LIGA INGGRIS: Krisis Otoritas “Setan Merah”

Gelandang Manchester United Paul Pogba menutupi kepalanya dengan kaus seusai laga Liga Inggris melawan Wolverhampton Wanderers di Stadion Molineux, yang berakhir 1-1 akibat eksekusi penaltinya ditepis oleh kiper Rui Patricio. (Sumber: Kompas/REUTERS/CARL RECINE)

Manchester United membuang peluang memuncaki klasemen Liga Inggris menyusul drama eksekusi penalti di laga kontra Wolverhampton Wanderes, Selasa dini hari WIB. MU butuh pemimpin kuat untuk kembali menjadi yang terhebat.

Wolverhampton, Baranews.co – Manchester United tidak diragukan telah menunjukkan loncatan performa di awal musim ini bersama manajer Ole Gunnar Solskjaer. Namun, tanpa otoritas atau kepemimpinan hebat seperti di masa silam, potensi bagus itu sulit membuahkan prestasi besar seperti trofi Liga Inggris.

Kekhawatiran itu terlihat nyata saat MU ditahan imbang tuan rumah Wolverhampton Wanderes 1-1 pada laga Liga Inggris di Stadion Molineux. MU sebetulnya berpeluang besar memenangi laga ini sekaligus mengakhiri rentetan mimpi buruk di Molineux dan memuncaki klasemen sementara Liga Inggris setelah mendapatkan hadiah penalti di menit ke-68 laga itu.

MU, tim termuda di Liga Inggris saat ini, bak tanpa pemimpin saat insiden penalti itu terjadi. Pogba dan rekannya, Marcus Rashford, sempat saling berargumen sebelum tendangan penalti itu dilakukan. Namun, karena merasa berperan di dalam penalti itu setelah dijatuhkan bek lawan di kotak terlarang, Pogba lantas memaksakan dirinya sebagai algojo.

Dia tidak peduli akan rekor buruknya mengeksekusi penalti akhir-akhir ini, yaitu tiga kali gagal sejak awal musim lalu. Padahal, rekannya yang lebih muda, Rashford, punya rekor penalti yang jauh lebih baik. Striker muda MU itu punya rekor seratus persen berhasil dalam urusan penalti, baik di MU maupun tim nasional Inggris. Rekor itu ia buktikan saat mencetak gol penalti kontra Chelsea pekan lalu.

Namun, statistik itu tidak digubris Pogba. Ia nekat mengambil penalti itu. Benar saja, ia gagal. Tendangannya ditepis kiper berpengalaman Wolves, Rui Patricio. Berbagai pihak, salah satunya Gary Neville—legenda MU—pun ramai-ramai menyoroti kegagalan penalti itu. Ia menilai bahwa drama pengambilan penalti itu sebagai hal yang memalukan dan tidak perlu terjadi di tim sebesar MU.

Cilakanya pula, Solskjaer yang merupakan pemegang “komando” di MU membiarkan drama tersebut. “Siapa yang mengambil penalti seharusnya sudah diputuskan di kamar ganti. Ini adalah laga MU, bukan pertandingan sepak bola usia lima tahun di sekolah,” ujar Neville ketus saat memandu laga itu di Sky Sports.

Mantan bek MU itu membandingkan situasi itu dengan era MU dahulu, yaitu ketika masih diasuh manajer legendaris, Sir Alex Ferguson. Di masa emas MU itu, Ferguson selalu rigid dalam menentukan algojo penalti. Tidak ada dualisme dalam pengambilan penalti. Hal serupa dilakukan manajer hebat lainnya, yaitu Juergen Klopp di Liverpool dan Pep Guardiola di Manchester City.

Di Liverpool misalnya, James Milner selalu dipercaya menjadi algojo utama. Jika ia tidak bermain, posisinya digantikan berurutan oleh Mohamed Salah dan Sadio Mane. “Penalti dan Liverpool adalah kombinasi yang bagus. Tidak seperti di MU saat ini,” ungkap Liverpool ikut menyindir MU lewat situs resminya.

Masalah laten

Pernyataan Solskjaer sesuai laga itu justru menegaskan masalah laten terkait eksekusi penalti itu di MU. Ia berkata, baik Pogba maupun Rashford sama-sama algojo yang ditunjuk untuk mengambil penalti. “Jadi, terserah mereka siapa yang mau mengambilnya (penalti). Itu biasanya tergantung kepercayaan diri dari pemain. Kami tidak akan mengganti hal itu,” tutur Solskjaer kemudian.

AFP/ PAUL ELLIS

Manajer Manchester United Ole Gunnar Solskjaer

Menurut Neville, insiden dalam pengambilan penalti itu menunjukkan masalah berupa krisis kepemimpinan di MU. Di masa lalu, hal itu tidak terjadi ketika MU memiliki sejumlah pemimpin kharismatik seperti Eric Cantona, Roy Keane, Neville, dan Nemanja Vidic. Saat ini, satu-satunya pemain senior yang paling didengar di MU adalah Ashley Young. Namun, ia jarang bermain. Di dua laga terakhir, ia bahkan hanya duduk di bangku cadangan tim.

Terlepas dari masalah itu, MU menunjukkan perkembangan positif di awal musim ini. Pada musim-musim sebelumnya, mereka kerap menderita di Molineux. Musim lalu misalnya, mereka dua kali kalah di Liga Inggris dan Piala FA dari klub asuhan manajer berbakat, Nuno Espirito Santo, itu. Namun, kali ini, mereka imbang dan nyaris menang setelah unggul lebih dulu lewat gol Anthony Martial.

“Ini (MU saat ini) adalah tim yang muda dan punya energi. Butuh tambahan dua atau tiga pemain berpengalaman untuk membuat mereka benar-benar bagus. Mereka berpeluang besar meraih hal besar dalam dua tahun ke depan,” tutur Neville kemudian. (AFP)/YULVIANUS HARJONO/Kompas Cetak