PENDIDIKAN: Peringkat PTN Diharapkan Naik dengan Bantuan Rektor Asing

Mohamad Nasir (kiri), Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. (Sumber: dw.xom)

Untuk meningkatkan peringkat PTN di dunia, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohammad Nasir, ingin mendatangkan rektor asing. Ide ini dilihat sebagai bentuk ketidakpercayaan atas SDM Indonesia.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir punya rencana mendatangkan rektor asing untuk memimpin perguruan tinggi negeri (PTN). Apakah tak ada lagi warga negara Indonesia (WNI) yang mampu menjadi rektor sehingga harus mendatangkan orang dari negeri seberang?

“Saya mau tanya, rektor mana yang sudah berhasil mengangkat ke kelas dunia?” kata Nasir kepada detikcom, Rabu (31/07) malam.

Rencana merekrut rektor asing dimaksudkan untuk meningkatkan peringkat PTN agar bisa menembus peringkat 100 besar dunia. Nasir punya keinginan, pada 2020 sudah ada PTN yang dipimpin rektor terbaik dari luar negeri dan pada 2024 jumlahnya ditargetkan meningkat menjadi lima PTN.

Karena Nasir menilai tak ada rektor Indonesia yang mampu mendongkrak ranking PTN Indonesia di kancah dunia, rektor asing pun diundang.

“Oleh karena itu, kita selama ini belum bisa men-challenge rektor di Indonesia belum bisa meningkatkan pe-ranking-an dunia,” kata Nasir.

Nasir tak meragukan kemampuan keilmuan putra-putri Indonesia. Namun, lewat kacamatanya, dia tak melihat ada akademisi Indonesia yang punya kepemimpinan mumpuni tingkat internasional.

“Kalau kemampuan di dalam masalah akademik mungkin okelah, tetapi dalam network dunia belum tentu punya network, leadership-nya belum tentu di kelas dunia,” kata Nasir.

Ide Nasir ini menjadi kontroversi. Wakil Ketua Komisi X DPR Reni Marlinawati melihat kemampuan akademis Indonesia sebetulnya mumpuni. Jadi, menurut Reni, tak perlu mendatangkan rektor asing. Gagasan mengundang rektor asing dinilainya sebagai bentuk ketidakpercayaan pemerintah atas SDM yang dimiliki anak bangsa.

“Banyak putra Indonesia lulusan kampus ternama di luar negeri dapat menjadi alternatif. Ini soal rasa kebangsaan yang terusik,” kata Reni, Selasa (30/07) kemarin. [(Ed: vv/ts)]detiknews/dw.com/swh