakan bagaimana ia mengekspresikan kepedulian dan perhatiannya.”

Saat itulah ia menyadari betapa kritisnya memiliki “sistem pendukung” yang bisa memahami bagaimana menanganinya.

Hari Selasa (10/09/2019) bertepatan dengan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, Sandersan dan rekannya Benny Prawira dari Yayasan Into The Light meluncurkan situs What I Wish They Knew, di mana anak-anak muda, khususnya dari Indonesia, dapat berbagi masalah mereka tanpa perlu mengungkapkan jati diri mereka.

Tujuan dari kampanye digital ini adalah untuk mengumpulkan informasi yang akan membantu mengembangkan program pertolongan pertama kesehatan mental untuk anak-anak muda.

Suresh mengatakan pemerintah federal telah memberikan dana hingga AUD$ 100 ribu atau hampir Rp 1 miliar kepada Dewan Mahasiswa Internasional Australia untuk mendukung kesehatan mental mahasiswa dari luar negeri.

Mahasiswa internasional juga bisa “mengakses layanan kesehatan mental gratis yang ditawarkan Australia”, ujarnya.

Misalnya saja layanan yang diberikan oleh sejumlah yayasan seperti Lifeline, Suicide Call Back Service dan Beyond Blue, lengkap dengan layanan penerjemahan yang dilakukan organisasi Translating and Interpreting Service (TIS).

Juru bicara dari Monah University mengatakan para mahasiswa dan staf mereka memiliki “pilihan untuk bertemu konselor di kampus, juga dokter umum atau ahli psikiater dengan berbagai bahasa”, selain juga bisa ikut pelatihan Pertolongan Pertama Pada Kesehatan Mental.

University of Melbourne mengatakan selain konselor, psikolog, dokter, perawat kesehatan jiwa dan psikiater, bahkan beberapa staf juga telah menjalani pelatihan kesehatan mental.

“Universitas telah dan akan terus menggunakan platform jejaring sosial China, seperti Weibo dan WeChat, untuk membuat mahasiswa asal China sadar adanya berbagai layanan dukungan tersedia bagi mereka,” kata juru bicara dari Unimelb.

Chang Liu, 23 tahun, yang juga sudah meneliti layanan kesehatan mental di kalangan mahasiswa, mengatakan mahasiswa asing seringkali tidak mengerti bagaimana mengaksesnya, meski banyak pelayanan yang disediakan.

Belum lagi sistem medis di Australia yang dapat membingungkan bagi siswa internasional. Mereka perlu membayar ratusan dolar untuk satu kali sesi, sebelum dapat mengklaimnya kembali, belum lagi batasan dana yang untuk sekali sesi.

“Mahasiswa internasional tidak diberikan pelayanan yang sederhana dan terjangkau, saat mereka mengalami situasi yang mengancam jiwa,” kata Chiang.

‘Pulang karena merasa gagal’

Salah satu tugas dari Suresh adalah memulangkan jasad dari mahasiswa asal India yang melakukan bunuh diri di Australia.

Menurutnya harapan untuk bisa mendapat pencapaian akademis yang tinggi dan membawa uang kembali ke daerah asal mereka sangatlah tinggi.

Padahal harapan yang tinggi ini seringkali mengarah pada “merasa gagal”.

Laporan CPU menemukan ada lima kasus bunuh diri dari mahasiswa internasional karena tidak mampu membayar uang sekolah, selain juga ada yang karena mengalami kerugian besar akibat perjudian.

Dari pengamatan Suresh, kebanyakan keluarga menggunakan tabungan mereka untuk mengirimkan mereka sekolah di luar negeri.

Mereka kemudian berharap bisa menjadi pencari nafkah untuk semua keluarga.

Salah satu pemuda bergama Sikh, yang juga anak pertama dari lima bersaudara, datang ke Australia dengan visa pelajar.

Ia berharap tidak hanya akan mendapat cukup uang untuk membiayai dirinya sendiri, tapi juga mengirimkan uang ke rumah orang tuanya dan membayar pernikahan kelima saudara perempuannya.

Di bawah tekanan keuangan yang besar, dia baru-baru ini mengambil seluruh tabungannya dari bekerja sebagai sopir taksi di kasino setempat.

Saat ini pria tersebut sedang “dipantau takut melakukan bunuh diri”, kata Suresh kepada ABC.

Dalam kasus lain, pasangan muda mengakhiri hidup mereka sendiri setelah pengajuan menjadi penduduk tetap Australia ditolak.

“Kalau pulang, mereka akan dinggap sebagai orang yang gagal,” katanya.

Suresh mengatakan ada pula kasus bunuh diri akibat hubungan percintaan, termasuk “tidak diterimanya hubungan sesama jenis dalam sejumlah budaya”.

Menurutnya kasus seperti ini tidak hanya dialami mahasiswa asal India, tetapi juga mahasiswa Malaysia dan Singapura.

Sebelumnya mereka mampu untuk terbuka soal hubungan sesama jenis saat tinggal di Austrlalia, tetapi mereka tidak dapat mengungkapkan hal ini kepada keluarga.

Dalam banyak kasus, pernikahan sudah diatur di rumah oleh keluarga, yang tidak bisa mereka tolak, sama sekali.

‘Kesalahan diagnosa picu bunuh diri’

Laporan koroner membandingkan antara mahasiswa internasional dengan mahasiswa lokal.

Mereka menemukan mahasiwa internasional memiliki “keterlibatan yang lebih rendah dengan layanan kesehatan mental”.

Tak hanya itu tingkat penyakit mental yang didiagnosis di antara mahasiswa kelahiran Australia empat kali lebih tinggi dibandingkan mahasiswa internasional.

Kemungkinan mengapa mahasiswa internasional tidak mengakses perawatan kesehatan mental adalah perbedaan budaya, keuangan dan bahasa.

Anya Niu, sekarang berusia 27 tahun, salah didiagnosis ketika ia sedang studi di Australia, tahun 2017 lalu.

Kesalahan diagnosa itu menurutnya disebabkan karena apa yang ia gambarkan sebagai kombinasi dari kesalahpahaman budaya, kesulitan berbahasa, serta terbatasnya layanan kesehatan mental di kampusnya.

Awalnya ia didiagnosa menderita depresi ringan kemudian diberi resep obat.

Tapi obat tersebut membuatnya tidak mampu merasakan emosi sama sekali dan menyebabkan pikiran untuk bunuh diri, katanya.

Kondisinya menjadi sangat buruk hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke China tanpa menyelesaikan studinya.

“Saya duduk di tangga, menangis dan putus asa karena kehidupan saya di Australia … saya memutuskan untuk kembali ke rumah,” kata Anya kepada ABC.

Kembali ke China, dia didiagnosis menderita gangguan bipolar dan segera membaik dengan pengobatan yang tepat.

“Sulit menerima bahwa dua tahun penderitaan sebelumnya itu sebenarnya bisa dicegah,” katanya, yang juga meyebut masalah kesehatan mental di kalangan siswa internasional sebagai “pembunuh diam-diam”.

Janice Ip, seorang peneliti untuk Pusat Kesehatan Holistik, mengatakan karena hambatan budaya, mahasiwa sering merasa disalahpahami dan banyak diantara mereka yang justru “merasa lebih buruk setelah bertemu dengan konselor”.

“Kadang-kadang, mereka masih harus menemui beberapa penasihat dan mengulangi cerita mereka hingga berkali-kali.” (ABC News)/swh