PSIKOLOGI: ‘Feedback’ di Tempat Kerja? Tidak Perlu Takut!

Ilustrasi (Sumber: dw.com)

Anda mungkin merasa tegang atau takut atas masukan di tempat kerja, terutama jika konotasinya negatif. Apa dampak pujian dan masukan negatif dalam dunia kerja?

Baranews.co – “Feedback” atau masukan di tempat kerja bisa menjadi sesuatu yang tidak nyaman bagi Anda ataupun atasan Anda. Hal itu sering kali dibandingkan dengan perasaan sebelum pergi mengunjungi dokter gigi.

Bagaikan tambalan gigi yang penting untuk menjaga senyuman Anda, maka “feedback” sangatlah penting untuk kesuksesan karier Anda.

Memang dalam banyak hal, apa yang kita butuhkan bukanlah selalu apa yang kita inginkan.

Mengapa kita begitu takut dengan “feedback”?

Seorang peneliti, Nikos Dimotakis mengatakan, “hal itu berkaitan dengan siapa diri kita”. Dia melanjutkan: “Manusia perlu merasakan bahwa mereka mereka memiliki hubungan dengan orang lain, serta bahwa mereka mandiri dan kompeten.”

Orang-orang bisa merasakan bahwa kebutuhan mereka terancam saat mereka mendapatkan feedback negatif, tutur Dimotakis, pengajar di bidang manajemen di Universitas Nebraska-Lincoln. Ia juga mengatakan feedback negatif „membuat kita merasa seolah-olah kita tidak disukai, seolah-olah kita tidak kompeten.”

Masukan positif, seperti pujian atau konfirmasi dari orang lain bisa meningkatkan percaya diri seseorang atas kemampuannya untuk berkembang, dibandingkan dengan masukan negatif ataupun kritik konstruktif. Itulah hasil sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Applied Psychology (Jurnal Psikologi Terapan), yang dilakukan oleh Dimotakis, Deb Mitchell dan Todd Maurer.

Dalam studi tersebut, masukan positif didefinisikan sebagai konfirmasi. Contohnya adalah saat seorang atasan memuji karyawannya yang melakukan pekerjaan dengan baik. Bentuk masukan lainnya, termasuk kritik konstruktif tergolong sebagai masukan negatif.

Para peneliti menemukan bahwa feedback konstruktif ternyata memiliki dampak negatif. Walaupun masukan tersebut disampaikan secara halus, perkataan itu tetap mengandung makna bahwa seseorang melakukan pekerjaanyang kurang baik, ujar Dimotakis. Masukan negatif bisa menumbuhkan perasaan kekurangan mendalam bagi seseorang, dan kadang bisa memicu krisis eksistensial yang membuat seseorang mempertanyakan kemampuannya dalam menyelesaikan sebuah tugas.

Lakukan dengan benar

Namun sulit untuk sebuah tempat kerja mempertahankan budaya saling memberikan masukan positif setiap saat. Bagaimana cara untuk memperbaikinya? Tidak ada seorang pun yang sempurna, dan kita tentu membutuhkan panduan. Feedback sangatlah penting untuk kelancaran operasi di sebuah organisasi hierarkis seperti di tempat kerja atau juga di dalam sebuah hubungan, tutur Dimotakis.

Jika kita tahu bahwa orang akan cenderung bereaksi secara negatif terhadap kritik konstruktif, bagaimana atasan-atasan dapat mengimbangi masukan negatif yang memang harus diberikan?

Menurut Dimotakis, mereka bisa mulai dengan memberikan masukan mengenai hal-hal yang bisa ditingkatkan.

Masukan yang kurang jelas seperti, „kamu harus fokus”  menurunkan semangat seseorang karena tidak ada solusi yang jelas untuk perbaikan kinerja seseorang.

„Feedback berkaitan dengan perilaku seseorang, bukan pribadinya”, tutur Dimotakis.

Oleh karena itu, jika seseorang terus menerus melakukan kesalahan dalam pekerjaan, akan lebih bijaksana bagi seorang atasan untuk mengingatkan karyawannya agar lebih teliti dan siap sebelum memulai pekerjaan agar mereka tidak merasa cemas atau terburu-buru saat bekerja. Berusahalah untuk tidak sekedar mengatakan bahwa mereka harus lebih fokus. Seorang pekerja akan merasa lebih bisa mengontrol situasi jika mereka mendapatkan masukan yang spesifik terhadap tugas mereka.

Situasi di tempat kerja juga mempengaruhi bagaimana seseorang memroses masukan. Kadang seorang karyawan merasa mereka tidak bisa menerapkan masukan yang mereka terima karena mereka tidak memiliki waktu atau solusi. Jika begitu, maka sang atasan harus bisa menjalin kepercayaan untuk memicu situasi kerja di mana komunikasi dapat dibangun secara baik dan karyawan juga merasa didukung untuk melakukan perbaikan.

Karyawan perlu merasa bahwa mereka berada di sebuah lingkungan kondusif, yang memungkinkan mereka untuk meminta masukan. Selain itu, para atasan juga harus bersedia untuk membantu karyawan mereka saat dibutuhkan, jelas Dimotakis.

Saatnya untuk berubah

Adakalanya seorang atasan ingin memberi masukan mengenai kepribadian sang karyawan dan bukan tingkah laku mereka. Sebagai contoh, seorang manajer sebuah restoran memberikan masukan kepada seorang karyawannya yang kompeten untuk tampil lebih ceria dan banyak bicara. Apabila karyawan tersebut adalah seorang pendiam, masukan tersebut akan sulit untuk diterapkan olehnya.

Bila seorang karyawan merasa tidak mampu untuk memenuhi masukan tersebut, Dimotakis menyarankan agar ia bertanya lebih lanjut mengenai solusi masukan tersebut atau mempertimbangkan pekerjaan lain yang lebih cocok dengan karakter dan kemampuan mereka. [vv/hp]/dw.com/swh