#NoBra: Perempuan Korsel Melepas Belenggu Budaya Patriarki dengan Melepas Bra

Ilustrasi (Sumber: BBC News Indonesia)

Selama beberapa tahun terakhir, para perempuan Korsel telah memprotes budaya patriarki, kekerasan seksual, dan kejahatan “kamera mata-mata”, yaitu aksi pria yang menempatkan kamera tersembunyi di toilet dan tempat umum lainnya.

Seoul, Baranews.co – Perempuan Korsel pernah menggelar demonstrasi besar-besaran pada 2018, ketika puluhan ribu perempuan turun ke jalan-jalan kota Seoul guna menyerukan pemberantasan pornografi “kamera mata-mata”.

Kini, perempuan Korsel kembali menyuarakan hak kebebasan memilih lewat gerakan #NoBra alias tidak menggunakan bra di balik pakaian mereka.

Gerakan dimulai tahun lalu oleh seorang selebritas Korsel, Sulli, yang kemudian diikuti jutaan warganet. Salah satunya adalah Park I Seul, yang biasa dipanggil Chido.

Dia mendokumentasikan kesehariannya saat melakukan gerakan #NoBra, mulai dari merasa rikuh di awal-awal hingga merasa lebih leluasa dan terbebas.

Chido mengaku, tanpa bra dia merasa lebih leluasa. Dia juga jadi lebih bisa menikmati makanan dalam jumlah banyak tanpa harus merasa sesak.

Di sisi lain, kebanyakan orang di Korea Selatan masih menganggap perempuan yang keluar rumah tanpa menggunakan bra, tidak sopan, bahkan tabu.

Sementara, Dr Deidre Mc Ghee, seorang fisioterapis sekaligus direktur Riset Payudara Australia di Universitas Wollongong, menyebutkan, tidak memakai bra bisa berdampak negatif.

“Saya yakin perempuan berhak memilih. Namun jika Anda punya bobot payudara yang signifikan dan tidak ada penopangnya, maka postur akan terdampak, termasuk leher dan punggung,” paparnya. (BBC News Indonesia)/swh