Isap Rokok Elektrik, Puluhan Remaja AS Dirawat Karena Penyakit Paru-Paru

Seorang siswa SMU mengisap rokok elektrik dekat sekolahnya di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, 11 April 2018. (Sumber: VOA Indonesia/AP)

Para pejabat kesehatan AS sedang menyelidiki kasus puluhan orang, terutama remaja, yang dirawat di rumah sakit akibat sakit paru-paru parah dalam beberapa pekan terakhir setelah mengisap vaping atau rokok elektrik. Namun, penyebab pasti penyakit mereka masih belum diketahui.

Baranews.co – Departemen Kesehatan di negara bagian Illinois, Minnesota, dan Wisconsin dalam pernyataannya mengatakan pasien menunjukkan gejala batuk, sesak napas, pusing, dan kelelahan. Akibat gejala-gejala tersebut, mereka harus dilarikan ke rumah sakit dan harus dipasangi alat bantu pernafasan pada batang tenggorokannya.

Pejabat dari tiga negara bagian itu, yang telah melaporkan setidaknya 30 kasus yang dikonfirmasi dan 22 sedang dalam penyelidikan, mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakan apakah penyakit tersebut terkait. Namun, mereka saling bekerja sama bersama Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) untuk penyelidikan lebih lanjut.

Beberapa di antara pasien itu “mengoleskan,” atau mengisap produk-produk ganja. Media AS melaporkan beberapa negara bagian lain juga melaporkan kasus tersebut.

Thomas Haupt, seorang ahli epidemiologi penyakit pernapasan dari Departemen Layanan Kesehatan Wisconsin, mengatakan kepada AFP pada Kamis: “Kami sedang dalam proses mewawancarai semua pasien kami, untuk mencari tahu persamaannya.”

“Pada saat ini, satu-satunya kesamaan adalah vaping tetapi kami mencoba memperluas jaring pengaman dan memastikan tidak ada yang terlewat.”

Temuan itu membingungkan para ahli, karena rokok elektronik telah tersedia di AS sejak 2006 dan penelitian ilmiah sejauh ini menunjukkan rokok elektronik kemungkinan alternatif racunnya lebih sedikit daripada merokok.

Penggunaannya di kalangan remaja melonjak dalam beberapa tahun terakhir: sekitar 3,6 juta siswa sekolah menengah dan menengah atas menggunakan produk vaping pada 2018, meningkat 1,5 juta dari tahun sebelumnya, menurut laporan oleh CDC.

Haupt mengatakan kepada AFP bahwa kasus-kasus di Wisconsin tidak terbatas pada remaja, kasus-kasus yang dikonfirmasi termasuk pengguna hingga usia pertengahan tiga puluhan, sementara kasus-kasus yang dicurigai termasuk orang-orang yang berusia lima puluhan.

Banyak pasien harus mendapat alat bantu untuk bernafas, sementara pemindaian mengungkapkan infiltrasi dan “ground glass opacities” yang mengindikasikan kelainan pada alveoli. Alveoli adalah kantung udara kecil pada paru-paru tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida.

Tetapi pasien meresponse pengobatan steroid dengan baik dan kemudian diizinkan pulang dari RS, dan akan mendapat pemindaian lebih lanjut beberapa minggu kemudian untuk menentukan apakah ada kerusakan permanen.

“Ini merupakan penyelidikan baru bagi kami,” kata Haupt dan menambahkan pasien tidak memiliki penyakit lainnya yang bisa berisiko komplikasi.[my/jm]/VOA Indonesia/swh