Minat Baca Indonesia Sebenarnya Ada, Namun Kurang Fasilitas dan Inovasi

Peranan guru dan orang tua perlu ditingkatkan agar anak-anak mau terus membaca. (Sumber: ABC News/Koleksi pribadi)

Minat membaca di Indonesia, khususnya di Indonesia Timur dipandang rendah selama ini. Tapi para penggiat literasi justru menemukan antusias membaca yang cukup tinggi di kalangan masyarakat yang tinggal di luar kota-kota besar.

Oleh: Erwin Renaldi

Baranews.co – Seperti yang terjadi di Nusa Tenggara Timur, yang dalam tiga tahun terakhir telah memiliki hampir 30 Rumah Baca yang dilakukan swadaya oleh Adolfus Parera.

Gerakan literasi swadaya:

  • Telah melibatkan sejumlah relawan di desa-desa dengan fokus utama mereka adalah anak-anak
  • Mereka terhubung lewat sebuah Facebook grup untuk saling bertukar informasi
  • Inovasi menggabungkan membaca dan bermain membuat anak-anak semakin senang membaca

Semua berawal ketika Adolfus pernah meminta seorang siswa sekolah menengah pertama untuk membaca buku, namun ternyata membacanya tidak begitu lancar.

Ia pun bekerja sama dengan pihak desa, guru-guru di sekolah, serta para orang tua untuk membuat dan mendukung program wajib baca di Rumah Baca yang ia dirikan.

“Dari pukul 03:30 sore hingga 06:30 malam semua anak-anak usia sekolah wajib datang membaca buku di Rumah Baca,” ujar Adolfus, yang bekerja di Direktorat Jenderal Perhubungan Udara NTT.

Menurut Adolfus minat baca di Indonesia sebenarnya tidaklah rendah, tetapi kurangnya perhatian dari para orang tua untuk keberlangsungan pendidikan anak-anaknya.

Adolfus berserta relawan lainnya mendapatkan buku-buku dengan cara menyisihkan gaji mereka, selain sumbangan buku-buku dari beberapa gerakan literasi lainnya.

Saat ini kabupaten Sabu Raijua memiliki Rumah Baca terbanyak, yakni 20 buah dan mereka pun sedang berusaha membuat program literasi digital lewat pendidikan komputer.

Sementara itu menurut penggiat Griya Baca Jelita di kabupaten Banyumas, Jawa Tengah mengatakan sebenarnya ada minat baca di kalangan masyarakat, hanya saja membutukan lebih banyak inovasi.

Menurut Any Anggorowati, pendiri Griya Baca Jelita, mereka tidak hanya menyiapkan fasilitas membaca lewat lesehan baca, tetapi juga memberikan bimbingan belajar, serta melatih kesenian musik.

“Kami membuka pelayanan pinjam dan baca setiap hari mulai pukul 01:30 siang hingga 8 malam,” kata Any.

Menyediakan buku-buku yang sesuai keinginan masyarakat adalah salah satu hal yang penting dan kini mereka sedang membutuhkan buku terkait kesenian, musik, serta buku-buku kerajinan.

Gerakan Melawan UNESCO

Dengan memanfaatkan Facebook, ratusan penggiat literasi kini sudah terhubung dalam grup ‘Pustaka Bergerak Indonesia’, dimana mereka bisa saling berbagi pengalaman dan inspirasi kepada satu sama lain.

Grup Facebook ‘Pustaka Bergerak Indonesia’ telah dibentuk sejak tahun 2016 dan kini sudah dilengkapi juga dengan fitur ‘mentorship’, dimana para anggota bisa bertanya berbagai hal, mulai dari sumbangan buku hingga soal memperoleh dana desa dan dana bantuan lainnya.

“Kekuatan utama pustaka bergerak ini adalah jaringan relawan, mereka yang sungguh-sungguh membentuk semangat dan gerakan mandiri ini,” ujar Nirwan Ahmad Arsuka, salah satu pendirinya.

Pada awalnya Nirwan mendirikan Kudapustaka Gunung Slamet di awal 2015 untuk mendatangi anak-anak di lembah dan gunung-gunung dengan kudanya, bersama rekannya Ridwan Sururi.

Kemudian ia juga membuat perahu pustaka dengan tujuan anak-anak di pantai dan pulau-pulau kecil, khususnya di Sulawesi Barat dengan relawan Muhammad Ridwan Alimuddin.

“Kini kawan-kawan relawan lain juga tergerak dengan membuat becak pustaka, sepeda pustaka, gerobak pustaka, limbah pustaka, jeruji pustaka, dan lainnya,” ujar Nirwan, yang juga mengatakan sudah ada2.600 kelompok saat ini yang tersebar di Indonesia.

Nirwan menolak pernyataan minat baca Indonesia yang rendah, karena menurutnya yang membuat rendah adalah terbatasnya bahan bacaan bermutu dan bisa terjangkau.

“Sejumlah relawan juga pernah mengkampanyekan #LawanUNESCO untuk menunjukkan jika survei badan PBB soal minat baca adalah keliru”, jelas Nirwan.

Tak hanya itu, menurutnya pemerintah saat ini belum dianggap bersungguh-sungguh mengatasi masalah literasi, karenanya relawan dan dermawan buku saling bergotong royong.

Penulis buku ternama Dewi Lestari saat berkunjung ke Melbourne juga pernah mengatakan tidak setuju jika dikatakan orang Indonesia tidak suka baca buku.

Di Desa Tino, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan gerakan pusataka bergerak baru dimulai pada bulan Juli 2019 lalu.

Teras Baca Sidenre digagas dan dikelola oleh Wiwik Wahyuni yang mengaku hanya memanfaatkan tempat seadanya, yakni lahan kosong di rumahnya sendiri.

“Anak-anak itu bukannya tidak tertarik pada membaca, tapi karena tidak ada fasilitas,” ujar Wiwik saat dihubungi ABC Indonesia lewat telepon.

Wiwik mengatakan awalnya ia mengajarkan kepada lima anak, termasuk keponakannya sendiri, tetapi dalam seminggu jumlahnya menjadi 45 anak.

Ia juga ingin memperkenalkan dasar-dasar bahasa Inggris lewat membaca buku, selain juga menggelar permainan dan menggambar.

Hal yang berbeda dilakukan oleh Bripka Akramuddin Duwila, seorang anggota polisi dari Polsek Waeapo, desa Gogrea, Maluku.

Sudah hampir tiga tahun ia membawa buku-buku berkeliling ke sekolah-sekolah dengan sepeda motornya.

“Saya ingin anak-anak di tempat saya ini pintar dan rajin belajar, sehingga kelak mereka bisa berprestasi dan berahlak mulia,” ujarnya.

Waktu berkunjung ke sekolah-sekolah biasanya adalah di waktu istirahat.

Modal awal untuk membeli buku-bukunya adalah dari uang pribadi, tapi sekarang ia juga sudah mendapatkan sumbangan buku dari Pustaka Bergerak Indonesia.

“Yang sekarang sedang kami butuhkan adalah buku untuk anak-anak, alat mewarnai, serta boks lebih besar untuk tempat buku.”

Akramuddin berharap akan lebih banyak kegiatan serupa di kabupaten Buru dan daerah lainnya dan bisa dilakukan secara berkelanjutan. (ABC News)/swh